Narsisku, Tulisanku

Selalu saja ada rasa ketidakpercayaan diri jika tulisanku dibaca oleh orang lain. Entah mengapa penyakit itu selalu menerpaku saat aku berniat mau berbagi tulisan ke orang lain. Perasaan ”was-was” seakan menghantui. ”Aduh, tulisanku jelek!” Suatu ketika aku membanthin. Alhasil, tulisan-tulisanku hanya terbenam dalam buku harian. Boro-boro diikutkan dalam lomba menulis, dibaca oleh saudara sendiri saja rasanya malu sekali. Sepertinya, aku lebih pemalu jika dibandingkan dengan bunga Putri malu. Semua itu, lagi-lagi pada persoalan yang sama; ”Aku tidak percaya diri jika tulisanku dibaca dan dikritik orang lain.”

Kebiasaan buruk itu berusaha kuenyahkan dalam kehidupanku. Hal itu berawal dari sebuah workshop menulis yang aku ikuti waktu SMA. Ketika itu, aku senang bukan kepalang bisa bertemu langsung dengan Mbak Asma Nadia, salah satu penulis produktif di Indonesia. Aku tergugah dengan motivasi menulis yang beliau sampaikan. ”Jangan marah jika tulisan kita dikritik! Tapi sebaliknya, kita harus senang, karena tulisan kita dibaca oleh orang lain. Berbangga lah, sebab si pembaca tersebut sudah mengorbankan tenaga dan waktunya untuk membaca tulisan kita, kata demi perkata.” Ucapnya. Saat itu juga, lantas semangatku meningkat. Detak jantung berdegub kencang. Otot-ototku pun terasa lebih kuat. Semangat untuk menjadi penulis sukses pun kian membuncah.

Baca lebih lanjut

Iklan