Yang perlu kita bangun bukanlah sekedar Sejarah! Tapi…

Sejak kecil saya sangat menyukai sejarah, khususnya sejarah peradaban dunia, tentang peninggalan-peninggalannya, kisah-kisahnya, dan tentu misteri-misterinya yang begitu menggelitik keingintahuan saya untuk tahu, tahu, dan tahu. Dan semuanya semakin menjadi ketika pertama kali Bapak mengajak saya menonton film Indiana Jones, tokoh archeolog dan juga petualang rekaan yang luar biasa. Meski saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar dan sama sekali tak mengerti ocehan para tokoh di film itu, namun demi melihat sepak terjang Dr. Jones, saya begitu dalam meresapi petualangan yang selalu mendebarkan itu, meski telah berkali-kali saya tonton. Dari film itulah kemudian saya selalu menjawab dengan mantab pertanyaan Ibu:

 

“Le, kalo dah besar kamu mau jadi apa?”

“ARCHEOLOG…” sambil membayangkan sosokku sebagai Indiana Jones itu. Kini setiap kali ingat itu saya selalu tersenyum jika melihat wajah Ibu merenggut tak paham.

 

Saya selalu berkhayal bisa menjadi seorang archeolog seperti Dr. Jones. Mempelajari sejarah dunia, mengungkap misteri di baliknya, melewati jebakan-jebakan maut di kuil-kuil tua, dan merasakan sari pati hidup lebih dari yang digambarkan oleh Andrea Hirata di bukunya, Tetralogi Laskar Pelangi. Petualangan. Itulah yang saya cari. Seperti Dr. Jones, yang keinginannya mengungkap teka-teki jauh lebih besar bahkan mengalahkan keinginannya mendapat harta karun. Karena baginya harta karun terbesar adalah sejarah dunia dan ilmu pengetahuan.

 

 

Setelah Dr. Jones, muncullah tokoh-tokoh lainnya yang juga sangat mempengaruhi minat saya pada sejarah dunia. Seperti Lara Croft dalam serial Tomb Raider yang lebih saya senangi lewat permainan komputernya ketimbang lewat filmnya, hingga ke Dr. Alan Grant dalam film Jurassic Park.

 

Dari sanalah perlahan namun begitu membekas dasar keingintahuan saya tentang sejarah tertanam kuat, bahkan menular pada bidang-bidang lainnya yang secara tak langsung berkaitan dengan sejarah. Geografi, Paleontologi, Antropologi, Zoologi, Biologi, Kimia, Fisika, dan lainnya juga turut menjadi topik bacaan saya. Saya selalu berkhayal tentang apa yang saya baca, seolah berada dan melihat yang saya baca. Membayangkan bagaimana Everest itu terbentuk atas tumburan daratan India ke arah Monggolia secara perlahan. Bagaimana manusia mampu mengukur kecepatan cahaya yang bahkan ada yang tak terlihat itu, atau menebak-nebak bagaimana Piramida di Mesir sana mampu dibangun pada zaman dahulu yang mesin traktorpun belum terpikirkan di benak manusia. Atau bagaimana Machu Picchu, the lost city of the inca, bisa dibangun di atas “awan” di Peru. Ikut membayangkan taman bergantung Babilonia bangsa Sumeria. Dan membayangkan bagaimana megahnya patung emas raksasa Zeus di Phartenon.

 

Saking cintanya dengan kisah-kisah peradaban dunia, guru sejarah dan geografi saya di kelas 5 SD, Herr Hachler, dulu sampai nawarin:

Ich habe viele buecher dass du lesen kann in mein Raum. Kommt doch einmal… dan akhirnya geleng-geleng begitu melihat saya habis “melahap” buku-buku miliknya dalam beberapa waktu. Hingga akhirnya di akhir perjumpaan dengan beliau, saya diberinya predikat sehr gut dalam pelajarannya, dan sebuah bingkisan kecil darinya. Tahukah apa isinya teman? Sebuah Taschen Messer. Pisau lipat merk Swiss Army yang sama dengan kepunyaannya Mcgyver. Yang juga selalu beliau bawa setiap kali dia mengunjungi situs-situs menakjubkan dunia. Dan kini selalu menemani perjalanan panjang saya.

Meski, impian saya jadi Archeolog tak pernah tercapai, dan kini jadi “nelayan” dan “tukang potret”, tapi rasa keingintahuan tentang budaya dan sejarah peradaban dunia tak pernah padam. Dan kemudian saya paham bahwa manusia itu begitu unik dengan pemikirannya yang menghasilkan budaya besar. Membutuhkan banyak otak-otak kreatif untuk menghasilkan sesuatu yang dahsyat, sayangnya saya hanya punya satu otak yang terbatas. Namun saya menyadari bahwa semua kedahsyatan ide manusia itu bisa saya ketahui bahkan kembangkan dengan jalan yang sederhana, membaca, melihat, dan merenungkanya, dan mempraktekkannya, meski hanya dalam simulasi.

 

Dari kegiatan itu saya tahu bagaimana para bushman yang menjadi pemeran film The Gods Must Be Crazy mampu survival dalam iklim yang ekstrim di gurun. Atau dari komik Master Keaton tentang teknik survival semi militer yang bisa diterapkan dalam kondisi darurat, seperti saat saya terperosok dalam salju sedalam 1,5 meter saat hunting foto di gunung sendirian. Bagaimana membuat senjata berburu mematikan hanya dari seranting dahan kering. Atau bagaimana Sun Tzu mampu mengalahkan musuhnya dalam the Art of War yang bahkan menjadi bacaan wajib para calon kadet militer di akademi militer ternama dunia, West Point, Amerika. Ataupun juga melihat foto-foto spektakuler, Robert Capa, fotografer perang legendaris yang meliput 5 perang besar dunia termasuk, pendaratan pasukan Allied Force di Omaha Beach, Normandy, Perancis ketika perang dunia kedua yang lebih dikenal dengan D-Day itu.

 

Bertahun-tahun lamanya saya kagum dengan berbagai kebudayaan dunia itu, dan membayangkan saya hidup di setiap zaman itu… benar-benar merasakan udara dan hawanya. Yang oleh mas Andrea Hirata ia istilahkan… “sari pati hidup”. Jika mas Ikal ingin merasakan saripati hidup dalam penjelajahan dan pencariannya dalam hidup, maka saya ingin merasakan sari pati hidup itu dalam setiap zaman kebesaran peradaban itu, meski hanya dalam khayalan.

 

Begitulah bertahun-tahun saya begitu kagum dengan semua itu hingga satu peradaban besar yang justru luput saya dalami. Hingga datanglah hari itu, ketika seorang sahabat meminta saya menemuinya sepulang dari mushola SMA di pertengahan tahun kelas 3. Ia tampak begitu antusias menunggu saya menyelesaikan bacaan Qur’an yang dilakukan bergilir dalam kelompok lingkaran itu. Hingga akhirnya ketika menjelang pulang ia berlari menghampiri saya sambil berkata:

 

“Kayaknya kamu perlu baca ini deh… Nang” begitulah ia memulai perbincangan singkat hingga menjelang maghrib sambil menyerahkan buku tebal nan berat dengan sampul menarik itu.

Tahukah apa judul buku itu kawan?

 

Shirah Nabawiyah…begitulah kecintaan dan kekaguman saya dengan peradaban Islam yang luar biasa ini muncul, membuncah-buncah. Membutuhkan waktu yang cukup lama hingga mengulang-ngulang beberapa kali membacanya untuk benar-benar memahaminya dan sekali lagi mengutip istilahnya mas Ikal… merasakan sari pati-nya. Masya Allah luar biasa, itu “buku sejarah” dari suatu peradaban yang luar biasa, tentunya setelah Al Qur’an yang mulia dan tak ada bandingannya. Dan tentunya saya membandingkan Shirah Nabawiyah sebagai sebuah buku dengan buku-buku yang saya baca sebelumnya, dan Al Qur’an bukanlah buku sehingga tak akan pernah terbandingkan.

 

Dari shirah nabawiyah itulah begitu banyak hikmah dan pelajaran yang saya petik kemudian digabungkan dari penjelasan-penjelasan lainnya. Jika selama ini saya hanya bisa mengkhayalkan hidup dalam peradaban yang telah punah dari muka bumi ini, maka peradaban Islam yang luar biasa ini bukan lagi sekedar khayalan, tapi kenyataan. Bahkan sayapun berkesempatan untuk turut serta dalam peradaban besar ini bersama saudara-saudara lainnya. Masya Allah.

 

Dan begitulah… dari satu buku ke buku lainnya saya berkelana mengenal peradaban besar ini, dan tak akan pernah habis peradaban ini dikaji.

Kemudian saya berkesimpulan, secara pribadi…

Yang kita bangun bukanlah sejarah. Karena sejarah adalah sesuatu dimasa lalu. Bukankah masa lalu adalah yang paling jauh dari kita? Pun, jika kita ingin membuat sejarah itu sebenarnya mudah. Pasti setiap manusia meninggalkan sejarah, apakah tertulis maupun tidak, dikenang atau tidak. Setiap orang punya sejarahnya. Yang membuat sejarah itu menjadi menakjubkan dam dikenang adalah titik-titik “ledakan” di dalamnya. Dan titik-titik ledakan itulah yang saya artikan sebagai peradaban. Maka bangunlah peradaban, bukan sekedar sejarah…

 

Tapi juga bukan sekedar peradaban biasa karena Allah pun telah memberi petunjuknya tentang syarat seperti apa peradaban itu harus dibangun:

 

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Al A’raaf:96)

 

Peradaban itu adalah negeri. Dan negeri itu adalah peradaban. Dan sebaik-baiknya negeri itu adalah negeri akhirat (syurga).

Dan begitu banyak tulisan lain yang telah lebih dahulu membahasnya dengan seksama. Baca, lihat, renungkan, kemudian lakukan.

Mari membangun peradaban ini kembali besar!!

 

“…Pahlawan Mukmin Sejati tidak akan membuang energi mereka untuk memikirkan apakah namanya akan ditempatkan dalam sejarah manusia atau liang lahat taman-taman pahlawan. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana mereka meraih posisi paling terhormat di sisi Tuhannya…” (Anis Matta, Mencari Pahlawan Indonesia)

 

-pembuatjejak-

 

(Menunggu koreksi, masukan, dan tentunya kritikan demi perbaikan)

 

Sumber: Al Qur’an, Memori Perjalanan (PJ), Mencari Pahlawan Indonesia, Shirah Nabawiyah, Sayid Quthb Books, dan  tulisan-tulisan lain dari teman-teman.

(Sumber: http://danangap7.multiply.com/journal/item/14)

 

 

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s