yang Didambakan dari Sebuah Pernikahan

بسم الله الرحمن الرحيم

عَنْ عُثْمَانَ بنِ عَفَّان  رَضِيَ اللَّهُ تعالى عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Dari Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata: bersabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari AlQur’an dan mengajarkannya”. (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari Rahimahullahu Ta’ala).

 

Visi  Keluarga :

Menjadi Keluarga yang senantiasa Mempelajari dan Mengajarkan Al Qur’an dan Hadist.

Misi Keluarga :

  1. Mewujudkan kultur keluarga yang menjungjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam Al Qur’an dan Hadist.
  2. Menumbuhkan kesadaran anggota keluarga untuk mengaplikasikan nilai-nilai Al Qur’an  dan Hadist dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Menumbuhkan semangat membaca dan menghafal Al Quran dan Hadist.
  4. Membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah.

HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTRI DLM ISLAM

HAK BERSAMA SUAMI ISTRI
1. Suami istri, hendaknya saling menumbuhkan suasana mawaddah dan rahmah. (Ar-Rum: 21).
2. Hendaknya saling mempercayai dan memahami sifat masing-masing pasangannya. (An-Nisa’: 19 – Al-Hujuraat: 10)
3. Hendaknya menghiasi dengan pergaulan yang harmonis. (An-Nisa’: 19)
4. Hendaknya saling menasehati dalam kebaikan. (Muttafaqun Alaih)

HAK DAN KEWAJIBAN  SUAMI KEPADA ISTRI

  1. Suami hendaknya menyadari bahwa istri adalah suatu ujian dalam menjalankan agama. (At-aubah: 24)
  2. Seorang istri bisa menjadi musuh bagi suami dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya. (At-Taghabun: 14)
  3. Hendaknya senantiasa berdo’a kepada Allah meminta istri yang sholehah. (AI-Furqan: 74)
  4. Diantara kewajiban suami terhadap istri, ialah: Membayar mahar, Memberi nafkah (makan, pakaian, tempat tinggal), Menggaulinya dengan baik, Berlaku adil jika beristri lebih dari satu. (AI-Ghazali)
  5. Jika istri berbuat ‘Nusyuz’, maka dianjurkan melakukan tindakan berikut ini secara berurutan: (a) Memberi nasehat, (b) Pisah kamar, (c) Memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan. (An-Nisa’: 34) … ‘Nusyuz’ adalah: Kedurhakaan istri kepada suami dalam hal ketaatan kepada Allah.
  6. Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah, yang paling baik akhlaknya dan paling ramah terhadap istrinya/keluarganya. (Tirmudzi)
  7. Suami tidak boleh kikir dalam menafkahkan hartanya untuk istri dan anaknya.(Ath-Thalaq: 7)
  8. Suami dilarang berlaku kasar terhadap istrinya. (Tirmidzi)
  9. Hendaklah jangan selalu mentaati istri dalam kehidupan rumah tangga. Sebaiknya terkadang menyelisihi mereka. Dalam menyelisihi mereka, ada keberkahan. (Baihaqi, Umar bin Khattab ra., Hasan Bashri)

10.  Suami hendaknya bersabar dalam menghadapi sikap buruk istrinya. (Abu Ya’la)

11.  Suami wajib menggauli istrinya dengan cara yang baik. Dengan penuh kasih sayang, tanpa kasar dan zhalim. (An-Nisa’: 19)

12.  Suami wajib memberi makan istrinya apa yang ia makan, memberinya pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menghinanya, dan tidak berpisah ranjang kecuali dalam rumah sendiri. (Abu Dawud).

13.  Suami wajib selalu memberikan pengertian, bimbingan agama kepada istrinya, dan menyuruhnya untuk selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (AI-Ahzab: 34, At-Tahrim : 6, Muttafaqun Alaih)

14.  Suami wajib mengajarkan istrinya ilmu-ilmu yang berkaitan dengan wanita (hukum-hukum haidh, istihadhah, dll.). (AI-Ghazali)

15.  Suami wajib berlaku adil dan bijaksana terhadap istri. (An-Nisa’: 3)

16.  Suami tidak boleh membuka aib istri kepada siapapun. (Nasa’i)

17.  Apabila istri tidak mentaati suami (durhaka kepada suami), maka suami wajib mendidiknya dan membawanya kepada ketaatan, walaupun secara paksa. (AIGhazali)

18.  Jika suami hendak meninggal dunia, maka dianjurkan berwasiat terlebih dahulu kepada istrinya. (AI-Baqarah: ?40)

HAK DAN KEWAJIBAN ISTRI KEPADA SUAMI

  1. Hendaknya istri menyadari clan menerima dengan ikhlas bahwa kaum laki-Iaki adalah pemimpin kaum wanita. (An-Nisa’: 34)
  2. Hendaknya istri menyadari bahwa hak (kedudukan) suami setingkat lebih tinggi daripada istri. (Al-Baqarah: 228)
  3. Istri wajib mentaati suaminya selama bukan kemaksiatan. (An-Nisa’: 39)
  4. Diantara kewajiban istri terhadap suaminya, ialah: a. Menyerahkan dirinya, b. Mentaati suami, c. Tidak keluar rumah, kecuali dengan ijinnya, d. Tinggal di tempat kediaman yang disediakan suami, e. Menggauli suami dengan baik. (Al-Ghazali)
  5. Istri hendaknya selalu memenuhi hajat biologis suaminya, walaupun sedang dalam kesibukan. (Nasa’ i, Muttafaqun Alaih)
  6. Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur untuk menggaulinya, lalu sang istri menolaknya, maka penduduk langit akan melaknatnya sehingga suami meridhainya. (Muslim)
  7. Istri hendaknya mendahulukan hak suami atas orang tuanya. Allah swt. mengampuni dosa-dosa seorang Istri yang mendahulukan hak suaminya daripada hak orang tuanya. (Tirmidzi)
  8. Yang sangat penting bagi istri adalah ridha suami. Istri yang meninggal dunia dalam keridhaan suaminya akan masuk surga. (Ibnu Majah, TIrmidzi)
  9. Kepentingan istri mentaati suaminya, telah disabdakan oleh Nabi saw.: “Seandainya dibolehkan sujud sesama manusia, maka aku akan perintahkan istri bersujud kepada suaminya. .. (Timidzi)

10.  Istri wajib menjaga harta suaminya dengan sebaik-baiknya. (Thabrani)

11.  Istri hendaknya senantiasa membuat dirinya selalu menarik di hadapan suami(Thabrani)

12.  Istri wajib menjaga kehormatan suaminya baik di hadapannya atau di belakangnya (saat suami tidak di rumah). (An-Nisa’: 34)

13.  Ada empat cobaan berat dalam pernikahan, yaitu: (1) Banyak anak (2) Sedikit harta (3) Tetangga yang buruk (4) lstri yang berkhianat. (Hasan Al-Bashri)

14.  Wanita Mukmin hanya dibolehkan berkabung atas kematian suaminya selama empat bulan sepuluh hari. (Muttafaqun Alaih)

15.  Wanita dan laki-laki mukmin, wajib menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya. (An-Nur: 30-31)

ISTRI SHOLEHAH

  1. Apabila’ seorang istri, menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramddhan, memelihara kemaluannya, dan mentaati suaminya, niscaya Allah swt. akan memasukkannya ke dalam surga. (Ibnu Hibban)
  2. Istri sholehah itu lebih sering berada di dalam rumahnya, dan sangat jarang ke luar rumah. (Al-Ahzab : 33)
  3. Istri sebaiknya melaksanakan shalat lima waktu di dalam rumahnya. Sehingga terjaga dari fitnah. Shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih utama daripada shalat di masjid, dan shalatnya wanita di kamarnya lebih utama daripada shalat di dalam rumahnya. (lbnu Hibban)
  4. Hendaknya menjadikan istri-istri Rasulullah saw. sebagai tauladan utama.

Sumber http://www.facebook.com/note.php?note_id=194244149576&id=1766268047&ref=nf

TENTANG ANAK

Setiap orang yang menikah pasti ingin memiliki anak. Dengan menikah –dengan izin Allah— ia akan mendapatkan keturunan yang shalih, sehingga menjadi asset yang sangat berharga karena anak yang shalih akan senantiasa mendo’akan kedua orang tuanya, serta dapat menjadikan amal bani Adam terus mengalir meskipun jasadnya sudah berkalang tanah di dalam kubur.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

 

“Artinya : Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya.” [7]

 

Menikah Dapat Menjadi Sebab Semakin Banyaknya Jumlah Ummat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam Termasuk anjuran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah menikahi wanita-wanita yang subur, supaya ia memiliki keturunan yang banyak.

 

Seorang yang beriman tidak akan merasa takut dengan sempitnya rizki dari Allah sehingga ia tidak membatasi jumlah kelahiran. Di dalam Islam, pembatasan jumlah kelahiran atau dengan istilah lain yang menarik (seperti “Keluarga Berencana”) hukumnya haram dalam Islam. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam justru pernah mendo’akan seorang Shahabat beliau, yaitu Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, yang telah membantu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun dengan do’a:

 

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya dan berkahilah baginya dari apa-apa yang Engkau anugerahkan padanya.” [8]

 

Dengan kehendak Allah, dia menjadi orang yang paling banyak anaknya dan paling banyak hartanya pada waktu itu di Madinah. Kata Anas, “Anakku, Umainah, menceritakan kepadaku bahwa anak-anakku yang sudah meninggal dunia ada 120 orang pada waktu Hajjaj bin Yusuf memasuki kota Bashrah.”

 

Semestinya seorang muslim tidak merasa khawatir dan takut dengan banyaknya anak, justru dia merasa bersyukur karena telah mengikuti Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Allah ‘Azza wa Jalla akan memudahkan baginya dalam mendidik anak-anaknya, sekiranya ia bersungguh-sungguh untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Bagi Allah ‘Azza wa Jalla tidak ada yang mustahil.

 

Di antara manfaat dengan banyaknya anak dan keturunan adalah:

1. Mendapatkan karunia yang sangat besar yang lebih tinggi nilainya dari harta.

2. Menjadi buah hati yang menyejukkan pandangan.

3. Sarana untuk mendapatkan ganjaran dan pahala dari sisi Allah.

4. Di dunia mereka akan saling menolong dalam ke-bajikan.

5. Mereka akan membantu meringankan beban orang tuanya.

6. Do’a mereka akan menjadi amal yang bermanfaat ketika orang tuanya sudah tidak bisa lagi beramal (telah meninggal dunia).

7. Jika ditakdirkan anaknya meninggal ketika masih kecil/belum baligh –insya Allah- ia akan menjadi syafa’at (penghalang masuknya seseorang ke dalam Neraka) bagi orang tuanya di akhirat kelak.

8. Anak akan menjadi hijab (pembatas) dirinya dengan api Neraka, manakala orang tuanya mampu men-jadikan anak-anaknya sebagai anak yang shalih atau shalihah.

9. Dengan banyaknya anak, akan menjadi salah satu sebab kemenangan kaum muslimin ketika jihad fi sabilillah dikumandangkan karena jumlahnya yang sangat banyak.

10. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bangga akan jumlah ummatnya yang banyak.

 

Anjuran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ini tentu tidak bertentangan dengan manfaat dan hikmah yang dapat dipetik di dalamnya. Meskipun kaum kafir tiada henti-hentinya menakut-nakuti kaum muslimin sepuaya mereka tidak memiliki banyak anak dengan alasan rizki, waktu, dan tenaga yang terbatas untuk mengurus dan memperhatikan mereka. Padahal, bisa jadi dengan adanya anak-anak yang menyambutnya ketika pulang dari bekerja, justru akan membuat rasa letih dan lelahnya hilang seketika. Apalagi jika ia dapat bermain dan bersenda gurau dengan anak-anaknya. Masih banyak lagi keutamaan memiliki banyak anak, dan hal ini tidak bisa dinilai dengan harta.

 

Bagi seorang muslim yang beriman, ia harus yakin dan mengimani bahwa Allah-lah yang memberikan rizki dan mengatur seluruh rizki bagi hamba-Nya. Tidak ada yang luput dari pemberian rizki Allah ‘Azza wa Jalla, meski ia hanya seekor ikan yang hidup di lautan yang sangat dalam atau burung yang

terbang menjulang ke langit. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

 

“Artinya : Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rizkinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” [Huud : 6]

 

Pada hakikatnya, perusahaan tempat bekerja hanyalah sebagai sarana datangnya

rizki, bukan yang memberikan rizki. Sehingga, setiap hamba Allah ‘Azza wa Jalla diperintahkan untuk berusaha dan bekerja, sebagai sebab datangnya rizki itu dengan tetap tidak berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam usahanya mencari rizki. Firman Allah ‘Azza wa Jalla:

 

Artinya : “Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” [Ath-Thalaq : 4]

 

Jadi, pada dasarnya tidak ada alasan apa pun yang membenarkan seseorang membatasi dalam memiliki jumlah anak, misalnya dengan menggunakan alat kontrasepsi, yang justru akan membahayakan dirinya dan suaminya, secara medis maupun psikologis

 

 

APABILA BELUM DIKARUNIAI ANAK

 

Allah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, Mahaadil, Maha Mengetahui, dan Mahabijaksana meng-anugerahkan anak kepada pasangan suami isteri, dan ada pula yang tidak diberikan anak. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

 

“Artinya : Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan

mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.”

[Asy-Syuuraa : 49-50]

 

Apabila sepasang suami isteri sudah menikah sekian lama namun ditakdirkan oleh Allah belum memiliki anak, maka janganlah ia berputus asa dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. Hendaklah ia terus berdo’a sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam dan Zakariya ‘alaihis salaam telah berdo’a kepada Allah sehingga Allah ‘Azza wa Jalla mengabulkan do’a mereka.

 

Do’a mohon dikaruniai keturunan yang baik dan shalih terdapat dalam Al-Qur’an, yaitu:

 

“Ya Rabb-ku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.” [Ash-Shaaffaat : 100]

 

“…Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.” [Al-Furqaan : 74]

 

“…Ya Rabb-ku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkau-lah ahli waris yang terbaik.” [Al-Anbiyaa’ : 89]

 

“…Ya Rabb-ku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar do’a.” [Ali ‘Imran : 38]

 

Suami isteri yang belum dikaruniai anak, hendaknya ikhtiar dengan berobat secara medis yang dibenarkan menurut syari’at, juga menkonsumsi obat-obat, makanan dan minuman yang menyuburkan. Juga dengan meruqyah diri sendiri dengan ruqyah yang diajarkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan terus menerus istighfar (memohon ampun) kepada Allah atas segala dosa. Serta senantiasa berdo’a kepada Allah di tempat dan waktu yang dikabulkan. Seperti ketika thawaf di Ka’bah, ketika berada di Shafa dan Marwah, pada waktu sa’i, ketik awuquf di Arafah, berdo’a di sepertiga malam yang akhir, ketika sedang berpuasa, ketika safar, dan lainnya.[10]

 

Apabila sudah berdo’a namun belum terkabul juga, maka ingatlah bahwa semua itu ada hikmahnya. Do’a seorang muslim tidaklah sia-sia dan Insya Allah akan menjadi simpanannya di akhirat kelak.

 

Janganlah sekali-kali seorang muslim berburuk sangka kepada Allah! Hendaknya ia senantiasa berbaik sangka kepada Allah. Apa yang Allah takdirkan baginya, maka itulah yang terbaik. Allah Maha Mengetahui, Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya, Mahabijaksana dan Mahaadil.

 

Bagi yang belum dikaruniai anak, gunakanlah kesempatan dan waktu untuk berbuat banyak kebaikan yang sesuai dengan syari’at, setiap hari membaca Al-Qur-an dan menghafalnya, gunakan waktu untuk membaca buku-buku tafsir dan buku-buku lain yang bermanfaat, berusaha membantu keluarga, kerabat terdekat, tetangga-tetangga yang sedang susah dan miskin, mengasuh anak yatim, dan sebagainya.

 

Mudah-mudahan dengan perbuatan-perbuatan baik yang dikerjakan dengan ikhlas mendapat ganjaran dari Allah di dunia dan di akhirat, serta dikaruniai anak-anak yang shalih.

 

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah,  penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Putaka A-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa’dah 1427H/Desember 2006]

http://www.mail-archive.com/daarut-tauhiid@yahoogroups.com/msg02534.html

 

 

 

 

 

Jihad dan Dakwah Islamiyah

Setali mata uang, jihad dan dakwah islamiyah merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan antara keduanya. Dakwah tak dapat tegak tanpa jihad dan jihad tak akan ada tanpa dakwah. Mencoba menghilangkan salah satu dari keduanya sama saja memisahkan ruh dan jasadnya. Ruh tanpa jasad tak akan terlihat wujudnya dan jasad tanpa ruh takkan dapat tegak.

Sesungguhnya Allah menegakkan agama islam dengan hujjah (bukti) dan pedang. Mencoba mengkaji lebih dalam akan kita dapati jihad memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap dakwah islamiyah. Di antaranya:

  1. Melindungi kebebasan penyebaran dakwah

Perang dalam islam bukanlah alat atau saran untuk menyebarkan dakwah, tetapi untuk melindungi kebebasan penyebaran dakwah. Sebab penyebaran dakwah hanya dengan kekuatan berarti merupakan pemaksaan. Allah berfirman: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al Baqarah: 256)

Andaikata penyebaran Dienul Islam dititikberatkan dengan pedang dan ombak pengikutnya, niscaya kekuasaannya akan lenyap dari hati seiring dengan lenyapnya kekuasaan daulahnya dan saat mereka dikalahkan.

Akan tetapi perang dalam islam adalah melindungi akidah, melindungi kebebasan penyebaran dakwahnya kepada umat manusia, menolak agresi dari luar terhadap negeri-negeri islam.

  1. Sesungguhnya Allah menjadikan jihad sebab untuk menegakkan agama ini dan sebab untuk kebaikan bumi. Allah berfirman:

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ (البقرة: 251)

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.“ (QS. Al Baqoroh: 251)

Allah juga menjelaskan bahwa kalau bukan jihad kaum muslimin kepada orang kafir tentu akan rusak bumi ini dan mereka akan menghancurkan masjid-masjid Allah. Allah berfirman:

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ فِيهَا اسْمُ اللَّهِ كَثِيرًا وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (الحج: 40)

“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hajj: 40)

Lantas bagaimana mungkin sebab utama untuk menegakkan agama dan perbaikan bumi ditolak?

  1. Allah mengutus rasul-Nya dengan kitab dan Allah menurunkan besi untuk menjaganya.

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hadiid: 25)

Menafsiri ayat tersebut Ibnu Katsir berkata: “Dan Kami jadikan besi untuk memaksa bagi yang enggan terhadap kebenaran dan menentangnya setelah tegaknya hujjah atasnya. Oleh karenanya Rasulullah saw menetap di Makkah 13 tahun setelah nubuwah. Diwahyukan kepada beliau surat-surat Makiyah. Semuanya berisi untuk mendebat kaum musyrikin dan penjelasan tauhid, dan dalil-dalilnya. Maka ketika hujjah telah tegak atas mereka maka Allah menyariatkan hijrah dan memerintahkan jihad dengan pedang untuk memenggal leher-leher mereka yang menentang al-Qur’an, mendustakannya serta memeranginya.[1]

Kemudian beliau menyitir sabda rasulullah `:

عن ابن عمر قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “بُعِثتُ بالسيف بين يَدَي الساعة حتى يُعبَد الله وحده لا شريك له، وجُعِل رزقي تحت ظِلّ رُمْحي، وجعل الذلة والصِّغار على من خالف أمري، ومن تَشبَّه بقوم فهو منهم”

Dari Ibnu Umar, Rasulullah ` bersabda: “Aku diutus dengan pedang di akhir zaman sehingga hanya Allah semata yang disembah tiada sekutu baginya, dan dijadikan rizkiku di bawah baying-bayang tombakku, dan dijadikan kehinaan dan kekerdilan bagi siapa yang menyelisihi urusanku. Dan barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka.” (H.R. Ahmad 2/92. Dishohihkan Albani)

Ibnu Qoyyim berkata tentang pengutusan nabi saw: “Dan dia mengutusnya dengan kitab yang memberi petunjuk dan pedang yang menolong di akhir zaman sehingga Allah semata yang disembah dan tiada sekutu baginya. Dia telah menjadikan rizqinya di bawah bayang-bayang pedang dan tombaknya.”

  1. Allah memerintahkan kaum muslimin melakukan I’dad (mempersiapkan diri) untuk melawan kuffar dan menakut-nakuti mereka. Seandainya islam tidak tersebar kecuali karena dakwah lantas apa yang ditakuti orang-orang kuffar? Apakah hanya dengan lesan saja?

Imam Bukhori meriwayatkan bahwa rasulullah saw bersabda: “Aku diberi 5 hal yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumku: “Aku ditolong dengan rasa takut   (yang ditimpakan di hati musuhku) dalam jarak perjalanan (yang jauhnya) sebulan…”[2]

Apakah kaum kuffar akan takut ketika dikatakan kepada mereka masuk islamlah! Apabila kalian tidak masuk islam kalian bebas! Ataukah mereka akan takut ketika diancam dengan jihad, membayar jizyah, ataupun kehinaan? sesungguhnya inilah yang menjadikan mereka masuk islam. Inilah makna penyebaran islam dengan jihad. Pun, inilah tujuan dari peperangan yang dilakukan rasulullah `. Dalam shahih Muslim dari Baridah bahwa rasulullah ` memerintahkan panglima untuk memimpin pasukan atau sariyah.beliau mewasiatkan -khususnya- wasiat taqwa dan mendoakan kaum muslimin kebaikan. Kemudian beliau bersabda: “Berperanglah dengan nama Allah di jalan Allah, perangilah mereka yang mengkufuri Allah, berperanglah dan jangan berlebihan, jangan menyelisihi janji, jangan mencincang, jangan membunuh anak-anak. Dan apabila kalian bertemu orang musyrik serulah dengan 3 perkara. Maka manapun pilihan mereka terimalah dan tahanlah diri kalian dari mereka. Serulah mereka untuk pindah dari negeri mereka menuju negeri muhajirin. Kabarkan kepada mereka apabila mereka melakukannya maka mereka mendapatkan hak dan kewajiban sebagaimana kaum muhajirin. Apabila mereka enggan pindah dari sana maka kabarkan bahwa hukum yang diterapkan atas mereka sebagaimana yang diterapkan atas orang-orang mukmin. Mereka tidak mendapatkan ghonimah dan fai’ sedikitpun kecuali mereka berjihad bersama muslimin. Apabila mereka enggan maka tanyalah tentang jizyah. Apabila mereka menjawabnya maka terimalah dan tahanlah diri kalian dari mereka. Apabila mereka menolaknya maka mintalah pertolongan kepada Allah dan perangilah mereka….”

  1. Sesungguhnya shahabat menyatakan bahwa tujuan jihad mereka adalah untuk menyebarkan islam. Sebagaimana dari Mughiroh bin Syu’bah dan Rib’I bin Amir gmereka menjelaskan apa yang membawa mereka sampai ke negeri persi tidak lain karena meninggikan kalimat Allah dan mengeluarkan manusia dari peribadatan manusia kepada manusia menuju peribadatan manusia kepada Pencipta manusia.

Begitu juga yang dilakukan Uqbah bin Nafi’ t ketika di Thonjab. Dia membawa kudanya melewati air hingga mencapai dadanya. Diapun berkata: “Ya Allah, saksikanlah aku telah mengerahkan segenap kemampuanku. Kalau bukan karena laut ini tentu aku akan melewati negeri-negeri. Aku akan memerangi mereka yang mengkufurimu hingga tiadalagi yang disembah selainMu.”

  1. Sejarah mencatat bagaimana dakwah rasulullah `. sebagaimana diceritakan Ibnu Hazm: “Beliau tinggal di makkah 13 tahun dan tidak ada yang menjawab seruan beliau kecuali kurang dari 100 orang. Kemudian beliau hijrah ke Madinah dan menetap di sana hingga perang Uhud dan jumlah mereka tidak lebih dari 1500 orang. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Bukhori dari Hudzaifah bahwa rasulullah ` bersabda: “Tulislah untukku siapa yang menyatakan masuk islam. Maka kamipun menulisnya dan jumlahnya 1500 orang. Maka kami bertanya apakah engkau takut dengan jumlah kita yang 1500? Sungguh kami telah mengalami bagaimana kami diuji sehingga seorang laki-laki shalat sendirian dalam keadaan takut.

Maka tatkala Rasulullah ` bersama para shahabat islam banyak melakukan ekspansi, islam tersebar dengan luas dalam kurun waktu yang singkat. Hal ini terbukti dengan catatan sejarah. Ketika rasulullah ` berangkat menuju perang Tabuk jumlah pasukan yang turut serta mencapai 30 ribu personil. Sedangkan ketika beliau melaksanakan haji Wada’ jumlah kaum muslimin yang turut wukuf di padang Arofah mencapai 100 ribu hingga 130 ribu jamaah. Belum lagi ditambah mereka yang tidak berangkat haji, yang tidak diketahui secara pasti jumlahnya. Tidak diragukan lagi penyebaran dakwah ini dengan Jihad (tentunya dengan kehendak Allah).

Maka benarlah perkataan syair:

دَعَا اْلمُصْطَفَى دَهْرًا بِمَكَّةَ لَمْ يُجَبْ                       وَ قَدْ لاَنَ مِنْهُ جَانِب وَ خِطَاب

فَلَمَّا دَعَا وَ السَّيْفُ صُلَّتْ بِكَفِّهِ                         لَهُ أسلموا و استسلموا و أنابوا

Rasul Musthofa menyeru sepanjang masa di makkah namun tidak jawab.

Padahal beliau telah lemah lembut dalam menyeru

Maka ketika dia menyeru dengan pedang terhunus di tangannya

Mereka masuk islam, berserah diri, dan kembali

  1. Kisah lain yang menunjukkan pengaruh jihad dalam penyebaran dakwah adalah kisah Abu Bakar dalam menghadapi kaum murtadin. Ketika rasulullah ` wafat banyak yang murtad kecuali penduduk masjidain -masjid nabawi dan masjidil haram-. Abu Bakar pun bertekad untuk memerangi mereka walaupun sendirian. Namun, seluruh shahabat menjawab seruannya. Maka dalam kurun waktu dua tahun tersebar islam di seluruh penjuru jazirah arab.

Ibnu Katsir mengisahkan kejadian tersebut -terjadi pada tahun 12 Hijriah-: tahun ini dimulai dengan diutusnya pasukan as Shiddiq dan para amirnya untuk memerangi mereka yang murtad. Mereka berjalan ke arah kanan dan kiri untuk membentangkan pilar islam dan menerangi thaghut dari manusia hingga kembali ke agama ini setelah sebelumnya pergi. Kebenaran pun kembali ke tempatnya dan terbentanglah luas jazirah arab. Maka yang jauhpun seakan dekat.”

Khotimah

Beginilah dakwah dan jihad yang tidak dapat dipisahkan antara satu dan yang lainnya. Sebuah keniscayaan bahwa penyebaran dakwah haruslah didukung dengan jihad di belakangnya. Suatu kemustahilan dakwah islamiyah akan tegak tanpa adanya dukungan kekuatan

(Sumber: http://firmans.web.id/jihad-dan-dakwah-islamiyah.html)

 

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s