Love is You, Mother!


Ibu, saat ini umurmu melebihi setengah abad. Tepatnya yaitu berumur 56 tahun. Bisa kubayangkan bahwa engkau telah banyak memakan asam garam kehidupan. Itu terlihat jelas dari banyaknya guratan halus di dahimu. Juga nampak dari kulitmu yang membungkus tulang rapuh, yang tentu saja kulit itu sudah akrab dengan terik matahari maupun rintik hujan. Bahkan rambutmu telah bermetafosis menjadi putih, yang menandakan begitu lamanya kehidupan yang engkau lalui di dunia ini.

Ibu, meski engkau telah dimakan umur, namun aku selalu bangga padamu. Sikap penyabar dan semangatmu yang berapi-api lah yang menjadikan dirimu awet muda. Alhamdulillah, sikap terpujimu itulah yang menjadikan diri ini menjadi muslimah yang baik dan tangguh. Tentunya berkat ikhtiar yang tak kenal lelah, dan doamu yang tak pernah henti kepada Sang Khalik sehingga aku bisa menjadi seperti itu.

Saat ini aku berumur 21 tahun. Tentunya banyak kenangan indah yang aku alami bersama Ibu mulai dari kecil hingga dewasa. Mengingat cerita masa kecil, aku butuh waktu beberapa menit untuk mengumpulkan mozaik-mozaik kejadian itu. Apalagi mengingat cerita ketika baru mengenyam bangku Sekolah Dasar (SD). Setelah teringatkan dengan hal itu, kadang aku tersenyum atau tertawa sendiri. Sepertinya, ada kerinduan yang mendalam pada masa itu.

Salah satu cerita masa kecilku bersama Ibu, yaitu ketika Ibu tidak membelikan aku Sendal pesta berwarna merah. Hanya Kakakku, Yuli saja yang lebih awal dibelikan. Sontak saja aku menangis, dan menggerutu menerima perlakuan Ibu.

            “Sabar nak, Ibu akan membelikanmu besok. Soalnya uang Ibu belum cukup untuk membelikanmu sendal,”Ucap Ibu sambil mengelus-ngelus tubuhku.

            “Betul, Bu?!” Tanyaku pada Ibu.

            “Iya, Betul. Ibu Janji!”Kata Ibu sambil tersenyum.

Lantas, tangisku pun mulai reda saat Ibu mengatakan Ia akan membelikanku sendal di esok hari.

Esok hari pun tiba, Ibu pun menepati janjinya.  Ia membelikan aku sandal pesta yang warna dan jenisnya sama seperti kakakku punya. Entah mengapa, aku sangat suka juga sandal pesta yang dimiliki kakakku. Walaupun ada banyak warna dan tipe sandal lainnya, namun aku tetap sehati dengan pilihannya kakakku.

Tak hanya sandal yang sehati, tapi juga barang-barang lainnya. Apa yang aku suka, ternyata kakak menyukainya juga. Semua barang-barang yang kami dapatkan, tentunya pilihan Ibu. Meski tak semuanya bermerk, namun Ibu selalu memilihkan kami yang terbaik.

Akibat dari perlakuan Ibu, memilihkan kami sesuatu yang selalu seragam, akhirnya orang-orang menganggap kalau kami adalah anak kembar. Banyak orang yang salah terka. Padahal sebenarnya kami hanya kakak beradik. Tidak kembar!

Aku kadang tersenyum bahkan tertawa saat ada orang yang sulit membedakan kami. Padahal kami sesungguhnya sangatlah beda. Namun begitulah di awal perjumpaan, mereka akan sulit membedakan, tapi ketika sudah sering melihat dan menyapa kami, pasti mereka dapat membedakannya.

Itulah salah satu cerita masa kecilku. Cerita yang selalu aku ingat sepanjang masa. Aku bahagia memiliki Ibu sehebat dia. Kasih sayang Ibu begitu besar! Mungkin pasir di lautan pun belum mampu menandingi kasih sayangnya. Cinta Ibu begitu dalam! Mungkin dalamnya lautan tak mampu menandingi kedalaman cintanya. Kasih dan cinta Ibu berlaku sepanjang masa bagiku.

Aku sangat bersyukur kepada Allah SWT, karena dikaruniai seorang bidadari dunia yaitu Ibu. Menurutku, Ibuku adalah Ibu yang paling terbaik sejagad raya ini. Kebaikannya begitu banyak padaku. Tak mampu aku hitung! Dan tak mampu aku membalas semuanya. Hanya hal-hal kecil yang bisa aku lakukan untuknya, yaitu menjadi jawara kelas ketika SMP dan SMA. Aku sangat senang melihat Ibu tersenyum bahagia saat pengambilan rapor sekolah. Bagiku itulah momentum terindah dalam hidupku. Bisa membuat wajah Ibu penuh rona kebahagiaan.

Cerita lain ketika bersama Ibu yaitu, Ibu selalu memasakkanku makanan yang sangat lezat. Jujur, bagiku tak ada yang nenandingi kehebatannya dalam meracik makanan. Teman-teman sepermainanku pun mengakui bahwa Ibuku sangat jago memasak. Selama ini, makanan yang Ia hidangkan selalu amat sesuai dengan seleraku. Dari kecil hingga aku dewasa, Ia selalu menyuguhkan makanan sehat dan bergizi. Alhamdulillah, saat ini aku menjadi anak yang sehat dan tumbuh subur.

Sekali lagi kukatakan, aku sangat bersyukur dikaruniai seorang Ibu yang begitu hebat. Aku belajar banyak darinya. Ia adalah guru kehidupanku yang mengajarkan banyak hal dalam hidup. Ia senantiasa mengingatkanku 3 hal penting dalam hidup ini. Pertama, ketika diberi nikmat, kita harus bersyukur. Kedua, ketika diuji, kita harus bersabar. Ketiga, ketika berbuat dosa, maka cepat-cepatlah kita beristighfar.

Aku bangga memiliki Ibu. Aku pun sangat berharap semoga Ia juga bangga memiliki anak sepertiku. Meski belum banyak prestasi yang dapat kutorehkan, namun aku akan berjanji akan senantiasa melakukan yang terbaik demi melihat semburat senyum di wajahnya. Ibu, meski engkau tak muda dan secantik dulu, namun cinta dan rasa kebanggaanku tak kan pernah luntur dimakan zaman. Sungguh aku mencintaimu, Ibu!

Love is you. Love is you. Finally love is you, Mother!

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s