Halah… Bermimpi itu mudah, kok! (Benarkah???!)

“Jangan hanya bisanya bermimpi kamu! Bermimpi itu mudah. Tapi mewujudkannya itu yang susah”

Demikian mungkin salah satu fragmen kehidupan yang pernah kita dengar. Baik dalam kehidupan nyata maupun dalam dunia maya melalui tayangan-tanyangan fiksi di televisi. Mungkin banyak juga yang akan beranggapan demikian.

Bahwa memiliki mimpi itu mudah. Bermimpi bisa dilakukan oleh setiap orang di dunia ini. Namun benarkah memiliki mimpi itu semudah itu?

Hmmm tidak juga ternyata. Setidaknya hal tersebut dibuktikan dari beberapa email yang ditanyakan kepada saya dengan nada hampir serupa. Pertanyaan yang muncul dari tulisan saya di blog ini tentang 100 target (mimpi) dan kertas buram atau video motivasi dan penyambutan mahasiswa baru IPB 2008 yang juga saya upload di blog ini.

Namun tulisan kali sungguh bukan untuk meremehkan atau sekedar menggungjingkan pertanyaan itu. Justru saya berterima kasih kepada mereka yang bertanya, karena dari sana kemudian terinspirasi untuk share yang saya harap dapat memberi manfaat bagi kita semua. Bahwa memiliki mimpi itu tak selalu mudah.

Kita simulasikan saja begini. Ambil secarik kertas dan alat tulis. Tarik nafas dalam-dalam. Kemudian tuliskan 100 mimpi (target) yang ingin anda capai selama waktu tertentu. Katakanlah 2 tahun. Coba lakukan. Kemudian coba katakan kepada saya apakah Anda bisa menyelesaikan menuliskan mimpi Anda dalam waktu 1 jam? (Kasih tahu ya…). Mungkin banyak yang bisa melakukannya. Tapi banyak juga ketika diberikan instruksi seperti ini akan justru banyak bingungnya, banyak berbicara, dan banyak mikirnya ketimbang memulai menuliskannya.

Namun banyak juga yang setelah mencoba menuliskannya pada saat mencapai 20-30 mimpi mereka kebingungan dengan mimpi apa yang harus mereka tuliskan. Setidaknya begitu yang ditanyakan oleh sekitar 20-an email bernada sama kepada saya.

“Kok bisa punya mimpi sebanyak itu sih? Gimana caranya? Apa tipsnya?” demikian kiranya pertanyaan tersebut tertulis.

Ada yang menarik di sini. Sedikit membuat saya tersenyum. Bukan meremehkan tapi geli jika dikaitkan dengan ungkapan bermimpi itu mudah namun mewujudkannya yang sulit. Lho ini bermimpi saja sudah susah bagaimana mau saat mewujudkannya. Mau bermimpi saja butuh tips. Bukan begitu logikanya?

Maka saya ingat kembali saat Ustadz Aris (motivator ABCO Training Center) dulu mengatakan sekitar 3 tahun lalu.

“Tulislah 100 mimpi Anda. Apa saja yang terlintas di benak Anda saat itu yang ingin dilakukan di masa depan. Tidak harus berurutan. Tidak harus yang muluk-muluk mimpinya. Mulailah dengan yang saat ini paling mudah untuk dilakukan tapi belum Anda lakukan. Tidak usah takut. Wong itu cuma mimpi kok!”

Dan kata-kata itulah yang saya tangkap dan ingat betul-betul. Karena itulah kata kuncinya. Bermimpilah secara alamiah dan sederhana. Tak usah dipaksakan dan tak perlu ribet memikirkannya.

100 mimpi yang saya tuliskan di atas kertas buram 3 tahun lalu itupun tidak semuanya mimpi-mimpi wah. Tidak pula teratur saya menuliskan. Karena saya menulis benar-benar apa yang ingin saya capai dan saya lakukan. Maka di dalam 100 target itu ada pula target-target sederhana seperti ingin bisa masak nasi goreng, ingin belajar membuat slide presentasi dengan Power Point, ingin membuat account friendster, atau yang paling “enggak banget” ingin salaman sama Aa’ Gym (hehehe… belum kesampaian euuy).

Sederhana bukan mimpi-mimpi saya? Maka saat itu, saya ingat menuliskan 100 mimpi itu tidak lebih dari 1 jam. Karena saya menuliskannya sehabis sholat maghrib di kamar asrama TPB IPB dan selesai sebelum adzan Isya’berkumandang.

Nah, saya rasa banyak orang yang kesulitan untuk menuliskan mimpinya, itu karena mereka terlalu berorientasi dengan mimpi-mimpi besar nan spektakuler. Namun di sisi lain mereka menjadi ragu karena mimpi besar yang mereka ingin tuliskan diiringi dengan pikiran-pikiran pesimis seperti:

“Tapi gak mungkin ah saya bisa seperti itu…” atau “kayaknya sulit deh…” atau yang lebih nyeleneh “…wong ndeso seperti aku kok mimpinya seperti itu…”

Padahal mimpi itu gak ada kaitannya apakah Anda orang ndeso atau mantan ndeso (hihihi… kan orang kota dulu juga asalnya dari desa… paling enggak nenek-nenek moyangnya dulu… eh atau pelaut ya mereka? Halah ini malah bahas apa toh! Back to topic).

Apakah ini salah satu indikasi bahwa semakin hari semakin banyak anak-anak Indonesia yang tak punya mimpi? Semoga saja tidak. Sungguh tak terbayangkan dunia anak-anak tanpa mimpi. Karena mimpilah yang mampu membuat mereka tersenyum bahagia ketika tak ada hal lain yang mereka miliki. Children of the Lost Dream… wuiiiih keren banget kedengarannya… tapi serem banget kalo itu nyata!

Saya tak ada maksud mengajarkan orang lain hanya menjadi pemimpi semata. Tapi juga menjadi pewujud mimpi-mimpinya. Coba lihat Andrea Hirata dalam bukunya Sang Pemimpi. Apakah ia hanya seorang pemimpi belaka? Tentu tidak. Ia adalah seorang pemimpi yang “jenius”. Mengapa? Karena mimpi yang ia miliki sungguh menawan, cara ia mewujudkannya sungguh ciamik, dan gabungan keduanya menghasilkan karya yang mampu menginspirasi banyak orang! Itulah Sang Pemimpi.

Yups ini baru masalah mimpi, guys! Maka kreatiflah untuk bermimpi. Gak ada kan yang menghalangi Anda untuk bermimpi? Jangan pikirkan: “nanti bagaimana”. Tapi pikir “bagaimana nanti…” itu mah nanti saja. Wong baru dalam pikiran kok aja kan?!.

Darimana dapat inspirasi untuk bermimpi? Dari mana saja bisa kok. Dari buku, dari orang lain, dari lingkungan sekitar, dari peristiwa berkesan… dari apa ajah. Asal… kreatif sedikit dan cobalah melihat sesuatu yang sederhana dari sudut pandang yang berbeda! Sebenarnya saya tak mau kasar. Tapi sedikit untuk pembelajaran mental mah kayaknya gak apa-apa kan kalau saya bilang: “Mau mimpi aja kok repot! Gak cihuy ah!” hihihi…

Maka benar kata ustadz Aris:

“Beranilah bermimpi! Karena itu barulah gagasan dan rencana. Dan itu pula adalah langkah awal. Jika awal melangkah saja Anda sulit bermimpi… maka sudah dipastikan bahwa Anda akan sulit di langkah berikutnya! Berani dan beranilah!”

Sooo… kesimpulannya adalah… mulailah mimpi dari yang paling sederhana, mulailah mimpi dari yang paling mudah untuk dilakukan, dan tentu mulailah mimpi dari mimpi diri sendiri… dan bukan mimpi orang lain! (Aa’ Gym minjem dikit yah!) Kemudian kejar dan wujudkan mimpi Anda. Karena bedanya Pemimpi dan Sang Pemimpi hanyalah pada konsep “gerakan”. Pemimpi hanya memiliki mimpi dan berhenti pada mimpinya. Tapi Sang Pemimpi selain ia memiliki mimpi… ia juga “bergerak” untuk mewujudkannya!

Beranilah bermimpi! Beranilah memiliki mimpi! Karena jika Anda tak mampu dan tak mau bermimpi… Anda hanya akan menjadi bagian mimpi orang lain!

Dare to dream and then realize the power of dreams!!! atau seperti kata Eleanor Rosevelt:

“The Future Belongs to Those Who Believe in The Beauty of Their Dreams.”

Thansks to: Ustadz Aris dengan “kekuatan sugesti mimpinya” yang telah membuatku mampu berdiri di salah satu puncak dunia, adik-adik angkatan 45 IPB yang sudah menanyakan pertanyaan penuh inspirasi, dan teruntuk yang spesial… mimpi dan imajinasiku yang konyol-konyol hehehe…

(Sumber: http://danangap7.multiply.com/journal/item/38)

 

 

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s