Amazing Kalau Anak Kampung Ketemu Bule

Assalamu’alaikum sobat-sobat sekalian🙂

Apa kabar semuanya? Moga selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT, terutama kesehatan mata, karena kamu sekarang lagi ngebaca tulisanku ini. hehe… O iya setelah beberapa minggu nanya ke Om google tentang bagaimana cara membuat menu dan sub menu , juga cara membuat foto album (gallery foto) pada wordpress, akhirnya semua itu sudah aku pelajari secara otodidak dan sekarang udah paham banget. Alhamdulillah Allah telah memberi kemudahan dengan itu semua. Kini saatnya aku berbagi segala pengalamanku mulai dari setahun yang  lalu hingga sekarang (wah banyak ya, Soalnya ditumpuk nih). Berbekal dengan pengetahuan penambahan album foto, maka tulisan-tulisanku nantinya akan semakin menarik insya Allah. Nggak sabaran deh. Sudah saatnya mulai dari sekarang, aku akan menuangkan hasil karyaku sendiri di blog ini. Nggak perlu lagi posting tulisan orang. Tapi mesti tulisan-tulisanku. Bukannya nggak boleh sama sekali, tapi ya paling tidak boleh lah, ada satu atau dua tulisan dari penulis lain.

Nah untuk tulisan perdanaku di bulan Juli 2011 ini, aku pengen berbagi pengalaman tentang perjalananku selama di Bali, 20-24 Juli 2011 (wah setahun yang lalu ya. Hihi) pada agenda Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) ke XXIII yang diselenggarakan oleh DP2M DIKTI. Tapi pada ulasan ini, aku ingin berbagi tentang pengalaman kami, teman-teman dari Palu yang menghabiskan waktu sorenya pada 24 Juli 2011 di Pantai Tanah Lot, Bali.

Sore itu, waktu begitu bersahabat dengan kami, 8 orang pemuda/i beserta 5 dosen pembimbing PIMNAS dari UNTAD tengah asyik menikmati panorama Tanah lot yang begitu menakjubkan. Mulai dari pintu masuk pantai itu, nggak dipungkiri lagi banyak bule berlalu lalang dihadapan kami, dan kami merasa amazing ketika melihat mereka. Hmmm, gak tahu kenapa, mungkin penyakit orang kampung? hehe…Beginilah nasib orang pedalaman (tuing :p) yang jarang menerawang wajah-wajah bule. Selain amazingnya melihat bule-bule tersebut, kami juga kagum melihat Pantai Tanah Lot yang begitu indah mempesona. Sore itu, kami tak melihat seorang pun mandi di pantainya. Nggak tahu kenapa, entah udah sore atau mungkin pantainya bukan dipakai mandi.  Padahal aktivitas itu, hal yang paling primary, pikirku. Banyak wisatawan malah memotret ke sana-kemari, trus ada juga yang hanya memandang keindahan ombak yang membuncah hati. Suasana tambah nyaman ketika banyak angin yang berhembus sana sini. Jadi jangan heran kalau rokku mengembang-ngembang dan jilbabku berantakan. hehe… O iya, satu aktivitas yang tak kalah penting yaitu banyak penduduk asli yang sedang melakukan upacara adat Bali di Goa yang terdapat pada pantai itu. Unik banget kan pantainya? wuiihhh ada goanya. Hm, panjang sejarahnya tentang goa itu, yang merupakan kepercayaan penduduk setempat. Coba nanya aja ke Mbah google. Pasti ada itu!

Saat aku memotret keindahan Tanah lot, seketika mataku terpana dengan seorang Ibu Bule bersama 2 anaknya. Nah kuhampiri mereka yang tengah asyik memotret sana sini juga. Aku dan salah seorang teman mencoba memberanikan diri tuk menghampiri mereka. Hihi…modal nekad nih. Padahal nggak tahu apa-apa.

“Excuse me, take picture together please” (waduh, maaf ya asal ucap aja nih)

“What? you ask me to take your photo?”  (Lebih kurangnya seperti itu maksudnya)

“no, no… take picture together. we, together (hahaha… asbun, tapi mereka ngerti… hihhihi)

Proses berfoto ria pun terjadi. Senangnya bukan main, saat ku bisa berfoto  dengan mereka. Kayak ada rasa gimanaaa gitu…(hehe lebay, rasa nano-nano sto’). Selang beberapa menit, teman-teman dan dosenku pun datang, kalo tidak salah saat itu berkumpul 9 orang Palu yang mengintrogasi sang bunda bule itu. Kami menanyakan asal usulnya, berapa lama liburan di Bali, wisata-wisata apa aja yang dikunjungi, dan sedikit  mempromosikan kota Palu. (hihi,,,). Satu hal yang membuat kutertawa geli, ketika kami berkeroyokan berbicara bahasa inggris dengan berbata-bata. Menebak pekerjaan si Bule itu aja susahnya minta ampun. Gak tahu kenapa ya? mungkin beliau terlalu banyak menggunakan bahasa slang. Akhirnya dengan penjelasan secara rinci dan ditambah bahasa tubuh (hihi,,,) akhirnya kami bisa menebak kalau beliau adalah seorang BIDAN (tuingggg…lama banget ditebaknya. Jadi malu ditau orang bule kalo orang Indo itu kurang yang paham bahasa inggris😦 mesti banyak belajar).

Kata orang, Tanah lot adalah salah satu tempat yang paling indah ketika melihat matahari terbenam. Wah so sweet banget kan. Aku aja belum pernah melihat sebelumnya. Makanya penasaran banget pengen lalui waktu itu di sana. But, it was not my lucky. Kami nggak bisa berlama-lama di sana. Soalnya kalo kami berada di sana hingga gelap, tidak dipungkiri shalat magrib kami akan terlewatkan. Nah makanya nggak disempatin ngeliat sunset. Yah mungkin di lain kesempatan. ^_^

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s