Tidak Ada Kata Terlambat Bagi Seorang Pemimpi

Selama ini kebiasaanku menulis apa saja yang kupikirkan, kurasakan dan kualami, menjadikan hidup ini seakan lebih bermakna. Namun sayangnya, tulisan yang kubuat hanya dikonsumsi secara pribadi. Jarang sekali aku memberanikan diri tuk mempublikasikannya, apalagi tuk dinilai orang lain. Waktu masa sekolah dulu atau awal semester kuliah, aku memang pernah mempublikasikan beberapa tulisanku via majalah dinding, tapi tak sebanyak dengan tulisan yang kutempel pada dinding kamarku. Alhasil, dinding kamarku dipenuhi dengan banyak cerpen dan puisi-puisi hasil karyaku sendiri. Di satu sisi, memang aku senang bisa menelurkan banyak karya, namun di sisi lain, sepertinya ada sesuatu yang kurang dari karya-karyaku itu.

Aku mulai paham kekurangan dari beberapa karyaku. Kekurangan yang kumaksud yaitu,  tak pernah aku mempubliksikan tulisanku lagi. Padahal kegiatan ini sangatlah penting. Dengan adanya kegiatan tersebut, tentunya akan ada tanggapan atau masukan dari pembaca. Dengan begitu, hal ini dapat meningkatkan kualitas tulisanku untuk selanjutnya.

Sebelas Juni 2011, awal ledakan semangatku untuk mempublikasikan tulisan. Muncul ide untuk membuat tulisan sederhana tentang penggalan kisah nyata yang kualami sejak kecil hingga saat ini. Lalu kuterbitkan melalui catatan facebook (Erpin Leader), berharap ada apresisiasi dari siapapun yang membacanya. Selang beberapa menit kemudian, Alhamdulillah simbol jempol pertanda suka dan komentar pujian muncul satu persatu di bawah catatan itu. Aku berkata dalam hati, “semoga ini pertanda baik, mungkin ini cara alam memeluk impian sang pemenang”.

Dua hari setelah catatan itu terbit, ada teman facebook yaitu Pujiati yang memberiku motivasi dan inspirasi. Awalnya, dia sangat asing bagiku, namun setelah sharing banyak dengannya mengenai mimpi dan seputar dunia tulis menulis, kami menjadi begitu akrab. Hal itu lah yang menyalakan kembali semangatku tuk menelurkan karya yang tak sekedar memperhatikan kuantitas saja, namun juga kualitasnya. Suatu ketika, Puji sempat memberi saran kepadaku. “Untuk bisa menulis kita perlu berlatih, tidak cukup sekedar dijadikan impian. Diperlukan media untuk menilai tulisan-tulisan kita, belajar dan terus belajar, sambil memahami makna hidup melalui tulisan. Ingat, tidak ada kata terlambat!, ucapnya, dengan penuh semangat”.

Dari apa yang terjadi beberapa hari ini, aku semakin yakin bahwa mimpi untuk jadi penulis profesional akan terwujud. Ternyata mimpi yang selama ini ku kejar, hanyalah impian-impian kecil untuk menyalakan impian besar,  yakni mimpi jadi penulis.

“Ya Allah,  beri hamba kekuatan untuk mewujudkan impian ini. Amin”.

 By Erpin Leader

 

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s