I was Lucky (On January, twenty second, 2012)

Bertepatan sebulan yang lalu, MPM Al-Iqra Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako Palu menyelenggarakan Kegiatan Bedah Buku “Catatan Hati Oki Setiana Dewi”. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung Al-Muhsinin Jl. Sis Al jufri Palu, kamis (22/1).  Diperkirakan ada sekitar 600an muslimah yang mengikuti kegiatan ini.

 

Alhamdulillah saya bisa  mengikuti kegiatan bedah buku tersebut secara gratis. Mengapa demikian? Karena status keikutsertaan saya yaitu sebagai delegasi dari LDK UPIM UNTAD.

 

H-1

Senang namun sedikit cemas yang saya rasakan pada waktu itu. Senang karena dapet gratisan lagi! Sedikit cemas karena Koordinator kemuslimahan LDK UPIM UNTAD meminta saya untuk memberikan sambutan, sebab beliau berhalangan hadir. Awalnya saya masih ragu untuk mengiyakan hal itu, karena jujur baru kali ini saya disuruh ngasih sambutan (Apa nggak salah tuh?!) Saya kan biasanya hanya sebagai pekerja di belakang layar L. Saya tipe orang yang demam panggung kalau berbicara di depan orang banyak. (Alah dicoba saja, Puji! Kapan lagi coba? pikirku). Finally, saya mengiyakan tawaran teman saya itu.

 

Untuk memberikan sambutan, setidaknya saya harus mengetahui poin-poin penting dalam bukunya Mba Oki. Nah maka bertambahlah lagi satu tugas saya, yaitu saya mesti baca buku itu. Waduh, darimana saya bisa mendapatkan buku itu? Saya tidak punya! Apa Tanya Om google? Waduh, waktunya tidak tepat! Soalnya waktu itu (21/1) sedang berlangsung kegiatan TK3 Untad. Waduh, mana saya belum mempersiapkan sambutan yang mau saya katakan di hadapan banyak orang. Ahhh, jadi lemes deh -__-

 

Ketika ke rumah salah seorang akhwat UPIM, wah kebetulan nih, saya melihat ada bukunya Mba Oki. Lantas saya meminjam buku itu untuk dibaca. Alhamdulillah ya…

 

Menghabiskan malam bersama akhwat UPIM sangat menyenangkan. Mata ini, seakan tak mau terpejam saat membaca bukunya Mba Oki. Buku yang sangat inspiratif. Hingga akhirnya, Alhamdulillah saya hatam membaca buku itu.

 

Sejenak saya berbincang-bincang dengan dua orang akhwat UPIM. “Ukh, satu hal yang ingin saya tanyakan ke Oki; Kenapa buku setebal ini, tak ada sedikitpun Oki menyelipkan kisah cintanya (dalam hal ini cinta/suka sama lawan jenis)? Buku ini berjudul “catatan hati” tapi tak ada ia mengungkit-ungkit hal itu,” Ucapku. 

 

“Iya, ya,” jawab salah seorang akhwat.

 

“Hmmm, besok kalo ada kesempatan, saya mau menanyakan hal itu dan beranak cucu lainnya” jawabku menyakinkan.

 

H nya

Pagi itu, sekitar jam 7, puluhan orang sudah memenuhi pintu masuk Gedung Al-Muhsinin. Saya pun harap-harap cemas, apa saya bisa ngasih sambutan? Jujur, kesiapan saya pada saat itu hanya 40% (Nekad banget kan?!) Alah biar aja, pikirku. “Orang yang belajar, tak pernah takut tuk berbuat salah,” gumamku dalam hati.

 

Sebenarnya, saya dan Siti sengaja datang pagi-pagi sekali, dikarenakan siti pengen banget ngedapetin bukunya Oki. Saya sih juga pengen, tapi mau gimana lagi status saya sebagai delegasi. Tidak mungkin kan ngedapetin dooprize buku?! Hanya 10 orang pendatang pertama yang bisa ngedapetin doorprize. Sayangnya, Siti tidak bisa ngedapetin doorprize, soalnya sebelum kami datang, telah ada 20 orang peserta yang sepertinya sejak subuh sudah berada di situ (Hmm, luar biasa!) Sedangkan registrasi tetap dimulai jam 7.30 Pagi.

 

Selang beberapa menit, agenda pembukaan kegiatan dimulai. Alhamdulillah, saya bisa ngasih sambutan, meski terbilang sangat singkat, namun padat dan jelas. Tentunya ada rasa grogi juga (Tak dipungkiri!).

 

Setelah kegiatan dibuka, kini tiba lah Sang pamateri memasuki ruangan yang disesaki oleh ratusan muslimah. Bak segerombolan Polisi, Panitia berusaha melindungi Mba Oki saat memasuki ruang itu. Semua mata tertuju pada seorang gadis kutilang (kurus tinggi langsing) yang berjalan menuju tempat penyaji. Satu, dua, tiga, bahkan puluhan bisikan terdengar yang hampir serupa yaitu “Wah, cantiknya!”

 

Ya, selama dua jam ke depan Mba Oki akan membedah bukunya. Ada Yovita Viananda Sari yang bertindak sebagai moderatornya. Sari panggilan akrabnya, merupakan mahasiswa FEKON Untad yang belum lama ini dari Virginia University. Beliau memperoleh beasiswa IELSP cohort IX, yaitu beasiswa belajar bahasa Inggris selama 8 minggu di Amerika.

 

Mba Oki sangat bagus dalam menyampaikan materi. Meski beliau tak menggunakan infocus saat menyajikan materi. Namun, perfect penyampaiannya! Menghipnotis seluruh peserta! Soalnya semua mata tertuju padanya.  Mba Oki menceritakan kisahnya dengan gamblang, dan sedikit blak-blakan. Menurut saya, saat itu bukan lah kegiatan bedah buku, namun “curhat” hehe.

 

Selanjutnya dibuka sesi Tanya jawab. Dalam hati, saya meyakinkan diri bahwa saya harus bisa bertanya ke Mba Oki, karena ada 3 pertanyaan yang ingin saya tanyakan. Dan ada 1 hal unik yang ingin saya lakukan ketika bertanya, karena saya ngefens sama beliau.

 

Untuk sesi pertama, dipersilahkan untuk 3 orang penanya.

                Saya pun mengacungkan tangan. Sayangnya bukan saya yang dipilih.

                Tak hanya mengacungkan tangan, saya pun berdiri. Namun sayang, tetap bukan saya juga.

                Ketiga pun demikian, Saya belum beruntung.

 

Hampir semua penanya senang bisa berbicara langsung sama Mba Oki. Malahan ada yang nangis, dan juga yang ngaku-ngaku bahwa dia pengagum berat Mba Oki.

 

Selang beberapa menit kemudian, sesi kedua tanya jawab pun dibuka. Saya pun berdoa dalam hati, ya Allah, semoga saya bisa bertanya.

 

                Ada perasaan harap-harap cemas ketika itu, “Yov, tolong pilih saya untuk bisa bertanya!” gumamku (Kita kan friend! Hehe)

 

                Penanya keempat. Wah yang ditunjuk, orang yang ada di belakang saya.

 

                Saya padahal sudah mengancungkan tangan setinggi-tingginya (Apa saya mesti akan kaki? Hehe) selain mengancungkan tangan, saya juga berdiri. Pokoknya saya harus dipilih! Soalnya, dari tadi penaya rata-rata menanyakan hal yang hampir sama. Dan pertanyaan-pertanyaanku yang beda (hehe). Dan ingat, bahwa ada 1 hal yang amat penting yang mesti saya lakukan, bahwa saya adalah salah satu fansnya mba Oki. Ini harus terealisasikan! Harus, harus dan harus.

 

                Penanya kelima dipilih. Wah bukan saya juga! Hmmm, akankah ada harapan untukku? Masa Yovita tidak lihat saya sedari tadi jingkrak-jingkrak terus?! (hehe lebay). Sungguh sangat kecil peluangnya bagi  saya untuk bertanya. Tapi tunggu dulu! Saya masih punya satu kesempatan lagi. Semoga ini hoki saya.

 

                Sambil berwajah memelas, meminta, dan meyakinkan si moderator untuk dipersilahkan bertanya, akhirnya, saya merupakan peserta yang beruntung, diberikan kesempatan untuk bertanya. Saya penanya keenam alias terakhir. Sudah bisa ditebak, mereka pada gregetan sama saya! Karena saya beruntung bisa bertanya pada waktu itu.

 

                Saat itu yang saya rasakan sangat bahagia, darah memompa lebih kencang, semangat berapi-api, namun seakan berada pada dua kondisi, senang dan juga berdebar-debar. Teman-teman masih ingat kan, apa yang saya tulis sebelumnya, bahwa kalau saya dipersilahkan bertanya, saya akan melakukan satu hal di hadapan banyak peserta. Mau tahu apa? Saya pengen buat iri para peserta (Hehe…tidak, tapi niatnya  biar merasa lebih dekat dan akrab. Kapan lagi coba ketemu sama artis? hehe). Mau tau gimana caranya? Hmm, cara ini saya adopsi dari prilaku Alif ketika bertemu Pak Menlu, dalam Novel Ranah 3 Warna. (Siapa yang sudah baca? Pasti tahu ceritanya.)

 

                Saya pun beraksi!!!

 Sebelum bertanya, dengan lantang saya pun maju ke depan (Eh Puji, kamu mau ngapain? hehe). Saya mendekati Mba Oki dan melayangkan tangan saya tuk menyalami dan cupika cupiki dengannya. Alhamdulillah, yes berhasil!!! AKhirnya, saya bisa juga berjabat tangan dan berpelukan dengan artis. Semua peserta iri. Itu terdengar dari ucapan yang mereka katakan.  Sayangnya, penanya-penyanya lain tak melakukan hal yang sama seperti saya, karena saya adalah penanya terakhir. Seandainya saya penanya pertama, kemungkinan mereka akan melakukan hal itu.

 

Saya sangat senang saat itu. Hingga sepertinya, saya tak mampu berkata-kata lagi. Nafas saya naik-turun, sudah tak menentu. Darah sangat terasa alirannya, karena pompaan jantung yang begitu kencang. Seakan-akan pertanyaan saya sudah terjawab melalui peristiwa itu. Saya lupa sebenarnya apa yang ingin saya tanyakan (Hmmm, aneh!).

 

“Ok tenang Puji, tenang. Tenang!” saya pun mencoba menenangkan diri sendiri. Lama saya terdiam! Saat itu saya mengumpulkan kembali ingatan-ingatan saya. Mengingat kembali pertanyaan-pertanyaan saya. Jujur, saya sangat tegang!

 

Nafas saya telah terkumpul kembali. Saya pun bertanya. Secara singkat, pertanyaan saya seperti ini;

1) Mengapa kisah cinta mba Oki tidak termuat dalam buku itu? (Pertanyaan yang sepertinya konyol, tapi perlu saya pertanyakan juga. Hehe),

2) Bagaimana Mba menjaga hati? Mba kan orangnya cantik. Pasti banyak yang ng-fans,

 3) Bagaimana meningkatkan sikap keoptimisan, ketika kita berada pada suatu yang paling terbawah/terperosok? Bagaimana untuk bangkit lagi menjadi on the top?

 

Dengan seksama saya mendengarkan jawaban-jawaban dari Mba Oki. Jujur, saya sangat puas banget dengan jawabannya. Setiap pertanyaan dijawab dengan detail dan terperinci. Hingga tak ada keraguan lagi atas pertanyaan-pertanyaan yang saya tanyakan itu. Begitu pula pertanyaan dari teman-teman yang lain. Semua dijawab dengan luar biasa!

 

Alhamdulillah, semua pertanyaan telah dijawab. Saatnya pembagian doorprize. Karena panitia hanya menyiapkan 2 buah doodprize buat 2 orang penanya saja. Olehnya itu, panitia meminta kepada mba Oki untuk memilih dua pertanyaan yang terbaik/bagus. Pertama, Mba Oki mengatakan kalau pertanyaanku salah satunya, terus, dipilih pertanyaan yang pertama. Maka, yang berkesempatan mendapatkan doorprize buku yaitu penanya pertama dan yang terakhir. (Huahhhh, mimpi apa saya semalam ya? Kok lucky banget sih saya hari ini? Hehe). Padahal saya tidak terlalu berharap bakal dipilih sebagai salah satu penanya terbaik. Bisa bersalaman dan cupika cupiki saja itu sudah cukup kayaknya. Namun, tetap disyukuri juga, saya bisa ngedapetin bukunya mba Oki. Itu berarti saya nggak perlu beli lagi.  Alhamdulillah…

 

Ada satu doorprize lagi yang diberikan Mba Oki. Mba Oki pun melayangkan pertanyaan; “Siapa di sini yang mencintai Alquran?” Peserta ragu-ragu mengacungkan tangan. Namun, hampir semua peserta mengacungkan tangan. “Siapa yang hafal 1 juz?” Sebagian ada yang bertahan dan ada yang menurunkan tangannya.  Hingga pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Di sini, peserta diminta kejujurannya. Finally, ada satu muslimah yang insya Allah sangat mencintai Al-quran. Banyak hafalan Al-qurannya. Alhamdulillah dia dapet doorprize berupa Al-Qur’an.

 

Selanjutnya, terkumpullah 3 orang yang akan mendapatkan doorprize. Alhamdulillah, kami bisa foto bareng sama Mba Oki. Bahkan saya bersalaman berkali-kali dengan beliau. Orangnya sangat ramah dan anggun.

 

Alhamdulillah, luar biasa. Ternyata hanya kami bertigalah, peserta yang diizinkan foto bareng dengan Mba Oki, karena setelah kegiatan, peserta hanya bisa mengambil gambar Mba Oki dari kejauhan. Bayangkan, hanya kami bertiga? Huah,,,begitu spesialnya ternyata kami bertiga ini. Krena manajernya tidak mengizinkan untuk foto bareng! Setelah seluruh rangkaian acara selesai, Mba Oki pun kembali ke Hotelnya.

 

Sehari  itu, perasaan senang, bahagia dan gak percaya menyatu menjadi satu. Benar-benar Unforgettable moment! Alhamdulillah ^__^

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s