Mozaik Kehidupan Seorang Pemimpi (Part I)

Sejak tanggal 26 november 2011, setelah berakhirnya ikut tes toefl, hati terasa galau. Gak tenang, memikirkan kira-kira nilai toefl saya tembus 450 atau nggak. Jujur nih, hingga detik ini, 04 desember 2011, bearti ada jarak 1 minggu kan dari tgl 26 november 2011. Seminggu ini, rasa bahagia, sedih, terharu, dan bimbang, datang silih berganti. Awalnya saya pesimis, apa mungkin toefl saya bisa tembus 450? Hmm, it’s kuasa Allah….

Tepat tanggal 2 desember 2011, pukul 16.30 WITA, sore itu saya senang banget karena paspor saya udah jadi.  Alhamdulillah akhirnya, di penghujung tahun 2011 ini, saya bisa memiliki buku kecil berwarna hijau itu. Singapura adalah tujuan Negara perdana saya. Sehingga paspor pun akan dicap dan ditanda tangani oleh petugas singapura. Saya berharap, nantinya paspor itu bias terisi ful dengan coretan-coretan dari berbagai Negara. Moga aja bisa ke Amerika melalui beasiswa IELSP. Ke Australia, Belanda, Jepang, korea dan Negara impian lainnya.

Saat terima paspor, hati ini begitu senang. Eh, pada saat saya menjual HP Nokia saya, Huaaa, rasa senang itu beralih menjadi sedih. Saya coba menawarkan hp saya ke beberapa seluler hp ternama yang ada di kota palu, namun tak satu pun yang mau membeli hp saya itu. Mereka ternyata hanya menerima hp second tapi yg tidak rusak, sedangkan LCD HP saya ada tompelnya (hihi). Itu lah mengapa mereka tak mau membelinya. Hikssss…. L Padahal saya butuh banget uang untuk bayar utang. Hehe…

Ketika di perjalanan mau pulang ke rumah, kakakku Yuli ng-sms. Dia mengatakan kalo hasil tes toefl udah ada. Hati saya pun dag dig dug gak karuan. Kira-kira hasilnya bagus atau nggak ya? Rencana mau pulang, tapi nggak jadi. Saya berbalik arah malah ke ELC untuk mengambil hasil TOEFL. Di perjalanan, saya coba tenangkan hati saya. Hati saya berkata; Saya akan serahkan semuanya pada Allah. Saya pasrah pada-Nya. Apapun hasilnya saya terima. Jikalau hasilnya bagus, saya bersyukur, namun jikalau hasilnya jelek, saya akan tetap semangat untuk ikut tes toefl lagi.

Selang beberapa menit, saya pun tiba di ELC. Sayapun terkejut melihat hasil toefl. Subhanallah, walhamdulillah, wala ilahaillallah wallahuakbar! Skor toefl saya tembus 450, alias mentok di 450. Saya bersyukur banget ternyata perjuangan saya selama 3 bulan untuk belajar toefl itu gak sia-sia. Meski kesehatan saya kurang baik saat ikut tes, ternyata hasilnya lumayan bagus. Hmmm, coba saya sehat, kemungkinan bisa tembus 460 atau 470. Hehe…

Di satu sisi saya senang karena hasil toefl saya bagus, namun di sisi lain saya sedikit sedih melihat hasil toefl kak Yuli. Dia hanya memperoleh skor 433. Saya malah kaget! Karena setahu saya sepertinya dia lebih optimis di hari-hari sebelumnya kalo dia bisa tembus 450, dan saya malah yang pesimis. Huaaahhh, ternyata kebalikannnya ya…Saat itu, saya menangis. Bukan karena sedih, tapi terharu karena ternyata perjuangan saya untuk memperoleh skor 450 akhirnya tercapai. Ketika itu, yang saya piker hanya lah kemahabesaran Allah atas segala nikmat yang ia berikan kepada saya. Sepanjang jalan pun, di atas motor, saya menangis tersedu-sedu. Nikmat Allah manakah yang kamu dustakan??

 

16 thoughts on “Mozaik Kehidupan Seorang Pemimpi (Part I)

  1. How surprising to read your writing,
    you are such an interesting one, aren’t you?
    you’re full of hope and dreams. like you, I have dreams that I’ve been fighting for.
    I don’t know but I’m kinda interested in you, NO! the way you think.
    It’s too bad to know that we couldn’t know each other better for “Distance” separates us apart.
    …we probably have many things in common if we can connect.
    since I’m a dreamer as well.

    If only you read this…
    I just wanna say that I’d like to have you as my friend.
    Bye (I am dreamer who try to step my feet toward the future without leaving the past).

    • Hai nice to know you…Salam kenaL🙂
      Makasih udah jalan-jalan ke blogku.

      Wah,,,senangnya aq! bs ketemu para dreamer di sini. Tambah semangat aja jadinya!
      Senang jg bs bersahabat dengan seorg dreamer spertimu😀

      • I’m glad to find that you replied my comment…
        Hee..hee… it’s kinda embarrassing…
        Hai, my name is nursam, I know that yours is Pujiati Sari, but it’s rather long to call you by that name.
        So, what should I call you?

  2. All right,
    Hai there puji, Frankly I have many things to ask. but I’d like to begin with the simple one first.
    Are you still a student?
    if you are, where do you study?

    • Since you’re in the 7th semester that makes you senior, I’m still a student as well, I am in the 3rd semester of English department at STAIN Parepare.
      and about facebook account, I used to have one, but I never think to make a new one, sorry.

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s