Menikmati Perjalanan Di Negeri Paman Sam

Ini ada tulisan menarik yang aku kopas dari blog, salah satu guru kehidupanku. Beliau adalah Ibu Rahmawati Latief. Meski kita berkenalan hanya sebentar, tapi serasa ketemu dengan teman lama saja ketika berbincang-bincang dengan beliau. Tulisan berikut, kudu kalian baca, coz menarik dan bermanfaat. Apalagi buat teman-teman yang ingin menginjakan kaki ke negeri paman sam. Wah sangat cocok nih.

Menikmati Perjalanan Di Negeri Paman Sam

Saya pernah besar di Mesir dan Malaysia, tapi saya menganggap bahwa menjadi muslim yang baik di Amerika begitu menyenangkan karena kebebasan berbicara yang dijunjung tinggi (Imam Faizal Ali, New York City)


Begitulah petikan komentar yang diucapkan oleh Imam Faizal Ali, salah satu Imam di Islamic Center di New York City, kepada reporter program acara As-Salam di TV 3 Malaysia pada bulan Ramadhan 2007, yang saya nikmati sebelum saya berangkat ke Amerika Serikat. Berbekal hasil pengamatan di acara As-Salam yang memang menfokuskan kepada kehidupan ummat Islam di Amerika Serikat membuat saya lebih lega melangkahkan kaki ke negara Paman Sam yang konon katanya sebagai lokomotif peradaban ilmu dan teknologi bagi negara maju dan modern, dan juga sekaligus sebagai penyebar kerusakan moral dan budaya. Wallahu Alam Bisshawwab.

Sebagai Fellow International Fellowship Program (IFP) Ford Foundation di Universiti Kebangsaan Malaysia, saya memiliki kewajiban untuk mengikuti program Leadership, Culture, Social Justice and English di University of Arkansas, Amerika Serikat selama 9 minggu. Kepastian untuk mengikuti program ini baru saya iyakan pada bulan Agustus tahun lalu, sebab saya masih berpikir menyelesaikan tesis dulu sebelum berangkat, namun Allah berkehendak lain saya mesti berangkat ke sana untuk term Fall I pada bulan Oktober hingga Desember 2007 sebagai kesempatan terakhir buat fellow IFP cohort 3.
Singkat cerita, saya pun mulai mempersiapkan dokumen perjalanan untuk memperoleh visa. Selama proses pengurusan visa, walaupun lumayan repot tapi Alhamdulillah, semua berjalan begitu lancar dan mudah, setelah wawancara yang saya jalani selama tiga menit saja di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Kuala Lumpur, akhirnya visa J1 (jenis visa khusus untuk a visitor student) keluar juga. Sebelumnya saya mendengar banyak cerita bahwa pengurusan visa ke Amerika cukup rumit dan kadang-kadang ada hasil wawancaranya yang tidak lulus membuat saya tetap harap-harap cemas dalam pengurusan visa ini.
Pukul 6 sore, 20 Oktober 07, Saya, Een dan Iran, berangkat ke KLIA dengan menggunakan mobil kancil. Kami bercerita banyak, dan juga sempat mohon do’a kepada mereka semoga urusan imigrasi bisa dimudahkan ketika tiba di O’Hare International Airport di Chicago sebagai salah satu pintu gerbang masuk ke Amerika. Sebelum saya berangkat, staf IFP Ford Foundation di Jakarta sudah mewanti-wanti untuk berhati-hati dalam proses imigrasi karena dua bulan sebelumnya, dua orang fellow IFP FF, mesti membuka jilbabnya di tempat umum saat di integorasi oleh petugas imigrasi di Honolulu International Airport ketika mereka hendak ke University of Hawai di Manoa. Yah, berangkat ke Amerika memang sangat berbeda ketika kita akan berangkat ke Malaysia, ke Singapura, ke benua Asia, Australia, Afrika ataupun Eropa. Sejak peristiwa 11 September 2001 yang menelan banyak korban, pemerintah Amerika sangat ketat dengan imigran dan pengunjung dari negara-negara muslim, jadi wajar saja kalau saya agak deg-degan juga dengan perjalanan ini. Dengan banyak-banyak berdoa dan selalu sigap mempersiapkan kelengkapan dokumen, akhirnya saya berangkat sendirian juga ke Amerika Serikat. Meski masih terngiang-ngiang di telinga ucapan seorang brother dari Jordan, mahasiswa Ph.D Computer Science di USM, sebelum berangkat dia berkata “Sister, be careful if you will go alone to USA, please remember the hadits Safar for women by Ahmad, Bukhari and Ibnu Hajar (Ukhti, hati-hati jika engkau pergi sendirian ke USA, tolong ingat kembali hadits safar untuk perempuan yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhari dan Ibnu Hajar)” . Aku hanya berkata saya berangkat dalam tujuan belajar dan kondisinya memang mesti berangkat sendiri krn saat itu saya tidak mungkin pulang ke Indonesia untuk berangkat bersama dengan teman-teman lain karena kendala tesis. I just believe that Allah knows my main niyyah (Saya hanya percaya bahwa Allah tahu niat utamaku).
Tepat pukul 11 malam waktu KL, saya take off dari KLIA menuju Narita International Airport, Tokyo dengan menggunakan pesawat Japan Airlines (JAL). Perjalanan yang menghabiskan waktu sekitar 6 jam sungguh terasa nyaman dan mengasyikkan. Di dalam pesawat, saya hanya melihat wajah-wajah yang bermata sipit, berkulit putih dengan senyum yang khas dan berbahasa Jepang. Walapun saat itu jujur saja saya merasa kesepian, karena tak ada satu pun wajah muslimah saat itu. Di sebelah saya, duduk seorang perempuan Jepang yang tidak bisa berbahasa Inggris, akhirnya kami hanya menggunakan bahasa isyarat. Sambil menghabiskan waktu, saya menonton film Evan Almighty yang diproduksi oleh Amerika Serikat yang dianggap menghina riwayat Nabi Nuh. Sayangnya saya tidak menghabiskan filem itu karena mata saya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi untuk tidak tidur. Akhirnya saya tiba di airport dengan selamat, kembali saya mengucapkan Alhamdulillah. Selama 5 jam di Narita, saya menyaksikan suasana bandara yang begitu besar, rapi, teratur, bersih dan cukup padat, disinilah saya pertama kali disapa dengan ucapan Assalamu Alaikum oleh seorang ibu muslimah dengan anaknya yang berasal dari Turki. Dia menyapa saya dengan ramah. Subhanallah kami berkenalan selama 10 menit, ternyata ia seorang mahasiswa dan ibu rumah tangga di Jepang yang berniat berlibur ke negaranya. Akhirnya ketemu dengan muslimah juga, batinku. Pukul 2 siang hari waktu Jepang, saya kembali take off dari Narita menuju O’Hare International Airport, Chicago, dan disinilah awal pemeriksaan yang tidak lazim kepada warga negara non Jepang dan non Amerika. Setelah boarding pass, saya mengalami pemeriksaan badan dan tas oleh seorang petugas wanita dari Asia yang ternyata cukup paham dengan bahasa Indonesia, hal itu juga berlaku pada seorang warga negara Eropa. Sedangkan penumpang lain tidak mendapatkan perlakuan yang sama. Meski dia hanya mengatakan bahwa ini hanya pemeriksaan biasa. Saya mulai merasakan ada perbedaan saat itu, meskipun ia memeriksa saya dengan ramah.
Perjalanan dari Jepang menuju Chicago, sungguh merupakan perjalanan yang mendebarkan buat saya, perjalanan yang ditempuh selama 11 jam ini hampir separuh perjalanan membuat badan saya menjadi sedikit terguncang-guncang karena keadaan cuaca yang sangat dingin diluar sehingga membuat pesawat United Airlines yang saya tumpangi menjadi bergoyang-goyang agak lama. Beberapa hari sebelum berangkat, saya sudah ditelpon dengan teman yang lagi belajar di Illinoi University, Chicago, “Rahma, be careful with Tornado (Rahma, hati-hati dengan Tornado)”. Tornado semacam angin puting beliung yang berputar-putar kencang dan dahsyat membentuk gambaran seperti spiral. Tornado ini sering terjadi di Amerika utamanya didaerah dataran rendah seperti di Oklahoma. Alhamdulillah, akhirnya pukul 10 pagi waktu Chicago, saya sudah tiba dengan selamat di O’Hare. Sebelum menghadap ke loket petugas imigrasi, saya berdoa banyak-banyak agar semuanya dimudahkan, dari sekitar 600 penumpang yang antri di depan loket petugas imigrasi tak satupun wajah muslimah yang kutemui, kembali saya merasa minoritas di tempat ini, saya merasa berada di planet lain. Tiba giliran saya untuk diintegorasi oleh petugas loket, dengan penuh kepercayaan diri dan juga harap-harap cemas, saya menyerahkan semua dokumen saya kepada petugas loket, dan Alhamdulillah, dengan proses yang hanya lima menit, semuanya lancar, dan paspor saya pun telah dicop. Wah, bandara O’Hare ternyata besar sekali, prediksiku bandara ini lebih besar dari Narita dan dua kali lebih besar dari KLIA, selanjutnya saya ke terminal yang lain untuk mengambil penerbangan domestik menuju Fayatteville, Arkansas.
Di bandara ini, saya bertemu dengan brother dari Bangladesh, yang menunjukkan jalan menuju terminal berikutnya, dan ternyata beliau adalah manajer dari Starbuck Coffee yang membuka toko di bandara itu. Dia menawarkan untuk lunch di kafenya, tapi saya menolak dengan halus, bagaimanapun saya tetap mesti hati-hati dengan orang pertama kali kita kenal di negeri yang minoritas Islam kayak Amerika ini. Sambil menyusuri bandara, saya menjumpai banyak sekali toko-toko makanan, tapi saya sangat khawatir dengan kehalalannya, akhirnya saya hanya membeli orange juice dan pisang. Lagi-lagi saya menjadi pengamat di bandara ini, saya mengamati banyak kulit hitam yang menjadi pekerja pembersih, dan mayoritas kulit putih bekerja sebagai pegawai di loket-loket tiket dan boarding pass. Apakah Amerika masih rasis yah dengan perbedaan kulit hitam dan putih? batinku. Tak terasa waktu beranjak siang, saya coba mensms Ms. Alannah Massey, supervisorku di Univeristy of Arkansas, eh ternyata dia membalasnya dan dia sangat bahagia kalau aku sudah di Chicago. Dia berjanji akan menjemputku dua jam lagi di Fayatteville. Sejam kemudian saya take off dari O’Hare Chicago ke Northwest Regional Airport, Fayatteville, Arkansas. Perjalanan ditempuh selama dua jam dengan pesawat United Airlines, dan sungguh sangat melelahkan, tapi yang membuat saya bahagia ketika saya benar-benar menikmati pemandangan di bawah dengan melihat-lihat pemandangan dari atas pesawat, nampak jelas hutan-hutan dengan pohon-pohon dan daun-daun yang berwarna-warni, dan sangat tertata rapi, berbeda dengan kondisi hutan-hutan kita di Indonesia yang relatif warna daunnya hanya berwarna hijau, akhirnya saya menggumam seperti inikah Amerika? pemandangannya sangat indah dari atas, saya sempat melihat aliran sungai, mungkinkah itu sungai Missisippi yah? sungai yang sangat terkenal di Amerika dan sering dijadikan latar belakang pembuatan film-film yang diproduksi Hollywood. Saya terkenang ketika saya ke Jeddah, King Saudi Arabia, pertengahan Desember 2006, dari atas pesawat saya menyaksikan gumpalan pasir yang berwarna coklat dan membentuk padang pasir yang eksotik. Kini saya melihat suasana yang berbeda, Subhanallah, sesungguhnya Allah Maha Sempurna dalam menciptakan segala sesuatunya.
Belajar, Beradaptasi, dan Berjuang

Tujuan utama datang ke tempat ini adalah belajar. Belajar tentang kepemimpinan, budaya, keadilan sosial dan bahasa Inggris. Selama sembilan minggu, saya benar-benar disibukkan dengan kegiatan akademik. Kelas English dimulai dari pukul 8.30 pagi hingga pukul 3 siang di Spring International Language Center, University of Arkansas, kemudian dilanjutkan dengan kelas kepemimpinan, budaya dan keadilan sosial pukul 3.15 siang hingga pukul 7-8 malam yang diadakan diberbagai tempat, bahkan Sabtu dan Ahad pun kami masih memiliki kelas tambahan. Untuk program kepemimpinan, budaya dan keadilan sosial bentuk kelasnya dalam bentuk kunjungan ke berbagai tempat yang disesuaikan dengan minat setiap peserta dan juga partisipasi dalam kelas seni dan kreasi. Kami terdiri atas 15 peserta Fellow IFP Ford Foundation yang berasal dari berbagai negara seperti Egypt, Peru, Mexico, Chile, Rusia, dan Indonesia. Kunjungan ini tidak hanya sekedar kunjungan, melainkan kami mendapatkan persentase, arahan dan juga disertai diskusi dan diakhiri pembuatan laporan kunjungan untuk diserahkan ke supervisor kami.
Kami mengunjungi tempat-tempat yang menarik dan sangat menambah ilmu pengetahuan seperti Little Rock yang merupakan ibukota dari Arkansas. Oh ya, Arkansas ini merupakan tempat kelahiran William J Clinton atau lebih dikenal dengan Bill Clinton, mantan Presiden USA yang menjabat selama dua periode. Disini kami sempat berkunjung ke The Clinton Presidential Library, perpustakaan milik Bill Clinton, yang mana perpustakaan ini sangat megah dan koleksi bukunya yang sangat banyak. Di dekat perpustakaan ini juga ada sekolah pasca sarjana di bidang pelayanan masyarakat, dan juga ada musium khusus yang mengoleksi cindera mata Bill Clinton dan Hillary Clinton dari manca negara, dokumentasi pidato, arsip-arsip dan foto-foto selama dia menjabat sebagai presiden USA selama dua periode. Di ruang yang berbeda dipamerkan miniatur tempat kerja Presiden USA, dan ruang rapat Presiden dan koleganya serta patung-patung beberapa presiden USA terdahulu. Menariknya, semua miniatur, koleksi cindera mata, dokumentasi pidato, arsip-arsip, dan foto-foto disusun secara apik, sistematis, dan indah sehingga sedap dipandang mata. Kunjungan berikutnya ke Little Rock Central High School, sebuah sekolah SMU yang pernah terjadi konflik rasis antara murid-murid Amerika yang berkulit hitam dan murid-murid Amerika yang berkulit putih, disekolah ini kami singgah diruang pameran tentang sejarah konflik tersebut. Masih tersimpan dengan rapi foto-foto, arsip-arsip, petikan tulisan-tulisan dari saksi-saksi sejarah, rekaman video di layar televisi hingga rekaman suara yang bisa dinikmati langsung lewat telepon otomatik. Dari dua kunjungan ini saya banyak belajar tentang pentingnya teknik pendokumentasian yang ditata secara apik, setidak-tidaknya kujungan ini mengajarkan bahwa pendokumentasian yang apik sebagai salah satu cara mengenali sejarah secara real sehingga kita dapat mengambil hikmah. Perjalanan dilanjutkan ke The Heifer International Project, lembaga non profit yang bergerak dibidang pengembangan komunitas, penyaluran bahan sandang, pangan dan papan, pendidikan, kesehatan, peningkatan kesejahteraan perempuan dan anak-anak. Fokus daripada organisasi ini adalah negara-negara yang miskin dan sementara membangun, nah di lokasi Heifer inilah saya dan teman-teman terkejut melihat bendera Indonesia yang berkibar dengan gagahnya.Oh rupanya negara kita termasuk sebagai negara penerima bantuan.
Di hari yang berbeda kami berkunjung ke daerah Fayatteville dan Springdale, disini kami mengunjungi Seven Hills, sebuah tempat penampungan bagi orang-orang miskin dan tak mampu di Fayatteville. Ketika persentase dan diskusi dilakukan sebuah pertanyaan menarik terlontar dari teman saya, Brother Atef dari Egypt, ia bertanya mengapa masih banyak orang miskin di negara super adidaya seperti USA, persentator memberikan jawaban bahwa ini hanya sebuah fenomena nyata yang tidak diketahui oleh negara lain. Dan mirisnya, dukungan dana Seven Hills, 90 persen berasal dari masyarakat. Pemerintah tidak memberikan kontribusi langsung kepada lembaga-lembaga sosial seperti ini. Saya pun manggut-manggut mendengarkan persentase tersebut, dan terbayang bahwa betapa banyaknya dana yang dikeluarkan untuk biaya perang dengan misi yang kadang-kadang emosional dibanding dengan biaya untuk pemeliharaan orang-orang miskin.
Selain itu kami berkunjung City Council Meeting, sebuah pertemuan dengan dewan parlemen kota di Fayatteville, disini kami boleh bercermin betapa ramah dan demokratisnya hubungan antara pejabat dan masyarakat; lalu ada kunjungan ke media cetak dan media elektronik seperti Community Access TV, The Morning News Newspaper dan KUAF Radio. Saya hanya berdecak kagum ketika melihat kualitas mesin produksi surat kabar mereka yang mampu mencetak ratusan ribu eksemplar tiap harinya dan kembali mengangkat topi kepada mereka melihat suasana kebebasan ekspresi di kalangan komunitas televisi dalam memberikan kritik kepada kebijakan pemerintah. Dan lagi-lagi pembiayaan untuk radio seperti KUAF ini berasal 70 persen dari masyarakat dan 30 persen dari pihak swasta. Disini tersirat betapa besarnya kesadaran terhadap pentingnya informasi dalam masyarakat Fayatteville sehingga mereka rela merogoh koceknya untuk donasi. Kunjungan yang sangat berkesan adalah kunjungan terakhir ketika kami berada di Northwest Ark Sexual Abuse Recovery di Springdale. Dengan persentase dan diskusi yang sangat seru, maka saya pun paham bahwa kebebasan berekspresi bisa menjadi salah ketika tidak berlandaskan nilai-nilai agama. Di lembaga ini jelas-jelas ada satu program yang disepakati dan disetujui oleh pemerintah dalam mendukung kepentingan pihak minoritas kaum gay dan lesbian. Menariknya, diskusi pada tempat ini berjalan lancar dan tidak terkesan emosional meskipun saya satu-satunya peserta muslim saat itu. Saya sempat bertanya kebijakan terhadap perlindungan kaum gay dan lesbian yang sangat dilindungi oleh mereka. Yah jawabannya lagi-lagi kebebasan hak asasi manusia atau menurutku bisa jadi ini merupakan tanda kemunduran peradaban disana.
Oh ya, ternyata pembelajaran budaya tidak hanya melalui kunjungan, persentase dan diskusi, tetapi juga boleh dilakukan lewat partisipasi dalam kelas karya seni dan kreasi. Kelas seni dan kreasi ini terbagi atas tiga kelas: melukis, pembuatan boneka, dan seni pahat. Aktifitas ini memberikan kebebasan berekspresi kepada setiap peserta untuk membuat hasil karyanya berdasarkan referensi dari budaya mereka masing-masing dan saya memilih seni pahat yang bagiku adalah hal yang baru dan menantang. Wah, ternyata kelas ini mesti ‘berasyik masyuk’ dengan tanah liat, kertas, bau silikone dan seni memahat. Di satu sisi menyenangkan karena memperoleh pelajaran baru, dengan seni pahat ini kita boleh memahat beraneka bahasa dalam sebuah miniatur bola bumi (globe) yang terbuat dari tanah liat, meski disisi lain saya kurang suka karena membuat pekerjaan yang rentan membuat noda di pakaian dan tangan
Disamping program kunjungan dan kelas seni dan kreasi, kami juga menghadiri program Homestay. Sebuah program pengenalan budaya Amerika dengan menetap di keluarga Amerika selama tiga hari. “Ms. Alannah, I dislike the dog so I don’ want to follow the Homestay Program (Ibu Alannah, saya tidak suka dengan anjing itu sehingga saya tidak mau mengikuti program Homestay ini)”. Begitulah kira-kira komplain saya dengan supervisor ketika mesti mengikuti program Homestay. Namun akhirnya, saya ikut juga program Homestay selama tiga hari walaupun hampir mundur karena bersikukuh tidak ingin mendapatkan keluarga yang memelihara anjing dalam rumah. Memelihara pet (hewan peliharaan seperti anjing dan kucing) merupakan life style atau gaya hidup orang Amerika. Sama halnya dinegara-negara maju lainnya, pet ibarat anak mereka sendiri, dan mereka memperlakukan seperti layaknya manusia. Di sisi lain memang bagus karena menumbuhkan kepekaan mencintai makhluk Allah, tapi disisi lain bagi muslim anjing termasuk binatang yang diharamkan untuk dipelihara. Jadilah akhirnya saya ‘berdebat’ di menit-menit terakhir dengan supervisorku sebelum berangkat, setelah perjanjian disepakati bahwa anjing diletakkan diluar rumah maka barulah saya memutuskan untuk berangkat. Saya tidak tahu apa yang berkelebat dalam benar supervisorku saat itu melihat saya dan teman saya begitu bersikukuh tentang masalah anjing ini. Ah, saya hanya membatin bahwa ini baru perjuangan riak-riak kecil ditengah laut, belum gelombang besar ukhti. Tetapi ketika saya datang dia tersenyum manis dan hanya berkata “Finally, you come here rahma, (akhirnya, kamu datang juga Rahma)”. Alhamdulillah, the Homestay program membawa hikmah yang besar, saya tinggal dengan keluarga muda yang sangat baik dan seide denganku. Kami berdiskusi banyak hal mulai dari ketidakramahan sebahagian masyarakat Amerika ketika menyaksikan ibu-ibu menyusui di tempat publik, tingginya angka perceraian, kebijaksanaan pemerintah USA dalam hal pendidikan dan pemeliharaan orang-orang miskin. Walaupun ini hanya diskusi kecil dan mungkin subjektif tapi ide-ide kami sangat klop karena perempuan lawan diskusi saya bukan seorang feminis, melainkan perempuan ‘tradisional’ dan juga lulusan sarjana bidang ilmu keluarga dan pengembangan manusia di University of Arkansas, yang menikah muda pada usia 18 tahun. Bagiku, profilnya sangat menarik karena dia berasal dari negara yang cenderung mengabaikan nilai-nilai sejati sebuah keluarga.
Pengalaman-pengalaman yang menyenangkan diatas bukan berarti tanpa beradaptasi dan berjuang. Kedua sikap ini mesti kita gunakan ketika berada di sebuah negara yang sangat jauh perbedaannya dengan kampung halaman kita atau tempat belajar. Apalagi di negeri yang tingkat fobia Islamnya (ketakutan terhadap Islam) cukup tinggi seperti di Amerika Serikat. Di minggu-minggu pertama, saya mesti beradaptasi dengan cuaca yang sangat dingin hingga dibawah derajat nol. Kebetulan Arkansas terletak di bagian tengah Amerika, termasuk daerah yang paling dingin kalau dilihat segi iklimnya. Berikutnya mesti beradapatasi dengan pertanyaan teman-teman non muslim tentang urgensi Hijab, mengapa tidak boleh rambut saya diperlihatkan, mengapa tidak memakan daging babi, mengapa kalau makan dan minum mesti duduk, hingga ke soal poligami. Disusul pertanyaan kritis yang lainnya, mengapa ada perempuan Islam masih memperlihatkan rambutnya di depan laki-laki sedangkan saya dilihat sangat tertutup hingga pertanyaan mengapa saya mesti duduk ketika makan dan minum sedangkan yang lainnya tidak. Proses adaptasi tidak hanya sampai disini tetapi juga proses berjuang mencari makanan halal, tempat shalat di kampus, menahan pandangan terhadap pergaulan bebas yang terjadi di mana saja dan kapan saja, hingga berjuang berjalan kaki selama satu jam di bawah cuaca dingin yang suhunya di bawah nol untuk melaksanakan Shalat Idul Adha di Islamic Center. Saat itu, ingin rasanya air mata ini berlinang sebab jarangnya bus kampus beroperasi di pagi hari karena kebetulan menjelang hari Natal, dan mobil teman-teman muslim yang lain sudah pada penuh. Saya bayangkan bukan jauhnya berjalan kaki tetapi cuaca dingin dan dalam keadaan berpuasa saat itu. Akhirnya saya dan ditemani seorang teman tiba di Islamic Center dengan penuh perasaan suka cita dan cukup kelelahan karena berjalan lama. Rasa lelah semakin berkurang ketika menunaikan shalat Id bersama, dan berkumpul kembali dengan sesama saudara-saudari semuslim yang berbeda etnik dan negara.Uniknya, setelah menunaikan Shalat Id kami dijamu dengan berbagai makanan dari berbagai negara seperti India, Bangladesh, Pakistan, Sri Langka, Timur Tengah, Amerika, Indonesia, dan Malaysia. Ups, makanan-makanan ini tersaji layaknya seperti cerminan dari makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu dalam aqidah Islam. Masha Allah.
Muslim di Amerika

Hari liburan Thanksgiving pun tiba. Liburan yang didasari atas perayaan terima kasih kepada siapa saja yang diadopsi dari sejarah ritual perpindahan orang-orang Eropa ke Amerika karena ingin mendapatkan kebebasan beragama (Kristen) di negara ini. Liburan selama lima hari saya manfaatkan dengan mengikuti acara tahunan ke sebelas Muslim American Society (MAS) di Los Angeles, California. Alhamdulillah, berkat kemurahan hati dari teman lama di UNHAS, Sister Frilla, dan kini menetap di California bersama keluarganya, akhirnya saya berangkat atas sponsornya dari Fayatteville menuju California dengan transit di Atlanta dan Mempis. Lagi-lagi saya berangkat sendiri, tapi dengan mengucapkan Basmallah, perjalanan ini saya lakoni saja. Tiba di Ontario Airport di California, saya duduk menunggu salah satu teman terbaikku ini, bagaimanakah rupanya setelah hampir tujuh tahun kami tidak bersua? Masha Allah, beberapa menit kemudian dia muncul dengan suaminya (Brother Mujeeb) dan juga anaknya Tarik Muhammad. Silaturahmi pun terekat kembali setelah pupus beberapa tahun dan terjalin melalui internet saja dan sesekali telpon. Di California, saya bersilaturahmi dengan keluarga Sister Frida dan Pak Ben, keduanya adalah orang Indonesia juga yang kebetulan aktif di Islamic Center dekat rumah Frilla, dan saya sempat berkunjung ke rumah orang tua Frilla. Dialek Makassar ibunya sama sekali tidak berubah, begitu juga dengan ayahnya, yang justru membuatku gemas dengan kelakuan Si Tarik, anak campuran Toraja, Gorontalo dan India ini. Perilakunya yang hiperaktif sering membuatku tertawa geli.
Tiga hari belajar, tiga hari mendapatkan hal yang baru, tiga hari menjalin silaturahmi, dan tiga hari bersama Frilla dan Frida. Demikianlah hikmah yang saya dapatkan ketika mengikuti 11th Annual Regional Convention sejak 21-25 November 2007, di The Westin Los Angeles Airport Hotel. Pertemuan ini mengangkat tema Islam: The Journey From Inner Peace to World Peace ( Islam : sebuah perjalanan dari perdamaian internal ke perdamaian dunia). Tema yang nuansanya global ini dianggap cocok buat perkembangan dakwah di USA. Pertemuan ini dihadiri sejumlah pembicara yang berkualitas dengan tema-tema sangat beragam seperti Keluarga, Mencapai Pernikahan yang Sukses, Peran Aktifis Dakwah di Kampus, Perbedaan Generasi dan Kesenjangan Budaya, Perdamaian, Identitas Muslim Amerika, Islam dan keadilan sosial, Urgensi Waktu, Islam dan Budaya, Gaya Hidup, Kepemimpinan Perempuan Muslim, Gender, Melawan Islam Fobia, Agenda Muslim Amerika menuju Perdamaian Dunia dan lain-lain. Menariknya, tema-tema yang ditawarkan mencakup persoalan domestik hingga ke masalah global. Akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa kader-kader dakwah di Amerika Serikat ternyata sangat memberikan perhatian terhadap keluarga sebagai institusi terkecil dari masyarakat muslim. Di dalam satu sesi tentang keluarga, terdapat pasangan muda yang menikah muda dan menjelaskan proses ta’aruf yang Islami dan bagaimana kiat-kiat mereka membangun rumah tangga yang Islami. Sesi ini mendapat sambutan yang meriah dari kalangan muda. Khalayak dalam pertemuan ini sangat beragam, pihak panitia memang telah mengatur pertemuan ini untuk segala umur, jadi aktifitas tidak hanya sekedar buat kaum dewasa tetapi juga buat anak-anak dan remaja. Momen seperti ini ibaratnya muktamar buat masyarakat muslim di Amerika Serikat yang terdiri dari berbagai etnik, ras dan negara, dan biasanya memang diadakan di hari-hari libur untuk menghindari bentrokan waktu dengan hari kerja dan hari sekolah. Muslim American Society (MAS) bukan hanya satu-satunya organisasi yang konsen dengan dakwah dan pengembangan komunitas Islami. Disana kita dapat menjumpai organisasi seperti ISNA (Islamic Society North America), ICNA (Islamic Circle North America), MSA (Muslim Student Association) dan persatuan khusus untuk masyarakat Indonesia dapat dikenali melalui organisasi IMSA (Indonesian Muslim Society America). Oh ya, menariknya bahwa semua organisasi diatas dirintis atau dipelopori oleh mahasiswa-mahasiswa di kampus, dan umumnya sebahagian mereka berasal dari negeri Timur Tengah.
Dari hasil pertemuan MAS, saya dapat melihat bahwa menjadi muslim yang baik di Amerika bukanlah perkara yang mudah. Kita mesti berbeda dengan yang lain karena identitas ke-Islaman kita, siap beradaptasi tetapi tetap Istiqomah, dan berani memberikan penjelasan sedetail-detailnya kepada masyarakat non-muslim disana dan Istiqomah dengan penjelasan kita sendiri, dan siap menghadapi sebagian reaksi masyarakat Amerika yang fobia terhadap Islam. Saya teringat diskusi dengan Kak Dian (mahasiswa master di University of Arkansas yang berasal dari Aceh) yang kebetulan membesarkan anak-anaknya yang beranjak remaja di sana. Beliau mengatakan bahwa tidak mudah membesarkan remaja-remaja muslim di Amerika dengan nilai-nilai yang sangat berseberangan dengan nilai-nilai Islam. Kita mesti berani mengajarkan bahwa mereka adalah seorang Muslim, dan mereka mesti ditanamkan konsep untuk bangga dengan ke-Islamannya ditengah-tengah komunitasnya yang non-Muslim. Seorang remaja muslimah yang sekolah di public school (sekolah umum milik pemerintah) dan konsisten dengan jilbabnya adalah sebuah prestasi luar biasa dilihat dari perspektif gerakan dakwah di sana. Sebab menggunakan jilbab saja secara konsisten akan menimbulkan banyak pertanyaan dan kritikan dan mungkin ‘sentimen’ agama dari sebagian remaja disana. Jadi tidak mengherankan jika setiap organisasi Islam disana memiliki program untuk para remaja dan anak-anak agar mereka tetap mampu menjalankan nilai-nilai Islam dengan baik.
Selain itu, dalam ruang pameran di pertemuan ini, beberapa NGO –lembaga non profit- yang sifatnya Islami nampak memamerkan aktifitasnya seperti CAIR, Islamic Relief, Madina Islamic School, Muslim Public Affair Council, dll. Disini jelas terlihat bahwa geliat dakwah di USA sudah lama bangkit dan gerakannya telah menyebar ke seluruh aspek. Umumnya tugas utama NGO ini menyebarkan dakwah sesuai dengan misi dan visi mereka dan juga mempunyai kewajiban untuk memperkenalkan Islam yang ramah dan melawan fobia Islam secara cerdas dan elegan dikalangan masyarakat non-Muslim seperti yang dilakukan oleh CAIR California ketika terjadinya penghinaan terhadap Nabi Muhammad dalam bentuk kartun yang dipublikasikan oleh koran Denmark, pada saat kasus ini sedang bergejolak maka mereka dengan sigap menyebarkan CD, VCD dan DVD gratis dalam edisi bahasa Inggris tentang sejarah Rasulullah Sallahu Alaihi Wassalam kepada masyarakat non-Muslim, demikian pula aksi yang mereka lakukan dalam menyebarkan 30.000 Al-Quran dengan terjemahan bahasa Inggris di kalangan masyarakat non-muslim ketika terjadinya kasus tercemarnya Al-Quran di penjara Guantanamo Bay. Aksi-aksi inilah yang sering masyarakat dunia tidak tahu bahwa di Amerika sendiri para aktifis dakwah mereka telah bergerak dengan cara elegan, cerdas dan sistematik. Mereka tidak bergerak melalui senjata melainkan melalui pena, dialog, workshop, penyaluran donasi, kontribusi bantuan kemanusiaan dan lobbi-lobbi politik. Sehingga sebagai contoh, Islamic Relief yang bergerak dibidang kemanusiaan tidak segan-segan bekerjasama dengan organisasi-organisasi Kristen dalam aksinya sebagai salah satu strategi memperkenalkan nilai-nilai Islam. Lahan dakwah yang menantang di Amerika Serikat tentunya memerlukan strategi yang cerdas dan inovatif. Mereka menghadapi dua tantangan besar dari masyarakat muslim Amerika sendiri untuk bisa menjadi Istiqomah dan dari masyarakat non-Muslim Amerika agar tidak menjadi fobia terhadap Islam dan bisa menerima gaya hidup orang-orang muslim disana.
Memetik Hikmah

Menetap di Amerika sama halnya ketika kita menetap di negara mana saja. Ada kekurangan dan ada kelebihannya. Pengamatan saya selama sembilan minggu disana telah mengubah persepsi awal saya tentang kehidupan disana. Banyak hal positif yang bisa kita lihat seperti model masyarakatnya yang sopan ketika bertemu, sikap mereka terhadap the disabled people (orang-orang cacat) yang sopan, profesionalitas dalam bekerja yang sangat tinggi, sarana pendidikan yang berlimpah, kebijakan berekspresi dan mengeluarkan pendapat yang dijunjung tinggi, kesadaran masyarakat terhadap urgensi donasi, dan seterusnya. Tetapi disisi lain, di negara ini pun memiliki kekurangan, misalnya sistem kapitalisme yang mendominasi sehingga membentuk budaya materialistis dan hedonis, pergaulan yang tak terjaga, tingkat kriminalitas yang tinggi, beberapa kebijakan hak asasi manusia yang kebablasan, sifat individualistik yang tinggi, fobia terhadap Islam, kebijakan politik yang kadang-kadang merugikan negara-negara Islam dan miskin. Tapi bagaimanapun Amerika yah tetap Amerika, negara super adi daya yang lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Kita hanya berharap masyarakat Muslim disana bisa Istiqomah dengan kehidupannya dan tidak akan ada lagi ucapan seperti ini “I don’t need pray here Rahma because I am in America now” (Saya tidak perlu shalat disini Rahma sebab saya berada di Amerika sekarang). Pernyataan yang sangat mengejutkan saya ketika pertama kali berdiskusi dengan seorang muslim dan juga mahasiswa master University of Arkansas. Dia berasal dari Turkmenistan yang mana kewajiban shalatnya sudah lama ia tinggalkan. Wallahu Allam Bisshawab

(Dedicated to Abu Tarik dan Keluarga di California, Kak Nasir Badu di Illinoi, Dek Cut Intan Meutia di Vermont, PERMIAS dan Fullbright Scholars di Fayatteville, Kak Anik, Mas Ali Rahman, dan Pak Sanusi di Malaysia, thank you so much for your helpful, kindness and sincerity. Hopefully, we always keep in touch whereever you are)


Rahmawati Latief, 020308, 12.06 pm Pusat Hentian Kajang.
Mengenang Kembali Masa-Masa Indah di Arkansas

One thought on “Menikmati Perjalanan Di Negeri Paman Sam

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s