Guru Umar Bakri Kini dan Akan Datang

Umar Bakri adalah sesosok guru yang pantas diteladani oleh setiap guru. Itulah yang diilustrasikan dalam sebuah lagu yang berjudul “Umar Bakri”, yang dinyayikan dan dipopulerkan oleh Iwan fals. Dilihat dari isi lirik, sepertinya sang Penyanyi ingin memotivasi para guru agar meneladani sifat-sifat terpuji guru Umar Bakri.
Guru Umar Bakri merupakan salah satu contoh guru yang profesional. Masih adakah saat ini guru seperti Umar Bakri? Yang ikhlas mengajar dan mendidik para siswanya agar menjadi orang yang sukses dan berguna bagi nusa dan bangsa?
Menurut saya, memang sangat sulit menjadi guru yang profesional dan difavoritkan oleh siswa-siswanya. Namun, tidakkah seorang guru berusaha untuk mengarah menjadi guru yang profesional? Seperti orang bijak berkata, lebih baik mencoba “tidak mengapa” daripada “mengapa tidak mencoba?”

Pelaksanaan tahap awal untuk menjadi seorang guru yang profesional adalah menerapkan kemampuan dan keprofesionalismean guru (pendidik), dan diiringi potensi serta daya tangkap kritis para peserta didik (siswanya). Namun kali ini, sesuai tema, saya akan menguraikan cara menjadikan seorang guru itu profesional. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang sangat berperan penting dalam pola pembinaan, pengajaran, pembimbingan, dan pengembangan. Semua pola tersebut merupakan tanggung jawab penuh seorang guru, sehingga benar-benar mampu mencetak siswa yang tangguh dan terampil di segala bidang.
Kita tahu bahwa pendidikan di masa ini dipandang kurang relevan dengan pembangunan. Hal ini menyebabkan lembaga pendidikan kita tidak mampu sejajar dengan lembaga pendidikan yang ada di Negara-negara berkembang. Namun, sebagai guru sebaiknya jangan langsung pantang menyerah dan cepat putus asa. Sekalipun tantangan guru di masa depan lebar membentang, akan tetapi semangat dan cita-cita guru to teach how to learn kepada peserta didik harus tetap tertanam dalam sanubari.

Berikut ini sumbangsih pemikiran saya, berupa kiat-kiat sukses untuk menjadi seorang guru yang profesional, yaitu sebagai berikut.
(1) Dahulu orang gandrung meningkatkan IQ (Intellegent Quotient), sekarang dibutuhkan lagi dua jenis kualitas diri. Bukan hanya trend, tapi wajib dimiliki oleh semua insan manusia (terlebih guru), yaitu menerapkan EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient). Jadi, guru tersebut akan cerdas secara emosional dan spiritual.
(2) Niatkan pada diri sendiri untuk benar-benar mengabdikan diri menjadi guru yang amanah. Kemudian, jadikanlah kritik dari berbagai pihak sebagai dorongan untuk mencari cara baru yang lebih efektif dalam pembelajaran.
(3) Berupaya keras dan pantang menyerah untuk maju dari ketertinggalan pendidikan (pengetahuan) diri pribadi, sekolah, kota, bahkan maju dari ketertinggalan pendidikan bangsa kita, agar mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya.
(4) Berusaha menghormati pribadi siswa dan menjauhkan mereka dari berbagai keluhan, frustasi dan konflik. Bersikap ramah dan berpikir kritis untuk menyelesaikan masalah mereka, sehingga tidak mengganggu pikiran siswa ketika menerima pelajaran di kelas. Guru dan siswa sebaiknya saling Take and give (berbagi) dan berperan aktif sesuai “tupoksi” (tugas pokok dan fungsinya) serta kewajibannya masing-masing.
(5) Rancanglah metode pembelajaran lebih awal, sehari sebelum mengajar di kelas. Mengupayakan agar pelajaran yang akan diajarkan telah dikuasai penuh oleh guru, kemudian menyampaikannya dengan cara menyenangkan dan tidak menyulitkan para siswa. Makin berharga suatu pelajaran, maka makin banyak kesulitan yang harus dilalui oleh seorang guru dan siswa untuk menguasainya. Hal ini tidak berarti pelajaran harus dibuat sulit agar ada nilainya. Namun, menjadi cara guru untuk mengajarkan kepada siswa agar mempelajari banyak hal dan mampu menghadapi kesukaran-kesukaran yang baru.
(6) Saat mengajar kepada siswa di kelas, ciptakanlah suasana kondusif yang menjadikan siswa itu tertantang dan menyadari pentingnya ilmu-ilmu pelajaran yang guru ajarkan. Sesuaikan kondisi, kapan saat guru harus bercanda (melucu dan mengajak siswa tertawa), dan kapan saat guru harus mengajak siswanya untuk serius di kelas. Jadi, guru tahu benar, cara mengefesiensikan waktu yang ada, dan tidak mengajak ke hal-hal yang merugikan siswanya.
(7) Seorang guru harus mampu rela berkorban, memiliki kedisiplinan diri (self dicipline) agar tepat waktu memasuki kelas untuk mengajar dan dapat saling mengingatkan, menasehati dan share (berbagi) kepada siswanya menuju paradigma pendidikan yang lebih baik dan maju.
(8) Segala isi petuah dan nasehat guru kepada siswa-siswanya, harus diaktualisasikan terlebih dahulu oleh guru itu sendiri dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Dengan kata lain, tingkah laku guru yang baik, pasti akan menjadi keteladanan atau contoh yang baik bagi para siswanya.
(9) Guru tidak hanya menguasai ilmu yang diajarkannya, tetapi juga menguasai ilmu-ilmu penting yang menjadi nilai plus baginya, misalnya mempelajari bahasa asing, menguasai IPTEK/TI (dunia komputer dan internet), dan kreativitas lainnya sesuai kemampuan yang ada pada guru tersebut. Dua kegiatan yang tak boleh terlupakan untuk dikembangkan oleh guru, yaitu menulis dan meneliti, sehingga memacu guru akan terus membaca dan melakukan refleksi pada setiap kegiatan pembelajaran.
(10) Guru harus mempunyai sifat tegas, jujur, adil, bijaksana dan memenuhi hak dan kewajiban yang selaras, mendahulukan kepentingan orang banyak (prioritas), halus dan sopan dalam bertutur kata, kemudian wajah diperamah dengan senyum ketika menatap wajah-wajah yang mengharap perhatian penuh (siswa) dari guru tercintanya. Tentu tidak ada seorang pun siswa yang akan menjauhi, menakuti, bahkan membenci gurunya tersebut.

Namun, alangkah indah dan sinergisnya sasaran kita untuk memajukan pendidikan di Indonesia, bila poin-poin di atas didukung dengan reaktualisasi (pembaharuan) peran siswa yang sesungguhnya, yaitu siswa yang penuh kesadaran, inisiatif dan tanggung jawab tinggi yang tentunya telah dibekali oleh keikhlasan, budi pekerti dan moral yang baik. Mengapa saya katakan seperti ini? Jawabannya karena, sesungguhnya suatu sekolah hanya bertindak sebagai sarana pusat pengembangan dan pembinaan, sedangkan guru sebagai tutor (orang yang memfasilitasi) peserta didiknya. Jadi, siswalah yang sebenarnya harus tanggap, taat dan patuh. Dan dapat saya simpulkan bahwa maju mundurnya suatu sekolah bergantung pada kedua unsur di atas, yaitu adanya pembinaan guru profesional (pihak sekolah) dan kesadaran siswa itu sendiri.
Jika hal ini benar-benar sudah terwujud dan sudah menjadi suatu kebiasaan, Insya Allah di masa sekarang dan yang akan datang dapat mencetak bibit-bibit siswa unggul yang dapat tampil di masyarakat sebagai insan yang beriman dan bertakwa, terampil dan tentunya berakhlak mulia, berkat guru profesional dan bertanggung jawab.
Akhir kata penulis, “hidup guruku! Hidup sosok guru Umar Bakri di masa kini dan akan datang! Jadilah guru ideal, profesional, dan favorit bagi para siswa…..!”

4 thoughts on “Guru Umar Bakri Kini dan Akan Datang

  1. Guru saya pernah berkata saat dikelas mereka sangat marah karena muridnya susah di atur dan jarang masuk.tidak hanya satu guru yang berkata demikian tapi hampir banyak guru yang berkata demikian.

    ” Terserah kalian saja mau belajar terserah, mau ga belajar juga ga papa kami tetap di gajih meskipun kalian tidak ada juga, malah beruntung kami gak usah cape cape”

    • Semstinya seorg guru tak boleh berkata seperti itu di depan siswa.
      Hmmm, mungkin saking jengkel n marahnya pada siswanya jadinya emosian…
      Lagipula, siswanya gak bisa diatu sih😀

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s