Keluarlah Dari Pembelajaran Gaya Bank

By: Asri Djalil, S.Pd
Dalam sebuah proses pendidikan, utamanya pendidikan formal, yang memegang peranan lebih penting adalah guru/pendidik. Dominasi guru yang dimaksudkan adalah karena besarnya tanggung jawab seorang guru dalam mendidik anak bangsa. Tetapi dalam proses pembelajaran, dominasi guru sehrusnya dikurangi sebab bila dominasinya lebih besar, akan mewujudkan sebuah model pembelajaran gaya bank. Pembelajaran gaya bank tersebut tidak bisa lagi diterapkan dewasa ini, terutama setelah kurikulum baru diterapkan yaitu kurikulum berbasis kompetensi (KBK).

Apa bila pembelajaran gaya bank tersebut oleh guru masih dipertahankan dan dijadikan sebagai andalan, maka para siswa seperti dipenjarakan (terkungkung dengan sistem yang kaku. Pelajar tidak mendapat ruang dan waktu untuk mengimplementasikan kemampuan yang mereka telah miliki. Satu contoh misalnya, pada pembelajran Bahasa Indonesia, para siswa kurang mendapat kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan mereka berekspresi melalui empat ketrampilan berbahasa. Sementara pembelajaran bahasa Indonesia untuk KBK mengharuskan siswanya untuk dapat mengimplementasikan kemampuan mereka membaca, menyikak, berbicara, dan juga menulis. Demikian pula pembelajaran untuk pelajaran lainnya, tidak bisa lagi secara total para guru hanya mencekoki pelajar dengan teori-teori atau materi bersifat hapalan, melainkan lebih mengarah pada praktisnya belajar nyata.
Selama ini, masih ada guru yang melaksanakan pembelajaran dengan sedikit bergaya bank. Masih berat untuk meninggalkan dominasinya sebagai guru dengan gaya lama yang tidak pantas lagi digunakn saat ini. Malah masih ada guru yang melakukan apersepsi dengan marah-marah terlebih dahulu beberapa menit baru memulai pembelajaran. Apersepsi memang perlu tetapi bukan dengan ceramah yang manfaatnya kecil. Melainkan sebagai langkah awal untuk pengarahkan perhatian pelajar terhadap pelajaran pada saat itu. Marah bukanlah sebuah apersepsi, karena dengan marah hanya akan membuyarkan konsentrasi pelajar yang mereka telah bangun sebelum guru memulai pembelajaran. Munculah proses mengajar, bukan pembelajaran.
Pembelajaran yang gurunya berperan memberi dan pelajar menerima tanpa keterlibatan siswa berperan dalam proses, itulah yang dinamakan pengjaran, yang oleh Freire (2002) disebutnya sebagai pembelajaran gaya bank.

Ciri-ciri pembelajaran gaya bank yaitu : 1) guru mengajar siswa belajar. 2) guru tahu segalanya, siswa tidak tahu apa-apa. 3) guru berpikir, siswa dipikirkan. 4) guru bicara, siswa mendengarkan. 5) guru mengatur, siswa diatur, 6) guru memilih dengan paksa, siswa menuruti. 7) guru bertindak, siswa membayangkan bagaimana bertindak sesuai tindakan guru. 8) guru memilih apa yang diajarkan, siswa menyesuikan diri. 9) guru sebagai subjek, siswa adalah objeknya. Pembelajaran gaya bank inilah yang disebut model pembelajaran dominasi, bukan pembelajaran demokratis. Guru pada pembelajaran gaya tersebut membuat jurang pemisah antara dirinya sebagai guru dengan para siswanya. Namun pada kurikulum berbasis kompetensi gaya bank sama sekali tidak boleh dipergunakan lagi. Pembelajaran dalam KBK diarahkan pada keterlibatan para pelajar secara langsung dalam kegitan belajar nyata, terwujudnya proses belajar yang mengutamakan sinergisnya kemampuan kognisi, psikomotorik, dan afektif para siswa. Pembelajaran adalah suatu proses dari sebuah pabrik yang bernama sekolah dan pelajar adalah bagaikan raw-input. Sedangkan guru sebagai instrumental input. Disinilah peranan guru sebagai manejerial, fasilitator, motivator, dan mediator, sekaligus sebagai agen pembelajaran. Dan tentunya harus diikuti dengan sikap ramah dan menyenangkan bagi para siswanya.

Faktor guru memang dipandang sebagai penentu keberhasilan sebuah pembelajaran, karena gurulah yang berhadapan secara langsung dengan siswa ketika proses pembeljaran berlangsung. Dengan peranan yang sangat penting tersebut, maka guru harus mampu mengikuti dan memahami perubahan paradigma baru pendidikn secara umum, dan pembeljaran secara khusus, sehingga dalam mendidik dan membelajarkan pelajar tidak lagi bergaya bank. Harus mampu memahami pelajar sebagai mahluk individu yang memiliki pengetahuan dan wawasan luas, memahami siswa sebagai anggota masyarakat yang memiliki status sosial dengan keberagaman dimensi yang mereka miliki alam.

Dalam konteks inilah, wajib baginya memiliki dan terus meningkatkan kemampuan profesionalismenya melalui tiga unsur pokok , yaitu : 1) mematangkan Intelektual Quotient (IQ), 2) mematangkan Emosional Quotient (EQ), 3) mematangkan Spiritual Quotient (SQ), sehingga benar-benar menjadi agen pembelajaran profesional, bertanggung jawab, handal dan terpecaya, serta mampu bersaing secara global. Jika ketiga unsurpokok tersebut dimiliki dan menyatu dalam diri seorang guru, pembelajaran dilaksanakan kapan dan di manapun akan pasti akan mewujudkan proses Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan atau yang lebih sering disingkat (PAIKEM).

Berusaha melepaskan diri dari kebiasan buruk, dengan menganggap pelajar sebagai objek pembelajaran yang tidak tahu apa-apa, adalah langkah yang tepat untuk mewujudkan pembelajaran yang baik.
Untuk mengoptimalkan peran guru dalam pembelajran yang nyata, maka seorang guru harus menjadi pengelola pembelajaran berbasis kelas. Secara otomatis seorang guru berbagai hal tentang sekolah, kelas, dan lebih-lebih lagi siswanya. Harus dipahami bahwa setiap pelajar memiliki potensi yang besar. Tetapi hingga saat ini potensi pelajar hanya tinggal potensi. Sebagian besar pelajar belum bisa menggunakan dan memanfaatkan kehebatan potensi yang mereka miliki. “Orang secerdas Einstein saja, konon baru berhasil mengaktualkan potensi otaknya 20%”.

“Sangat disayangkan, pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah-sekolah oleh guru kita tampaknya lebih banyak menghambat daripada memotivasi potensi otak para pelajar. Lebih fatalnya lagi, potensi itu tidak hanya tidak termotivasi, malah diplester rapat-rapat sehingga – potensi tersebut – tidak bisa mengaktual”. (Indra Djati Sidi, 2001) Kenyataan yang diunkapkan teresut dapat dibenarkan karena proses pembelajaran yang diterapkan menggunakan gaya bank, bukan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Imbasnya adalah para siswa tidak mampu mengaktivasi kemampuan otaknya. Sehingga mereka tidak memiliki kebaranian, dan selalu tergantung pada orang lain.

Budaya dan mental para pelajar yang diungkapkan di atas berkorelasi dengan budaya dan mental masyarakat luas. Belum bisa berpikir mandiri, sehingga budaya “mohon petunjuk” selalu saja muncul ketika sesorang diserahi tugas atau pekerjaan. Inilah hasil dari pembelajaran gaya bank. Dan kondisi nyata inilah yang mengilhami penulis mengangkat tema pembelajaran gaya bank.
Bagai mana caranya keluar dari pembelajaran gaya bank?

Kita hendaknya segerah mengubah pardigma dari mengajar ke belajar (dari teching menjadi learning). Ada empat pintu yang bisa dijadikn jalur untuk mengimplementasikan belajar dan pembelajaran, yaitu ; 1) learning to thing (belajar berpikir), 2) learning to do (belajar berbuat/hidup), 3) learning to live together (belajar hidup bersama), 4) learning to be (belajar menjadi diri sendiri). Agaknya keempat pintu tersebut sangat tepat dijadikan pintu keluar dari pengajaran gaya bank tersebut. Sehingga anak didik tidak lagi mengalami sisksaan dalam penjara dunia pendidikan kita seperti yang kemarin-kemarin. Biarlah yang lalu menjadi pelajaran buat kita dan menjadi kenangan.

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s