UNTUK PEREMPUAN; Sepatah Petuah di Hari Raya

Di suatu momen di pagi Hari Raya, Rasulullah saw menyempatkan diri untuk menghampiri jamaah wanita Shalat `Id di lapangan. Beliau lantas memberikan sebuah petuah, “Yâ ma`syara’n nisâ’… tashaddaqna! Fainnî ra’aitukunna aktsara ahli’n nâr.” (“Wahai para wanita, gemarlah bersedekah! Sebab aku telah melihat bahwa kalianlah penduduk neraka yang paling banyak.”). Mendadak para jamaah itu bertanya balik kepada Rasul, “Kenapa bisa begitu wahai Rasulullah?” . Jawab Rasul, “tuktsirna’l la`na, wa takfurna’l `asyîr” (“Karena kalian suka melontarkan kutukan dan mengingkari kebaikan orang”).

Rasul lalu melanjutkan, “mâ ra’aitu min nâqishâti `aqlin wa dîn adzhaba li lubbi rajulin hâzimin min ihdâkunna” (“Aku tidak menemukan orang seperti kalian, yang meskipun kurang secara akal dan agama tapi bisa mengalahkan keteguhan seorang lelaki yang tegar.”). Para jamaah kembali bertanya balik, “Di mana letak kekurangan akal dan agama kami wahai Rasulullah?” . Rasul menjawab seraya bertanya, “Bukankah persaksian seorang wanita setara dengan separoh persaksian laki-laki?”. “Betul!” sahut mereka. “Itulah wujud kurangnya akal.” Kemudian Rasul bertanya lagi, “Bukankah ketika wanita sedang haidl, ia tidak sholat dan tidak puasa?”. “Betul!” jawab mereka. “Itulah wujud kurangnya agama.”

Hadits muttafaq `alaih riwayat Abu Sa’id, Ibnu Umar, dan Abu Hurairah radliyallâhu `anhum ini di zaman kontemporer sering menjadi poros pertentangan banyak kalangan. Poin paling utama yang dipertentangkan adalah stratemen Rasulullah saw di atas yang tegas-tegas menyatakan bahwa dibanding laki-laki, perempuan memiliki kekurangan secara akal maupun agama. Kekurangan secara akal, ditandai oleh kenyataan bahwa ketika menetapkan syariat persaksian (khususnya dalam persaksian hutang), Allah menyetarakan persaksian seorang wanita dengan separoh persaksian laki-laki. Sedangkan kekurangan secara agama, tampak nyata dalam perbandingan kuantitas amalan sholat dan puasa antara laki-laki dan perempuan ketika masa-masa datang bulan. Statemen yang sangat jelas ini sering diingkari dengan dalih bahwa hal itu merupakan penghinaan nyata terhadap harkat dan martabat perempuan. Juga karena hal itu bertentangan dengan semangat `kesetaraan jender’. Padahal dalam hadits di atas, Rasulullah saw menjelaskan bahwa kekurangan akal dan agama tersebut adalah kekurangan yang sifatnya alami (karena faktor fisiologi), dan beliau sama sekali tidak mencela para perempuan karena kedua kekurangan ini. Para perempuan yang disebutkan itu masuk neraka juga bukan gara-gara kedua kekurangan tadi, akan tetapi karena kegemaran mereka untuk melontarkan kutukan dan karena mereka suka mengingkari kebaikan orang. Juga karena tabiat ketiga perempuan yang sebentar lagi akan kita singgung dalam tuliusan ini.

Yang cukup ironis, perdebatan kusir zaman ini mengenai benar-tidaknya statamen argumentatif Rasulullah tersebut, ternyata cukup membuat kandungan utama hadits fi`ly sekaligus qawly di atas menjadi terlupakan dan tak lagi mendapat perhatian. Orang lebih kerap berdebat mengenai benar tidaknya kekurangan akal perempuan dibanding laki-laki. Sebagian berusaha membantah statemen Rasulullah di atas dengan mengatakan bahwa secara faktual di sekolah-sekolah dan tempat-tempat kerja, banyak perempuan yang lebih cerdas dari rekan-rekannya yang laki-laki. Sebagian lain, berusaha mentakwil kandungan hadits di atas dengan menyatakan bahwa saat itu Rasulullah hanya bergurau dan sedang bercanda. Bahkan sebagian yang lain, menolak mentah-mentah hadits tersebut atau mempersempit cakrawalanya dengan mengklaim bahwa statamen itu adalah bias budaya patriarkis yang telah memasung martabat perempuan.

Padahal statemen tersebut adalah penilaian secara umum dan rata-rata. Sehingga bisa saja ada wanita-wanita tertentu yang lebih unggul akalnya dibanding banyak lelaki. Tapi tetap saja ada banyak lelaki lain di dunia yang lebih unggul dari wanita tersebut. Sebagaimana Maryam binti Imron adalah wanita pilihan di seantero jagad manusia dan kedudukan serta akalnya jauh lebih râjih dibanding banyak laki-laki. Akan tetapi, beliau masihlah tidak sebanding dengan para nabi dan rasul yang semuanya laki-laki. Kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki adalah kelebihan natural yang memang dianugerahkan oleh Allah semenjak awal, sebagaimana Allah melebihkan fisik Kaum `Ad, nasib Bani Israel, dan daya hafal Bangsa Arab. Begitu juga kelebihan orang dewasa dibanding anak-anak. Semua ini adalah wujud anugerah yang sama-sekali tidak mengurangi nilai keadilan. Apalagi, segala kelebihan ini juga adalah nikmat yang harus disyukuri dan disalurkan dalam ketaatan, seperti kata Nabi Sulaiman as, “liyabluwanî a’asykuru am akfuru”. Di sisi lain, perempuan juga memiliki kelebihan-kelebihan unik yang tidak dipunyai oleh laki-laki. Jadi segala natur ciptaan Allah dan segala butir aturan syariat-Nya ini telah tersusun secara proporsional, kompak, hikmah, dan saling melengkapi.

Rasulullah saw ketika momen Hari Raya tersebut juga tidak mungkin sedang bergurau atau bercanda. Sebab konteks hadits tersebut adalah konteks pemberian nasehat dan peringatan akan api neraka. Kalaupun sedang bergurau, tentu juga sudah maklum bahwa Rasul tidak pernah bergurau dengan hal-hal yang mengandung kebohongan. Menganggap budaya patriarkis sebagai budaya yang memasung martabat perempuan (bukan menempatkan perempuan pada posisi yang semestinya) juga adalah argumentasi rapuh yang dibangun di atas asumsi non-analitis yang sama sekali tidak aksiomatis. Di sini lain, sangkalan ini juga sebenarnya hanya sekedar pengalihan gawang dari titik pertentangan yang sesungguhnya. Kembali ke poin saya di awal. Gara-gara perdebatan mengenai “kekurangan akal” tersebut, banyak kalangan yang justru melalaikan kandungan utama dari hadits di atas. Padahal hadits ini memuat petuah profetik yang sangat signifikan bagi kaum perempuan. Rasulullah menjelaskan bahwa ada tiga tabiat jelek yang kerap mengjangkiti perempuan dan berpotensi untuk menjadi faktor yang akan mengantarkannya pada pintu neraka. Ketiga faktor itu adalah (1) iktsâru’l la`nah, (2) kufrânu’n ni`mah, dan (3) iftitânu’r rijâl. Tingkat kesempurnaan perempuan juga bisa diukur dari seberapa kecil ketiga tabiat ini tersemat dalam dirinya. Yang pertama artinya suka mencela, mencibir, mencerca, mengutuk, dan melontarkan sumpah serapah. Yang kedua artinya suka mengingkari pemberian dan kebaikan yang sudah diberikan oleh orang lain, terutama suaminya. Seperti disinggung oleh hadits lain di Shahîh Bukhâry, banyak kalangan istri yang suaminya sudah sedemikian rupa berkorban dan berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik baginya, namun ia justru menyangkal dengan mengatakan “kamu belum memberiku apa-apa!”. Sedangkan faktor ketiga adalah bahwa dengan segala kekurangannya secara intelektual maupuan agama, perempuan memiliki `daya pikat’ dan `kekuatan rayu’ yang sangat besar yang mampu meruntuhkan pertahanan seorang laki-laki, yang tegar sekalipun. Ketika potensi ini digunakan oleh perempuan untuk menggelincirkan laki-laki sehingga melakukan perbuatan tercela atau melalaikan kewajiban utama, maka tentu saja potensi rayu ini akan berpulang menjadi faktor bencana bagi perempuan itu sendiri dan mengantarkannya ke pintu neraka.

Itulah tiga karakter yang rawan menjadi faktor bencana bagi perempuan. Tapi Islam bukan agama yang compang-camping. Bukan juga syariat yang menyulitkan atau aturan yang memberi beban. Tatanan sistem samawi yang bersumber dari Tuhan yang Mahakasih, Mahaadil, dan Mahatahu ini tentu sudah tersusun secara cermat dan seimbang. Kekurangan-kekurang an perempuan di atas, ditutupi oleh pemberian pahala yang amat besar untuk hal-hal yang sederhana atau biasa dilakukan. Kesabaran perempuan ketika mengandung dan merawat anak, adalah ibadah besar yang membuat seorang ibu memperoleh hak balas tiga kali lipat dibanding seorang bapak. Ketaatan seorang istri terhadap suaminya, juga merupakan ibadah utama yang seperti dinyatakan Rasulullah, “ta`dilu dzâlika kullahu!”, artinya setara dengan ibadah-ibadah haji, jamaah, dan jihad di sabilillah. Padahal, mentaati suami dan memelihara anak adalah aktifitas tradisional yang memang biasa dilakukan oleh perempuan, dengan maupun tanpa agama.

Selain itu, dalam hadits di atas Rasulullah memberikan sebuah resep canggih yang bisa menutupi ketiga potensi negatif perempuan tadi, yaitu “banyak bersedekah”. Dalam riwayat Muslim ditambahkan frase “dan banyaklah beristighfar” . Sedekah ini mencakup sedekah harta, tenaga, ucapan, doa, nasehat, perhatian, dzikir, shalat sunat, dan sebagainya. Sedekah ini sekilas kelihatan sepele, tapi ia sebenarnya memiliki nilai yang amat tinggi. Seperti sabda Rasul, “ash-shadaqatu tuthfi’u’l khathâyâ kamâ yuthfi’u’l mâ’u’n nâr”. Kita pun menyaksikan, bahwa rata-rata perempuan yang gemar bersedekah dan membantu orang papa, adalah juga perempuan-perempuan tangguh yang tidak lagi “gemar mengutuk”, tidak lagi “mengingkari kebaikan”, dan tidak lagi “suka merayu”. Itulah yang dicontohkan oleh wanita-wanita sempurna seperti Maryam, Asiyah, dan Khadijah. Itupula yang kemudian dipraktekkan oleh para shahabiyat ketika mendengar petuah Rasulullah di atas. Itu pula yang sedang ingin saya sampaikan kepada para pembaca. Meskipun saya juga maklum, bahwa tulisan ini akan lebih banyak dibaca oleh laki-laki. Akhirnya, saya harus mengakhiri tulisan ini dengan berharap semoga momen Syawal tahun ini bisa menjadi momen bagi terbukanya curahan rahmat dan maghfirah dari Allah Ta’ala kepada kita. Amin.

* anggota ICMI

2 thoughts on “UNTUK PEREMPUAN; Sepatah Petuah di Hari Raya

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s