Belajar di Negeri Paman Sam Via Beasiswa IELSP cohort 9

Oleh Hesti Rahayu                                                     

Mahasiswa Ilmu Keperawatan Reguler 2008 Univ Indonesia,

IELSP Cohort IX Grantee

At The University of Kansas (June 1th to July 30th 2011)

Sumber: http://www.facebook.com/notes/hesty-rahayu/one-part-of-faith/215701455144273

^_________^

Sebelumnya tidak pernah terpikir untuk merasakan pendidikan di Benua Columbus, Amerika Serikat. Mimpi untuk belajar di Bumi Allah yang lain ini telah terukir di angan dan saya tuliskan di catatan yang saya tempel di meja belajar saya, agar saya selalu konsisten dan bersemangat untuk mengejar mimpi saya ini. Saya selalu berusaha untuk mencari peluang melalui beasiswa, yang dapat memfasilitasi mimpi saya, dan Allah menjawabnya melalui Beasiswa IELSP Cohort 9 bersama 17 teman yang luar biasa dari berbagai universitas di Indonesia. Subhanallah, Allah tidak pernah tidur dan selalu melihat usaha hambaNya dan mendengar doa setiap hambaNya yang berdoa.

Sebelumnya saya akan sedikit memperkenalkan diri saya. Saya hanyalah mahasiswa biasa yang mendapatkan kesempatan dari Allah untuk belajar di salah satu universitas terbaik di Indonesia, yaitu di Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia. Kebetulan saya diterima di UI melalui jalur PPKB (Program Pemerataan Kesempatan Belajar), yaitu jalur masuk UI tanpa melalui tes. Setelah melalui berbagai seleksi, saya mendapatkan beasiswa pendidikan penuh selama belajar di UI sampai lulus sarjana. Saya sudah menanamkan tekad dalam diri saya bahwa saya harus hidup mandiri di Jakarta. Meskipun orang tua saya cukup mampu membiayai biaya hidup saya, saya tidak mau terlalu merepotkan mereka karena saya sayang mereka. Cukuplah mereka membiayai kedua adik saya. Saya sudah tidak meminta uang bulanan dari orang tua sejak saya duduk di semester 3 sampai sekarang. Saya berharap saya dapat membalas jasa kedua orang tua saya sesuai yang saya dapat lakukan saat ini. Saya kerja part time di bagian kemahasiswaan fakultas saya dan mengajar di bimbel maupun privat, karena pada dasarnya saya sangat suka mengajar. Berangkat dari sinilah saya belajar untuk hidup mandiri meskipun ketergantungan dengan orang tua tetap ada walau sedikit.

Kemampuan akademik saya standard saja. Saat ini saya aktif sebagai ketua salah satu BSO di fakultas saya. Saya suka berorganisasi. Saya sering berpartisipasi dalam kepanitiaan baik di fakultas maupun di UI. Saya senang bersosialiasi, mempunyai banyak teman dan relasi. Prinsip hidup saya adalah jadilah diri sendiri, berusaha yang terbaik yang bisa kita lakukan, dan teruslah berjuang mengejar mimpi-mimpi kita. Jangan takut untuk bermimpi karena Tuhan dan kekuatan positif alam akan mendukung mimpi-mimpi kita dan membantu mewujudkannya menjadi nyata melalui perjuangan tanpa mengenal lelah yang telah kita lakukan.

Saya mempunyai teman-teman yang sangat menginspirasi. Saya bersyukur diberi kesempatan Allah untuk belajar di UI. Teman-teman saya mempunyai prestasi yang luar biasa baik di dalam maupun di luar negeri. Hal inilah yang memperkuat mimpi saya untuk dapat seperti mereka. Keinginan saya untuk menikmati pendidikan di negara lain semakin kuat. Saya bercita-cita untuk memperdalam ilmu kardivaskuler di Australia dan Amerika karena di kedua negara ini ilmu kesehatan dan keperawatan sangat bagus. Setelah itu, saya akan kembali ke Indonesia dan berperan serta dalam meningkatkan kesehatan masyarakat melalui ilmu yang saya miliki. Saya berharap hidup saya dapat berguna bagi orang lain, minimal orang-orang di sekitar saya.

Di kesempatan ini saya akan berbagi pengalaman selama dalam perjalanan berkompetisi untuk mendapatkan beasiswa IELSP Cohort 9, pengumuman diterima sebagai salah satu peserta IELSP Cohort 9, Persiapan keberangkatan ke Amerika, Perjalanan ke Amerika bersama 17 IELSP Cohort 9 grantees yang lain, Perkuliahan di Amerika, dan Kehidupan di Amerika.

What is IELSP Cohort 9 Scholarship

IELSP (Indonesian English Language Study Program) merupakan beasiswa penuh untuk belajar bahasa Inggris selama 8 minggu di universitas bergengsi di Amerika Serikat. Perserta akan belajar di kelas Immersion bersama mahasiswa internasional dari negara lain, seperti China, Jepang, Korea, Spanyol, Iran, Pakistan, Arab Saudi, Irak, dsb. Peserta juga akan terlibat dalam berbagai aktivitas sosial dan budaya. Di kesempatan ini, peserta berkesempatan mempelajari budaya Amerika Serikat dan negara lain. Cohort berarti angkatan keberangkatan grantees ke Amerika. Setiap Cohort, ada 2 gelombang keberangkatan yang terbagi ke dalam 4 universitas. Pada IELSP Cohort 9, terdapat 2 gelombang keberangkatan. Gelombang pertama(30 Mei – 30 Juli 2011)  di The University of Kansas (Kota Lawrence, Negara Bagian Kansas) dan IOWA State University (Kota Ames, Negara Bagian IOWA). Gelombang kedua diberangkatkan pada Bulan Oktober di Negara Bagian Virginia dan Arkansas. Saya dan 17 teman saya berangkat pada gelombang pertama di University of Kansas, Negara Bagian Kansas.

Untuk Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Indonesian International Education Foundation (IIEF)

Menara Imperium Lt.28 Suite B

Jl. H. R. Rasuna Said Kav. 1 Kuningan

Jakarta 12980

Telp: 021-831 7330, Fax: 021-831 7331

(Pada Jam Kerja)

Email: scholarship@iief.or.id

Kompetisi Untuk Mendapatkan Beasiswa IELSP Cohort 9

Peserta beasiswa IELSP adalah mahasiswa minimal semester 5 universitas negeri maupun swasta di seluruh Indonesia, yang belum melakukan sidang kelulusan. Jumlah pendaftar IELSP Cohort 9 kurang lebih 1.500 dari seluruh Indonesia. Peserta diwajibkan mengirimkan berkas aplikasi ke IIEF pada kurun waktu yang telah ditentukan. Peserta harus melengkapi form aplikasi yang dapat didownload di http://www.iief.or.id

Di dalam form aplikasi peserta diminta mengisi data diri dan menuliskan beberapa esai dalam Bahasa Inggris tentang:

–          Personal life and family

–          Personal statement (alasan mendaftar beasiswa dan mengapa kamu pantas memperoleh beasiswa ini)

–          Masalah yang sedang dihadapi Indonesia saat ini dan apa kontribusimu

–          Cita-cita jangka panjangmu dan keterampilan apa yang kamu butuhkan untuk meraihnya

Berkas kemudian akan diseleksi oleh panelis independent (Bukan IIEF) dan peserta yang lolos seleksi berkas akan mengikuti seleksi selanjutnya, yaitu wawancara. Pada IELSP Cohort 9 ini jumlah peserta yang lolos seleksi berkas ada 639 dari seluruh Indonesia, sedangkan peserta dari UI berjumlah 30 orang. Wawancara dilakukan di daerah-daerah tertentu di seluruh Indonesia. Bagi daerah yang mudah dijangkau, peserta datang langsung ke tempat wawancara, sedangkan daerah yang sulit dijangkau dapat dilakukan melalui telepon. Wawancara ada yang dilakukan dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia, tergantung pewawancara.

Ketika saya wawancara, saya harus datang langsung ke tempat wawancara yaitu di LBI Salemba di FK UI. Pewawancara saya adalah native sehingga saya wawancara dengan menggunakan Bahasa Inggris. Pertanyaan yang diberikan tidak jauh dari form aplikasi yang telah saya tulis. Pada saat wawancara, tunjukkanlah attitude yang baik dan jadilah dirimu sendiri. Tunjukkan pribadimu yang sebenarnya, kelebihan dan kemampuan yang kamu miliki yang tidak dimiliki oleh orang lain, dan kesungguhan dalam mengikuti program beasiswa ini. Peserta yang diharapkan oleh beasiswa ini adalah peserta yang mandiri, dewasa, bertanggung jawab, percaya diri, berpikir terbuka, dan mempunyai toleransi dan sikap menghargai terhadap perbedaan. Pada saat wawancara, yakinlah pada kemampuan dirimu sendiri dan kekuatan Allah yang selalu menjadi pegangan kita.

Sebagian teman-teman saya yang diterima sebagai grantee di IELSP Cohort 9, diwawancara melalui telepon dan ada juga yang menggunakan Bahasa Indonesia. Dengan demikian, kemampuan Bahasa Inggris yang sangat bagus tidak begitu diperlukan di sini, lebih ke personality dan kemauan untuk mengembangkan potensi.

Peserta yang lolos seleksi wawancara adalah penerima beasiswa IELSP yang akan berangkat ke Amerika untuk belajar Bahasa Inggris intensif dan sebagai duta budaya Indonesia. Peserta ini ditentukan oleh Panelis Independent, sedangkan IIEF melanjutkan tugas untuk mengkoordinasikan keberangkatan peserta ke Amerika.

Pengumuman Peserta Penerima Beasiswa

Pengumuman peserta beasiswa dilakukan melalui telepon kemudian disusul dengan surat resmi yang dikirimkan ke alamat peserta masing-masing. IIEF menghubungi peserta yang lolos seleksi. Jumlah penerima beasiswa IELSP Cohort 9 berjumlah 72. Hanya 1 peserta dari UI yang diterima dari 30 peserta yang mengikuti wawancara. Pada gelombang pertama, jumlah peserta yang berangkat ada 36 dimana 18 peserta di University of Kansas dan 18 sisanya di IOWA State University. Pada gelombang kedua, jumlah peserta yang berangkat ada 36 peserta dimana 18 peserta di Virginia dan 18 sisanya di Arkansas.

Penentuan keberangkatan adalah kebijakan IIEF, apakah kita akan diberangkatkan pada gelombang pertama atau kedua. Namun, kita bisa mengajukan permohonan untuk berangkat pada gelombang tertentu dengan alasaan yang rasional. Saya pada waktu ditelpon dan diumumkan sebagai salah satu perserta IELSP Cohort 9, langsung bersyukur kepada Allah yang telah mewujudkan salah satu mimpi saya. Selanjutnya saya bertanya kepada IIEF tentang gelombang keberangkatan saya. Sebelum ditentukan waktu keberangkatan saya, saya memohon kepada IIEF agar saya berangkat pada gelombang pertama, yaitu Bulan Mei agar tidak mengganggu kuliah saya di FIK. Jika saya berangkat pada gelombang 2, yaitu bulan Oktober, saya tidak dapat mengikuti perkuliahan semester 7 selama 2 bulan di FIK dan itu artinya saya harus mengganti kuliah saya tahun depan karena sistem perkuliahan di FIK adalah blok. Dengan kata lain, jika saya berangkat pada gelombang 2, kuliah saya di FIK akan terlambat 1 tahun dan saya tidak ingin itu terjadi. Selain saya memohon secara langsung  agar berangkat pada gelombang 1 pada saat pengumuman, saya juga membuat surat pengantar dari fakultas yang memohon agar saya diberangkatkan pada gelombang 1 dengan berbagai alasan akademik. Saya belajar pengalaman ini dari kakak tingkat saya di FIK, yang juga alumni IELSP, harus terlambat kuliah selama 1 tahun di FIK karena jadwal belajar di Amerika yang tidak sesuai dengan jadwal belajar di FIK.

Segala puji bagi Allah, permohonan saya untuk berangkat pada gelombang 1 dikabulkan. Saya berangkat pada tanggal 30 Mei, setelah Ujian Akhir Semester 6 selesai, meski ada satu mata kuliah dimana saya harus mengerjakannya di Amerika bersama dengan teman-teman saya di FIK. Ini merupakan pengalaman baru bagi saya, yaitu mengerjakan ujian akhir di waktu yang sama pada tempat yang berbeda, dimana saya harus menyesuaikan waktu saya dengan waktu di Indonesia. Pada waktu itu saya mengerjakan ujian pukul 9 malam ketika teman-teman saya mengerjakan di kampus pukul 9 pagi. Sungguh pengalaman yang tidak terlupakan.

Berikut ini adalah nama-nama peserta IELSP Cohort 9 di University of Kansas:

  1. Hesti Rahayu                                                       Universitas Indonesia
  2. Fransisca Christanti Tri Wulandari            Universitas Gajah Mada
  3. Nur Muhammad Malikul Adil                      Institut Teknologi Bandung
  4. Rahman Jinar hadi                                           Institut Pertanian Bogor
  5. Bahrum Lubis                                                     Universitas Diponegoro
  6. Nuur Raafi Wulandari                                     Universitas Airlangga
  7. Ni Putu Ayu Stiratna                                       Universitas Udayana
  8. Dela Anjelawati                                                  Universitas Bengkulu
  9. Afriyanti Kartika Dwi                                      Universitas Pendidikan Indonesia

10.  Srilian Laxmiwaty Dai                                   Universitas Negeri Gorontalo

11.  Muhammad Heru Arif Edytia                     Universitas Syah Kuala Aceh

12.  Boby Satria                                                        UIN Sultan Syarif Kasim Riau

13.  Muhammad Imam Nasef                              UII Yogyakarta

14.  Luthfi Nur Muntafiah                                     STAIN Ponorogo

15.  Muna Izzati                                                        Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin

16.  Sarwo Zulfahmi                                                UIN Alauddin Makassar

17.  Suwandi                                                               STAIN Palopo, Sulawesi

18.  Ade Silvana                                                        IAIN Imam Bonjol Padang

Ketujuh belas teman-teman saya ini adalah grantees yang sangat luar biasa, calon pemimpin bangsa yang insyaAllah akan membawa perubahan yang lebih baik bagi Indonesia. Selama 2 bulan kami berjuang bersama di Lawrence, Kansas untuk melakukan yang terbaik. Mereka adalah keluarga baru bagi saya dan sangat menginspirasi saya untuk terus berusaha menjadi lebih baik.

Persiapan Keberangkatan ke Amerika

Setelah kami mendapat pengumuman sebagai grantees IELSP Cohort 9, kami selalu berkoordinasi dengan IIEF. Orang yang sangat baik yang mengurusi keberangkatan kami ke Amerika adalah Mbak Cici, Mbak Vera, dan Mbak Fenti. Mbak Cicilah yang selalu mengingatkan kami untuk mengirimkan berkas kelengkapan ke IIEF sebagai persyaratan keberangkatan, mengurus paspor, dan visa.

Setelah mendapat pengumuman diterima, saya langsung mengurus paspor. Saya mempunyai pengalaman yang sangat menarik ketika mengurus paspor karena ini adalah pengalaman saya yang pertama kali. Saya banyak bertanya kepada teman kos saya yang sebelumnya sudah pernah ke China sehingga sudah mempunyai pengalaman untuk membuat paspor. Teman saya ini adalah Erny, mahasiswa Epidemiologi, FKM UI. Kami pergi ke Kantor Imigrasi di Grand Depok City pukul 3.00 dari kosan. Subhanallah sangat pagi sekali. Salah satu pertimbangan kami adalah kami ada kuliah pagi, saya kuliah pukul 8 sedangkan Erny kuliah pada pukul 10. Berdasarkan pengalaman Erny, memang mengurus paspor itu cukup ribet dan harus antre pagi-pagi buta agar paspor jadi lebih cepat, karena saya pada waktu itu hanya diberi waktu 2 minggu untuk mengurus paspor. Ternyata sistem pembuatan paspor 1 bulan yang lalu, yang dialami Erny, berbeda dengan waktu saya memproses pembuatan paspor. Kantor imigrasi masih sangat sepi dan kami seperti orang hilang di luar kantor. Dengan polosnya kami memanggil petugas yang ada di dalam kantor, tetapi tidak ada reaksi. Kami hanya saling pandang dan tertawa sendiri. Sungguh konyol.

Kemudian kami sholat shubuh di masjid dekat kantor imigrasi. Di masjid kami bertemu dengan orang yang menawarkan bantuan untuk membuat paspor secara instan dalam waktu 3 hari karena normalnya pembuatan paspor membutuhkan waktu 1-2 minggu, dengan harga Rp 700.000,00. Padahal, biaya pembuatan paspor yang normal adalah Rp 200.000,00. Kami pun menolaknya dengan halus. Setelah sholat subuh, kami kembali ke kantor imigrasi. Lagi, dengan polosnya kami memanggil petugas kantor imigrasi dari luar dan akhirnya petugas kantor imigrasi keluar dan membukakan pintu buat kami dan meminta kami menunggu di dalam sambil menunggu kantor imigrasi buka, yaitu pukul 8.00. Kami saling ngobrol sambil menunggu petugas kantor imigrasi membersihkan ruangan. Sungguh pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Perjuangan kami tidak sia-sia dengan berangkat sangat pagi karena saya mendapat urutan antrean yang pertama. Karena memang benar, mulai pukul 6 telah banyak orang yang berdatangan untuk antre sedangkan kapasitas berkas yang dilayani dibatasi. Artinya, jika berkas yang diterima melebihi batas yang ditentukan, kita harus mengurusnya di lain hari dengan antrean yang baru. Terima kasih Erny, kebaikanmu tidak akan pernah terlupakan.

Setelah beberapa kali kembali ke Kantor Imigrasi, akhirnya paspor saya jadi selama kurang lebih 2 minggu. Tepat 1 hari sebelum deadline yang diberikan IIEF. Saya langsung scan paspor dan mengirimkannya ke IIEF. Alhamdulillah. Selain itu, saya masih harus mengurus berkas-berkas lain yang dibutuhkan di sela kuliah dan praktikum yang sangat padat, menjelang ujian akhir semester 6. Pada waktu itu, managemen waktu saya tidak terkontrol karena terlalu banyak agenda: kuliah, tugas-tugas, kelengkapan berkas, dan organisasi saya di fakultas yang kebetulan sedang ada proker besar. Meskipun demikian, saya tetap mengatur waktu saya seefisien mungkin. Alhamdulillah semua terlampaui dengan baik.

Salah satu tujuan belajar di Amerika adalah sebagai duta budaya Indonesia. Saya juga mengajukan proposal ke pemerintah daerah saya di Sukoharjo untuk memohon bantuan souvenir atau misi budaya yang dapat saya bawa. Selain itu, saya juga memasukkan proposal ke fakultas dan ke UI. Di pemerintah daerah, saya mendapatkan brosur, CD budaya, dan naskah Puisi Jawa yang saya tampilkan ketika pertunjukkan budaya di Amerika, di fakultas saya mendapatkan brosur FIK, souvenir FIK dan UI serta sedikit uang saku. Selain itu, di UI saya mendapatkan uang saku untuk menunjang keberangkatan saya ke Amerika. Saya mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah Sukoharjo, FIK, dan UI yang telah mendukung kegiatan saya di Amerika. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Mas Tarto yang telah membantu saya menyusun proposal dan selalu mengingatkan saya agar segera menyelesaikan proposal ketika semangat saya sedang turun. Terima kasih juga kepada Erny yang telah menunjukkan contoh proposal yang dahulu pernah dipakainya sebelum berangkat ke China.

Sebelum berangkat ke Amerika, seluruh grantees yang akan diberangkatkan pada gelombang pertama, dipertemukan di PDO (Pre Departure Orientation). Kami orientasi di Hotel New Idola, Jakarta selama 3 hari 2 malam dan bertemu pertama kalinya dengan ke-17 teman saya yang sangat luar biasa, yang nantinya kami akan benar-benar menjadi keluarga ketika berjuang di Lawrence, Kansas. Selain itu, saya juga bertemu dengan teman-teman yang akan berjuang di negara bagian lain, yaitu di Kota Ames, Negara Bagian IOWA. Kami melakukan orientasi, medical checkup, dan merasakan pengalaman membuat visa di Kedubes Amerika Serikat. Ketika medical checkup, grantess diperiksa kesehatan secara keseluruhan oleh dokter OMNI Internasional yang datang ke Hotel, melalui pemeriksaan fisik dan diagnostic, tes urin, ronxen dada, dan vaksinasi MMR 1 (Measless, Mumps, Rubella). MMR merupakan imunisasi untuk penyakit campak, cacar, dan rubella. Setelah MMR 1, grantees harus melakukan imunisasi MMR 2 pada hari ke 25-30 setelah MMR 1.

Pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman saya tentang vaksinasi MMR adalah lakukan vaksinasi MMR “benar-benar” pada waktu yang telah ditentukan, jangan kurang atau lebih. Saya pada waktu itu melakukan imunisasi MMR 2 pada hari ke-24 setelah MMR 1 karena saya tidak ada waktu kosong selain hari itu. Hal ini dikarenakan minggu itu saya kuliah, kuliah lapangan, praktik di Rumah Sakit, ujian praktikum, dan ujian akhir semester, sebelum hari Minggunya kami akan berangkat ke Amerika. Di Amerika, kami menjalani medical checkup lagi di Watkins Memorial Health Center, pusat kesehatan mahasiswa di The University of Kansas. Dokter yang memeriksa saya mempertanyakan MMR 2 saya yang dilakukan tidak tepat waktu dan saya diminta melakukan MMR ulang dengan harga $ 60. Saya menolak untuk dilakukan MMR yang ketiga kalinya karena saya tahu efek samping vaksinasi MMR yang berlebih. Selain itu mempertimbangkan hanya selisih 1 hari dari waktu yang seharusnya. Akhirnya dengan penjelasan saya dan fasilitator saya di Amerika, Gerry dan Aaron, petugas kesehatan di Watkins mau memahami penolakan saya dengan catatan saya menanggung risiko atas efek samping vaksinasi MMR yang dilakukan tidak tepat waktu. 1 minggu sebelum kepulangan kami ke Indonesia, saya menderita campak, dimana saya yakin ini merupakan efek samping MMR 2 yang saya lakukan 1 hari sebelum waktu yang seharusnya. Meskipun demikian, semua dapat diatasi dan berjalan baik-baik saja. Sekali lagi saya tekankan, lakukan vaksinasi MMR “benar-benar” pada waktu yang seharusnya dilakukan vaksinasi MMR.

 

Kembali lagi ke rangkaian acara PDO di Jakarta, setelah medical checkup, kita harus menjalankan prosedur pembuatan visa di Kedubes Amerika. Pengamanan di Kedubes Amerika sangat ketat. Pada saat wawancara visa, kita akan diminta sidik jari dan diberikan pertanyaan seputar latar belakang kita dan negara bagian yang akan kita tuju. Berdasarkan hasil wawancara, kita akan mendapatkan kartu putih yang artinya permohonan visa kita terkabul, dan mendapatkan kartu kuning jika permohonan visa kita ditunda karena berbagai alasan yang kita sendiri juga tidak tahu. Teman saya Adil dari ITB dan Sarwo dari IAIN Alauddin Makassar mendatkan kartu kuning. Selain itu, De Ipan yang akan berangkat ke IOWA juga mendapatkan kartu kuning. Setiap gelombang permohonan visa, pasti ada grantee yang mendapat kartu kuning. Meskipun demikian, grantee tetap akan berangkat ke Amerika, apakah akan berangkat sendiri, menyusul, atau berangkat bersamaan dengan cohort selanjutnya. Alhamdulillah Adil dan Sarwo berangkat bersama rombongan kami ke Kansas, sedangkan De Ipan, terpaksa harus berangkat sendiri ke IOWA karena visanya belum jadi ketika rombongan kami berangkat.

Ketika PDO kami juga mendiskusikan tentang konsep Indonesian Day yang akan kita tampilkan di Amerika. Sebagai pertunjukkan kelompok, kami akan menari Saman. Kami juga berkoordinasi untuk membuat jaket group The University of Kansas. Sangat senang berkoordinasi dengan teman-teman hebat, IELSP Cohort 9 grantees di The University of Kansas.  Setelah PDO, kami kembali ke daerah masing-masing untuk mempersiapkan secara mental dan fisik, sebelum berangkat ke Amerika.

Perjalanan Ke Kansas, Amerika Serikat

Akhirnya waktu yang dinanti pun tiba. Pada tanggal 30 Mei 2011 grantees berkumpul di Hotel Amaris. Pada tanggal 31 Mei, rombongan kami berangkat ke Hotel Transit di Bandara Soekarno Hatta untuk persiapan berangkat. Sebelumnya, barang bawaan kami dicek oleh Mbak Cici, Mbak Fenti, dan Mbak Vera. Yang tidak boleh dibawa adalah bahan dari tumbuhan, seperti biji-bijian, termasuk beras, kering tempe; bahan dari hewan yang tampak jelas secara fisik, misalnya abon; aksesori dari hewan, misalnya bulu ayam; benda tajam, seperti gunting, pisau atau aksesori yang tajam. Yang sangat penting untuk dibawa adalah mie, karena makanan ini sangat membantu ketika makanan di Amerika tidak cocok dengan perut kita.

Rute perjalanan kami dari Jakarta adalah Soekarno-Hatta (Jakarta) > Changi (Singapura) > Hongkong > Chichago (Amerika) > Kansas. Dari Jakarta ke Singapura, kami menggunakan pesawat Singapura Airlines, sedangkan dari Singapura ke Amerika, kami menggunakan United Airlines. Bandara Internasional Changi merupakan bandara yang paling bagus sepanjang keberangkatan kami ke Amerika. Perjalanan kami membutuhkan waktu kurang lebih 21 jam di pesawat, sudah termasuk transit. Operasi di bandara ketika transit sangat ketat. Kita tidak diperkenankan membawa logam dan benda tajam apapun serta cairan dalam botol yang terlalu banyak. Cairan di botol yang diijinkan dibawa masuk ke pesawat dan lolos operasi adalah maksimal 100 ml.

Operasi yang paling ketat adalah ketika kami akan memasuki Chichago. Petugas bandaranya sangat menyeramkan. Meskipun demikian, kita harus tetap rilex dan beratitude yang baik. Ada teman saya yang di IOWA, yang harus melalui prosedur secondary inspection, dimana orang yang melalui prosedur ini akan masuk ke ruangan khusus dan diberi beberapa pertanyaan. Akhirnya semua dapat teratasi dan kami melanjutkan penerbangan kami ke Kansas.

Di Kansas, kami sudah disambut oleh Chriss, petinggi IIE di New York Amerika Serikat, Aaron, dan Gerry, yang merupakan supervisor kami di Amerika. Dari Kansas, kami melanjutkan perjalanan ke asrama tempat kami tinggal yang berada di dalam kampus. Nama asrama ini adalah Hashinger. Asrama yang sangat penuh kenangan dengan teman-teman saya di Kansas. Kami tiba di Asrama pukul 7.30 malam, dimana matahari masih bersinar cerah, seperti ketika pukul 5 sore di Indonesia. Perbedaan waktu Amerika-Indonesia adalah 12 jam lebih cepat di Indonesia daripada di Amerika.

Beberapa hari di Amerika, kami mengalami jetlag, yaitu suatu kondisi yang sulit tidur ketika malam, kalau pagi mengantuk, pusing, dan mual. Hal ini merupakan adaptasi kita di lingkungan yang sangat berbeda dengan lingkungan yang sebelumnya kita tinggal. Fisiologi tubuh kita masih fisiologi tubuh di Indonesia sehingga tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan. Kami harus banyak beradaptasi dengan budaya baru di Amerika, termasuk bahasa karena kami sudah mulai berkomunikasi dengan native.

Tiga hari pertama, kami berkeliling kampus untuk orientasi dengan ditemani supervisor kami yang sangat baik, yaitu Aaron. Kami melakukan medical checkup lagi dan uji kultur TBC, registrasi sebagai mahasiswa internasional, dan mengerjakan proficiency test. Di Proficiency test ini kami akan mengikuti kelas berdasarkan hasil proficiency test. Kami mendapatkan  berbagai fasilitas kampus secara free. Kami makan di Mrs. E’s, cafeteria yang menyediakan berbagai makanan Amerika. Kami tinggal menggesekkan KU ID (sejenis Kartu Tanda Mahasiswa seperti smart card) dan bisa mengambil segalam macam makanan Amerika. Namun, sebelum KU ID kami aktif, kami dimasakkan nasi oleh Gerry dengan lauk telur rebus, mungkin yang paling simple. Kami menyiasatinya dengan menambahkan kecap dan saos sambal yang kami bawa untuk menambah cita rasa. Awal makanan yang kurang menyenangkan. Meskipun demikian, kami sangat berterimakasih kepada Gerry dan Aaron yang setiap pagi selalu membawakan sarapan buat kami sebelum kami bisa memanfaatkan Mrs. E’s.

Perkuliahan di Amerika

Kami mempunyai 3 kelas selama belajar di Amerika, yaitu kelas Grammar for Communication (GFC), Reading and Writing, dan Listening and Speaking. Dalam satu kelas kurang lebih ada 15 mahasiswa internasional dengan juumlah mahasiswa Indonesia 1-5 orang. Kami kuliah dari Senin-Jumat.

Berdasarkan perkuliahan yang telah saya alami, saya dapat memberikan penilaian terhadap perkuliahan Amerika. Perkuliahan di Amerika sangat bagus. Dosennya sangat bertangung jawab dan mempunyai program mengajar yang jelas. Apalagi kami hanya mengikuti summer class yang singkat sehingga kuliah dan tugas waktu itu sangat padat. Saya kagum dengan tanggung jawab dosen-dosen Amerika. Hal pertama yang membuat berbeda dengan di Indonesia adalah kami memanggil dosen dengan namanya secara langsung, misalnya Barbara, David, dan Perrin. Dosen tidak pernah duduk selama mengajar. Dosen berdiri, menjelaskan, dan mengajak diskusi interaktif dengan students. Dosen sangat aktif, energik, dan inspiratif. Dosen selalu menghargai apa yang telah students lakukan. Setiap jawaban yang disampaikan students, selalu dijawab dengan “great”, “good”, “exactly”, “correct”. Jika ada jawaban yang salah segera dibenarkan. Dosen selalu memberikan umpan balik dan komentar-komentar yang sifatnya membangun atas tugas-tugas yang telah kita kerjakan. Setiap waktu yang berjalan selama belajar-mengajar sangat efektif. Selama 2 bulan saya belajar di Summer Class di The University of Kansas, saya tidak pernah melihat waktu sedetik pun yang terbuang. Dosen selalu datang ontime dan tidak pernah absen. Semangat mengajar dosen selalu ditularkan ke kami.

Hal lain yang membuat berbeda dengan Indonesia adalah dosen selalu memanfaatkan internet sebagai salah satu sumber literasi mengajar. Dosen selalu mengembalikan tugas students, mengingatkan ke students tentang tugas pertemuan selanjutnya ke email masing-masing students,  dan langsung mempublish nilai dari tugas dan quis yang setiap hari kami kerjakan. Dengan demikian, kami dapat mengetahui perkembangan belajar kami setiap waktu dimanapun kami berada. Saya sangat menikmati perkuliahan di Amerika.

Kehidupan di Amerika

Kehidupan di Amerika sangat berbeda dengan Indonesia. Pertama, Iklim. Juni-Agustus adalah Summer di Amerika. Suhu rata-rata adalah 100 F atau 40 C, sangat panas jika dibandingkan dengan suhu rata-rata di Indonesia yang hanya 26-30 C. Orang Amerika sangat suka dengan Summer sehingga mereka sering berjemur di teriknya matahari yang maha panas menurut kami, sampai kulitnya yang putih menjadi pink agak gosong. Di Amerika sering terjadi thunderstorm maupun tornado, apalagi Summer. Oleh karena itu, setiap bangunan di Amerika pasti mempunyai basement yang digunakan sebagai tempat berlindung ketika terjadi tornado.

Kedua, makanan. Makanan Amerika sangat berbeda dengan makanan Indonesia. Di Mrs. E’s kami dengan mudah menemukan makanan Amerika, seperti pizza, burger, berbagai macam roti, cakes, pasta, kentang, jagung, scrabled (kuning telur yang diolah),beef, daging babi (biasa menggunakan istilah pork atau ham), yogurt, ikan, onion rings, terkadang udang dan chicken, dll. Kami jarang menemukan nasi, kalaupun menemukan seringkali nasinya sangat keras dan tidak enak sama sekali. Yang paling saya suka dari makanan di Mrs. E’s adalah buahnya yang segar seperti apel, jeruk, anggur, melon, mangga, lemon, dll. Sayur di Amerika adalah sayur mentah, seperti bayam, wortel, kol, brokoli, dll. Minumannya adalah berbagai macam softdrink, susu, dan aneka juice. Makanan Amerika sungguh tidak sehat, terlalu tinggi kolesterol dan lemak serta rendah serat. Tidak heran jika banyak American yang obes karena makanan yang seperti itu dan jarang berolah raga. Konsumsi alcohol juga tinggi di Amerika. Sebagian besar dari kami pun juga mengalami kenaikan berat badan karena mau tidak mau kami harus makan makanan Amerika dengan tidak diimbangi istirahat yang cukup.

Minum di Amerika dapat dilakukan pada suatu alat yang menyerupai wastafel yang sering terdapat di pinggir jalan dan lorong suatu bangunan. Alat ini juga sering dijumpai di bandara-bandara internasional. Sebagai contoh, wastafel di kamar asrama saya merupakan sumber air minum saya jika sewaktu-waktu haus.

Toilet. Toilet di Amerika adalah toilet kering sehingga kami tidak menemukan air di toilet. Hal ini juga berlaku di bandara-bandara internasional. Kami hanya disediakan tissue untuk membersihkan diri. Kami menyiasatinya dengan selalu membawa botol kemana-mana, dimana jika sewaktu-waktu kita ingin ke toilet, kita tinggal isi botol dengan air untuk kebutuhan toileting.

Ketiga, alat transportasi. Alat transportasi di Amerika adalah mobil pribadi. Alat transportasi umum sangat jarang ditemukan di Amerika. Saya tidak menemukan satupun sepeda motor yang dipergunakan. Kalaupun ada, itu adalah sepeda motor besar yang biasa digunakan oleh para gang motor. Selain itu ada juga sepeda, yang biasa digunakan untuk olahraga. American sangat menyukai music dan seringkali menghidupkan music yang sangat kencang ketika mengendarai mobil. Mayoritas American patuh hukum dalam berlalu lintas sehingga jarang ditemukan kemacetan selain jalan di Amerika juga lebar dan tata kotanya teratur dengan sempurna. American sangat menghargai pejalan kaki dan selalu memberikan kesempatan kepada pejalan kaki untuk menyeberang.

Keempat, Amerika sangat mengutamakan privasi dan hak asasi. Menanyakan usia, status, dan agama, merupakan hal yang tabu di Amerika. Hidup bersama layaknya suami istri tanpa ikatan pernikahan merupakan hal yang biasa karena mereka tidak suka dengan komitmen.

Kelima, budaya Summer adalah “Garage Sale”, dimana American menjual barang-barang yang sudah tidak dipakai dengan harga murah. Mereka mengeluarkan semua barang-barang yang akan dijual ke luar rumah mereka dan melayani pembeli yang akan membelinya. Sebelumnya, mereka memasang iklan di Koran tentang garage sale yang akan diadakan di rumahnya. Barang-barang yang dijual seperti perlengkapan rumah, sofa, meja, lemari, boneka, dll. Terkadang, American hanya menaruh barang yang sudah tidak dipakai tetapi masih bagus di depan rumahnya untuk diambil orang lain secara gratis. Prinsip hidup mereka adalah reuse. Sebagai contoh, teman saya menemukan TV di tempat sampah, di depan asrama kami.

Keenam, American sangat menyukai seni, khususnya lukisan. Banyak sekali Art gallery yang dipamerkan dimana banyak terdapat lukisan dengan harga ratusan dolar.

Ketujuh, pengalaman yang paling mengesankan adalah kami dipertemukan dengan orang-orang baik yang sangat menginspirasi, baik orang Indonesia yang kuliah, bekerja, atau berdomisili di Amerika, maupun orang Amerika. Berikut ini adalah orang-orang baik lagi menginspirasi tersebut:

  1. Aaron, Gerry, Margaret

Mereka adalah supervisor kami di Lawrence, Kansas. Mereka sangat membantu kami ketika di Amerika. Aaron yang selalu mengajak kami berkeliling dengan berjalan kaki untuk memperkenalkan The University of Kansas (KU). Aaron yang mengantarkan saya dan Mbak Raafi ke School of Medicine di Kansas City untuk explore informasi S2 dan S3 di School of Nursing, sebelum kami mengerjakan final proficiency test di kelas. Aaron yang mengadakan party perpisahan di rumahnya untuk kami, sebelum kami pulang ke Indonesia, Aaron yang melepas kepulangan kami dengan air mata yang saya lihat di kedua ujung matanya pada pagi itu. Sungguh kebaikan, senyum, dan ketulusan Aaron tidak akan pernah hilang dari ingatan kami.

Gerry dan Margaret juga tidak kalah berjasanya terhadap kami. Gerrylah yang selalu memasakkan nasi dan merebuskan telur untuk sarapan kami, sebelum kami dapat menikmati makanan di Mrs E’s. Gerrylah yang mengantar kami dan melepas kepulangan kami ke Indonesia sampai San Fransisco. Selain itu, di rumah Margaret, kami bereksplorasi untuk masak masakan Indonesia, seperti sate, soup ayam, soup buah, ikan Makassar, pecel, nasi goreng, tahu dan tempe untuk kami makan bersama, sebagai persiapan kami akan makan makanan Amerika selama 2 bulan. Gerry dan Aaron juga telah mengajak kami jalan-jalan ke Kansas City. Terima kasih Aaron, Gerry, Margaret.

2. Pak Kustiwan dan Ibu Nanik

Pak Kustiwan adalah mahasiswa S3 yang mendapat beasiswa Fullbright, yang belajar di KU. Beliau adalah dosen salah satu teman kami di IAIN Alauddin Makassar, Sarwo. Ibu nanik adalah istri Pak Kustiwan. Beliau cuti dari pekerjaannya di BPK Jakarta demi menemani suaminya menyelesaikan S3. Ibu Nanik sedang hamil 7 bulan pada waktu itu. Mereka adalah inspirator bagi kami. Pasangan suami istri ini dipertemukan di Australia ketika mengambil S2 di beasiswa ADS. Ibu Nanik sudah keliling dunia dengan ilmu dan kemampuannya. Beliau sudah pernah ke New York untuk urusan pekerjaan, ke Turki, Australia, dll. Mereka selalu memberikan semangat kepada kami untuk mengembangkan kemampuan, memberikan tips untuk mencari beasiswa S2 dan S3, dan menasihati kami. Kami sering berkunjung ke apartemennya yang tidak jauh dari asrama kami. Kami sering dimasakkan masakan Indonesia, seperti bakwan, krupuk, sambal, sambal goreng ati, soup, ayam goreng kremes,dll. Kami juga memasak makanan untuk Indonesian Day di apartemen Bu Nanik. Bu Nanik juga yang membantu kami untuk belanja bahan masakan. Beliau berdua sangat membantu suksesnya Indonesian Day yang kita adakan pada minggu terakhir kami di KU. Di Apartemen Bu Nanik, kami sudah seperti rumah sendiri. Terima kasih kepada Bu Nanik dan Pak Kustiwan.

3. Ester

Ester adalah mahasiswa tingkat akhir yang mengambil chemistry di KU. Kedua orang tua Ester tinggal di Jakarta. Ester sangat baik dan selalu mendukung acara yang kita adakan termasuk Indonesian Day. Ester memberikan gambaran kepada kami tentang kehidupan di Kansas. Ester sering berkunjung ke asrama kami. Ester juga membantu kita packing ketika akan pulang ke Indonesia. Ester melepas kepulangan kami sampai di Kansas Airport. Terima kasih Ester. Kamu sangat baik dan tulus.

4. Ibu Marti Wilson & Keluarga

Ibu Marti Wilson berasal dari daerah Semarang. Beliau telah menikah dengan orang Amerika dan berkeluarga di Kansas. Beliau merupakan seorang pengusaha sukses. Di Depok, beliau mempunyai sekolah pribadi Tunas Global yang dikelola bersama saudaranya. Saya banyak ngobrol panjang lebar dengan Ibu Marti. Beliau sangat ramah dan baik. Beliau adalah ketua ikatan orang Indonesia yang di Kansas. Beliau juga mengirimkan berbagai macam makanan Indonesia ke asrama kami karena kami tidak bisa memenuhi undangannya untuk berkunjung ke rumahnya. Hal ini di karenakan rumah Ibu Marti di luar Kansas dan kami belum mendapatkan ijin dari supervisor kami untuk pergi keluar Kansas. Terimakasih Ibu Marti, Ibu sangat baik, ramah, dan menginspirasi.

5. Ibu Rebeca

Ibu Rebeca merupakan dosen UPH  Jakarta. Beliau mengambil S3 TESOL, yaitu mengajar Bahasa Inggris sebagai bahasa asing.  Beliau adalah salah satu penerima beasiswa fullbright S3. Beliau juga telah menamatkan S2nya dengan beasiswa ADS di Australia dan di Jerman. Beliau banyak share tentang pengalamannya belajar di Australia, Jerman, dan Amerika, serta perjuangan untuk memperoleh beasiswa. Sungguh sangat menginspirasi.

6. Pakdhe Rm. Daradjadi

Saya bertemu pakdhe ketika Indonesian Day, dan beliau hadir sebagai tamu yang mendukung acara kami. Ternyata beliau adalah orang asli Solo yang masih fasih berbahasa Jawa Krama Inggil( tingkatan bahasa yang paling halus di Jawa). Kami banyak bercerita dengan pakdhe. Di pertemuan yang singkat itu, pakdhe banyak memberikan nasihat, memotivasi kami, dan mendoakan agar suatu saat nanti kami dapat kembali ke Amerika dengan beasiswa untuk melanjutkan S2 atau S3. Pakdhe bercerita bahwa ketiga anaknya tinggal di Amerika sehingga pakdhe harus menjenguk mereka. Semoga bisa bertemu dengan pakdhe lagi, bercerita, dan menginspirasi kami.

7. Mbak Fima, Kak Edo, Kak Edwin

Mereka adalah penerima beasiswa fullbright yang ketiganya berasal dari ITB. Mbak Fima mengambil S3, Kak Edo mengambil S2 untuk yang kedua kalinya setelah lulus S2 dari ITB, dan Kak Edwin mengambil S2. Mereka sangat menginspirasi dan selalu mengajak kami berbagi pangalaman ketika bertemu, misalnya saat makan di Mrs. E’s. Mereka juga membantu kami packing sebelum kami pulang ke Indonesia dan melepas kepergian kami dari asrama pada pagi-pagi buta pukul 3.00. Kami saling berjanji bahwa kami akan menyusul mereka di masa depan. InsyaAllah. Terima kasih buat kakak-kakak kami atas share pengalamannya. InsyaAllah kami akan menyusul kalian. Amiiin.

8. Mbak Marlyn

Mbak Marlyn adalah salah satu penerima beasiswa S2 fullbright dari UGM. Sama halnya dengan yang lain, mbak Marlyn sangat baik dan selalu memotivasi kami. Terima kasih Mbak Marlyn, semoga kita dipertemukan oleh Allah kembali.

9. Rina Yamamoto

Rina adalah teman kelas listening saya, yang berasal dari Jepang. Rina adalah teman internasional terbaik saya. Rina tidak tidur malam itu hanya untuk melepas kepulangan kami ke Indonesia. Rina sampai meneteskan air mata ketika kami meninggalkan asrama. Sangat merindukan kamu, Rina. Semoga suatu saat kita akan bertemu lagi.

Kembali ke Indonesia

Dua bulan sangat cepat berlalu. Tiba saatnya kami harus pulang ke Indonesia dan meninggalkan kenangan manis yang ada di Lawrence dan Kansas. Dengan pulangnya kami ke Indonesia, kami ber-18 juga harus melanjutkan perjuangan menggapai mimpi-mimpi yang lain ke daerah kami masing-masing. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, dan perpisahan yang sangat kami benci itu pun terjadi. Kebersamaan kami selama 2 bulan yang sudah lebih seperti keluarga harus berakhir sementara di Jakarta. Ke-17 teman-teman seperjuangan di KU telah menempati ruang khusus di hati saya yang tidak akan pernah terganti dengan suatu apapun. Ingin rasanya saya menceritakan keluarga baru saya ini satu per satu, tetapi lembaran ini tidak cukup untuk menampung tulisanku tentang mereka. Butuh kesempatan khusus bagi saya untuk menceritakan mereka, orang-orang hebat yang sangat menginspirasi saya. Terima kasih teman-temanku sayang!

Rute kepulangan kami adalah: Kansas > San Fransisco > Narita (Jepang) > Changi (Singapura) > Soekarno Hatta (Jakarta)

NB: Perjalanan yang penuh dengan kenangan

Semoga sedikit pengalaman ini dapat menginspirasi teman-teman untuk merasakan apa yang telah saya tuliskan ini. Mengikuti beasiswa IELSP sangat bermanfaat dan banyak pengalaman yang kita dapat. Untuk menjadi hebat mulailah dari dirimu sendiri. Sekarang, karena kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya. Tunjukkan bahwa dirimu mampu dan bisa. Bersiaplah sebelum orang lain siap!

Semangat teman-teman! Jangan ragu-ragu untuk apply IELSP Cohort X!

Sukses bersama kita!  

9 thoughts on “Belajar di Negeri Paman Sam Via Beasiswa IELSP cohort 9

  1. mba..saya berniat ikut IELSP cohort 10. ada saran2 dalam penilisan essay mba? ini pertama kalinya saya apply beasiswa luar negeri soalnya🙂

  2. Mbak, q rencana mau ikut gelombang 10. q mau tanay, yang bukti setifikat ntu harus ada ya. Q ikut organisasi pramuka, ma BEM, tapi sertifikatnya g da. menurut mbak, dimasukin g mbak?

  3. Mbak, q rencana mau ikut gelombang 10. q mau tanay, yang bukti setifikat ntu harus ada ya. Q ikut organisasi pramuka, ma BEM, tapi sertifikatnya g da. menurut mbak, dimasukin g mbak?

    sama kalo dokumen dah lengkap, kira kira perlu dijilid g ya? ato cuma di staples?

  4. Mbak, saya sudah lolos untuk tes wawancara Cohort X. Saya butuh saran bagaimana supaya bisa memberikan jawaban yang tepat dan jelas. Karena saya baru pertama kali meng-apply beasiswa ke luar negeri dan pertama kali melakukan interview. Saya takut dan gugup menghadapinya.
    Saya juga sangat terinspirasi dengan cerita Mbak di Kansas. Sungguh menyenangkannya tinggal di luar negri.😀

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s