Hilya Ariyani; Grantee IELSP Cohort X Asal Palu (Sulawesi Tengah)

Me, Pujiati Sari In Singapore Flyer, SIngapore

 Hilya Ariyani, sosok yang mudah bergaul, hingga orang yang baru kenal dengan dia pun merasa bertemu dengan teman lama. Ya, itu lah yang saya alami! Tepatnya Senin, 20 Februari 2012, saya kopdar (ketemuan) dengan beliau di rumahnya. Sebenarnya, udah 1,5 bulan yang lau kita janjian pengen ketemuan, tapi baru kemarin bisa terrealisasikan.

Pukul 17.00 WITA, saya dan sahabat saya, Siti Wasiah, datang ke rumah Hilya. Sebenarnya sih, ada 2 orang teman saya yaitu Dinda dan Nisa yang pengen ketemuan juga dengan beliau. Namun, karena ada kesibukan lain sehingga hanya saya dan Siti lah yang bisa bertemu dengan beliau hari itu.

 Jln Lasoso No.6, adalah kediaman Hilya. Ketika sampai di rumahnya, ada wanita separuh baya yang membalas salam kita. Perempuan itu tidak lain dan tidak bukan adalah Ibundanya Hilya. Ibunya begitu ramah mempersilahkan kami duduk. Lantas menanyakan tujuan kedatangan kami. Wah ternyata, kami tidak diizinkan Ibunya tuk menemui Hilya, dikarenakan beliau sedang tidur. Ibunya merasa tidak enak tuk membangunkan Hilya, karena sekitar 30 menit yang lalu ia baru terlelap tidur. Hilya baru saja pulang dari kampus dan sempat mengatakan kepada Ibunya kalo kepala dan perutnya sakit. Maka tidur dengan pulas lah Hilya pada sore itu. Lantas, saya dan siti hanya bercerita dengan Ibunya saja. Ibunya begitu baik dan lembut. Beruntunglah Hilya memiliki Ibu seperti beliau. Yang selalu mendukung anaknya demi kesuksesan masa depan.

Selang beberapa menit, sekitar pukul 17.50 WITA, kami berinisiatif untuk pamit pada Ibunya Hilya. Rencana kami akan datang menemui Hilya setelah shalat magrib. Lantas kami pun berbalik badan dan menuju ke luar rumah, menghampiri motor bebek yang kami gunakan. Saat duduk di atas motor, HPq pun bordering, bertanda ada pesan masuk.

            “Ka, kenapa tidak jadi datang ke rumah? Soalnya kalo malam, saya mau keluar.” Sms dari Hilya.

            Saya pun membalas pesan itu, “Saya tadi sudah bincang-bincang dengan macemu. Ini, saya masih di depan rumahmu”

Selang beberapa detik, nongol kepala dari bilik pintu. Sosok itu adalah Hilya. Dia menyuruh kami masuk ke dalam.

Huahhh, banyak hal yang saya tanyakan ke dia. Meski kita baru pertama kali kenal, namun seperti bertemu teman lama saja. Tak ada rasa sungkan yang kami alami. Secara blak-blakan pokoknya deh! Saat itu, jantung saya memompa lebih cepat, semangat saya berapi-api untuk tetap optimis mencoba IELSP cohort XI.

Jujur, saya bangga sama Hilya, sekaligus Iri padanya. Bangga karena memiliki teman seperti dia. Iri karena dia telah mencuri mimpiku di cohort X (hehe lebay :p) . Saya senang berada di keluarganya, yang terasa begitu nyaman berada di anggota keluarganya. Alhamdulillah saat itu saya bisa menjadi imam ketika shalat magrib. Saya begitu merasakan kehangatan keluarganya.

O iya, saya mau cerita sedikit tentang kandidat-kandidat asal Universitas Tadulako Palu yang masuk ke tahap wawancara. Mereka adalah Hilya Ariyani, Arya Pribadi, dan Ririn (kalo ga salah Ririn namanya. Lupa deh). Dari ketiga kandidat ini, saya memang sangat sepakat kalo Hilya yang lolos pada IELSP cohort X. Mengapa??? Karena dibanding 2 kandidat lainnya, Hilya lah yang unggul. Akademiknya bagus, pernah menjuari lomba karya tulis akutansi, aktif berorganisasi, dan skor TOEFLnya 467. Kalo Ririn skornya 450. Kalo Arya Skornya 453. Nah, jadi lah Hilya yang paling unggul dari banyak segi penilaian. Oke lah saya terima kalo dia yang lolos IELSP cohort X.

Sesampai saya di rumah, saya langsung mengedit-edit berkas IELSP saya (Huahhh, saking semangatnya! Padahal pendaftarannya dibuka 8 bulan lagi. Masih lama banget!)

Nah untuk cohort XI ini berharap saya bisa menjadi yang paling unggul, akademik bagus, Alhamdulillah prestasi banyak (malah Alhamdulillah udah pernah ke Singapore), organisasi tak diragukan lagi, banyak. Piagam? Huah ada ratusan tuh. Kemampuan menulis? Tak diragukan pula, saya punya banyak artikel di blog ini. Kegiatan sosial? Alhamdulillah ada. Tinggal skor toefl yang mau ditingkatin lagi. Saya menargetkan bisa tembus 480. Amin….Hey kawan, maaf ya bukannya saya sombong membeberkan kemampuan/kehebatan saya. Saya hanya pengen kalian tahu bahwa saya ngebet banget dengan beasiswa IELSP ini. Saya pengen seluruh lapisan Negara bahwa dunia nyata, dunia lain dan dunia maya pun tahu kalo saya bisa mendapatkannya (hehe lebay.com).

Semoga semangat saya yang berapi-api ini bisa tertular juga pada teman-teman semua, yang saat ini tengah berjuang di IELSP cohort XI, dan berharap kita bisa bertemu. Semoga kita bisa bermain salju, lempar-lemparan bersama menikmatin dinginnya butiran-butiran lembut yang dinginnya begitu menusuk hingga ke sum-sum tulang (aghhhh, cool, man!).  Aminnnnnn…

8 thoughts on “Hilya Ariyani; Grantee IELSP Cohort X Asal Palu (Sulawesi Tengah)

    • Tdk mesti punya byk organisasi sj yg jd penilaian tapi dari akademik dan prestasi2, serta personality kita.
      Jadi ga masalh misalnya ga unggul di organisasi, tapi di hal lain kita bs unggul..
      So, tetap dicoba ya…

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s