Adakah Sarjana Mabrur?

Hari ini adalah hari yang sangat bersejara buat kakakku, Yuliana Sari, S.Pd. Pasalnya hari ini beliau tengah mengikuti acara wisuda Universitas Tadulako. Kali ini, bersama 1001 sarjana lainnya merupakan wisudawan/wisudawati yang ke 66.

Kebahagiaan ini tak hanya ia bagikan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, namun juga sahabat-sahabat dunia mayanya. Terbukti ia langsung meng-update status “Semoga bisa menjadi sarjana mabrur”

Pernyataannya bagi saya, sedikit menggelitik. Gimana tidak, bagi saya, kata mabrur itu sepertinya hanya cocok untuk seorang haji atau haja yang baru pulang melaksanakan ibadah haji. Adakah sarjana mabrur?? Kenapa nggak Sarjana yang sukses? atau sarjana luar biasa. Hmmm, mungkin intinya, setelah kita mengeyam pendidikan di perguruan tinggi, kita bisa berbagi ke orang lain. Kita berupaya untuk menjadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak.

Andai ku Bisa Melihat Masa Depan…

@Singapore Flyer, Singapore

Akan jadi apa saya tahun depan? Akankah saya tetap bersikeras untuk nyoba IELSP cohort XI? Akan kah saya berada di Amerika tepat di bulan Maret 2013 nanti? Ataukah saya masih terdiam dan terpaku ngurusin skripsi? Atau mungkin tahun depan saya dinyatakan sarjana? Hmmm, SUNGGUH HANYA ALLAH YANG TAHU! Sesungguhnya semuanya masih abu-abu dalam pemikiran saya. Namun itu semua tergantung dari keputusan dan pilihan saya saat ini. Hmm, andai ku bias melihat masa depan! Namun hal itu sungguh tak mungkin.

Topik ini mengingatkan saya pada perbincangan tadi sore. Perbincangan bersama anak PPLT di SMAN Model Terpadu Madani Palu. Saat itu saya mengatakan bahwa kemungkinan kalian semua (teman-teman,red) yang akan sarjana duluan di tahun 2012. Dengan lantang saya mengatakan bahwa saya akan sarjana di tahun 2013. (Huah, mungkin mereka sedikit kaget!). Saya bilang ke mereka kalau saya ingin ke Amerika dulu lewat program IELSP cohort XI. Jadinya, saya mesti nunda kelulusan.

^^^

Baca lebih lanjut

Pelaksanaan PPL Terpadu PPG MIPA BI Semester Genap 2011/2012

Ada yang berbeda dari pelaksanaan PPL Terpadu Program Profesi Guru MIPA BI (PPG MIPA BI) semester genap 2011/2012 ini. Jika di tahun sebelumnya, sasaran pengabdiannya kepada warga sekolah dan masyarakat di suatu desa/kelurahan, kini sasarannya berfokus pada warga/masyarakat sekolah saja. Dalam hal ini, mahasiswa sepenuhnya mengabdi di sekolah, baik melakukan praktek keguruan maupun pengabdian kemasyarakatannya. Mulai pukul 07.00 hingga 15.00 WITA melaksanakan praktek keguruan, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pengabdian masyarakat sekolah yang berakhir pukul 18.00 WITA.

”Kami, mahasiswa PPL Terpadu PPG MIPA BI merupakan angkatan pertama yang melaksakan konsep seperti itu,” ucap Topan Setiawan, selaku koordinator mahasiswa PPL Terpadu PPG MIPA BI.  ”Menurut Tim penanggung jawab PPL Terpadu, jika konsep seperti itu berjalan dengan baik, maka pelaksanaan PPL Terpadu PPG MIPA BI ke depannya akan dilaksanakan sepenuhnya di Sekolah.”

Ada sebanyak 66 orang mahasiswa yang mengikuti PPL Terpadu PPG MIPA BI untuk semester genap 2011/2012 ini. Secara acak mereka ditempatkan di sekolah-sekolah yang berstatus sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di Kota Palu. Sekolah yang dimaksud yaitu SMPN 1 Palu, SMPN 2 Palu, SMP Al-Azhar Palu, SMAN 2 Palu, SMAN 5 Palu, dan SMAN Model Terpadu Madani Palu.

Baca lebih lanjut

Kuliah ke Luar Negeri, Tak Hanya Sebatas Mimpi

Yovita Viananda Sari berhasil menggondol prestasi di Tingkat Internasional. Mahasiswa semester 8 (delapan) Jurusan Ekonomi Akutansi Universitas Tadulako ini meraih kesempatan untuk mengikuti program beasiswa IELSP. IELSP atau Indonesia English Language Study Program merupakan beasiswa untuk belajar Bahasa Inggris (English for Academic Purposes) melalui program immersion dalam kelas-kelas internasional selama 8 (delapan) minggu di universitas ternama di Amerika Serikat. Program tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa S1 (masih aktif – belum sidang kelulusan) dari berbagai jurusan universitas manapun di seluruh Indonesia. Seluruh biaya mulai dari keberangkatan ke Amerika hingga pulang ke Indonesia akan ditanggung, kecuali pembuatan paspor. Program ini disponsori oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat dan dirancang serta dilaksanakan oleh The Indonesian International Education Foundation (IIEF) yang bekerja sama dengan The Institute of International Education (IIE) yang berpusat di New York, Amerika Serikat.

Baca lebih lanjut

Facebook Oh Facebook

Aku adalah seorang gadis yang hidup di keluarga yang terbilang sederhana. Orangtuaku bukanlah seorang pegawai negeri. Bukan pula seorang pengusaha sukses. Juga bukan seorang yang konglomerat yang punya banyak harta. Orangtuaku hanyalah seorang pekerja keras.

Penghasilan orangtuaku sangat pas-pasan setiap harinya. Bagiku, untuk bisa memenuhi makan sehari-hari saja itu sudah cukup. Aku paham dengan keadaan orangtuaku, sehingga aku tak berani dan merasa risih jika meminta kepada orangtua untuk membeli barang-barang yang mewah. Selama ini yang aku beranikan hanyalah untuk kebutuhan sekolah dan kuliah saja. Bagiku, akan percuma saja minta ini dan itu kepada mereka, nah toh mereka tak mampu membelikan barang-barang mewah yang aku inginkan.

Lantas aku tak hanya berdiam diri meratapi nasibku. ”Aku tahu bahwa Allah mempunyai niat baik menakdirkanku seperti ini. Tugasku hanyalah bersangka baik pada-Nya. Ku yakin bahwa setiap orang sudah diatur rezekinya masing-masing. Tak kan tertukar rezeki yang satu dengan yang lainnya. Itulah kemaha besaran Allah SWT,” Ucapku membathin. Bagiku, kata-kata itulah yang menjadi suntikan yang dapat membesarkan hatiku. Lantas aku memutar otak bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan sesuatu yang aku inginkan tanpa menambah beban orangtua.

Baca lebih lanjut

Cerpen; Love Story

Jantungku berdegub kencang. Pertanda sesuatu! “Ah, apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?” Aku membathin.

Laki-laki itu bernama Hendra. Ia adalah kakak kelasku. Sejak itu, aku mulai simpati kepadanya. Di mataku, Ia adalah siswa laki-laki yang paling sempurna dibanding yang lainnya. Ia sosok laki-laki yang baik, bijaksana, pemimpin, dan berwawasan luas.

Aku sedikit kecewa setelah mengetahui bahwa Hendra telah mempunyai seorang kekasih yang bernama Rani. Rani sendiri adalah teman sekelasku.

“Hmm, mana mungkin cowok sekeren dia, nggak punya pacar!” Gumamku dalam hati. Aku pun menyadari hal itu, bahwa Hendra milik orang lain. Lantas aku hanya bisa menjadikannya sebagai cidha, alias ‘cinta dalam hati’.

Di sekolah, aku mempunyai teman laki-laki bernama Iwan. Karena keseringan berinteraksi, lantas aku menganggapnya sebagai sahabatku. Bagiku, Iwan adalah sosok pendengar yang baik. Sering kali aku curhat padanya. Termasuk rasa kagumku pada Hendra. Hanya Ia yang mengetahui rahasia itu.

Baru beberapa minggu saja menetap di daerah ini, ada banyak teman laki-laki yang menyatakan cinta ke aku. Namun, tak ada satu pun laki-laki yang mampu mengubah perasaanku pada Kak Hendra. Mungkin itulah kekuatan cinta pada pandangan pertama!

Baca lebih lanjut

Mozaik Kehidupan Seorang Pemimpi (Part III)

Dear Sobat, apa kabar? semoga sehat wal’afiat tak kurang dari satu apapun. Termasuk ‘semangat’, yang merupakan hal yang terpenting untuk memasuki bulan ketiga (maret) di tahun 2012 ini.

Alhamdulillah sobat, saat ini semangatku dalam menulis semakin tinggi. Dan juga saya semakin terpacu dan terpicu untuk melejitkan potensi dalam berkreasi dan berkarya.

Tak Ingin Jadi Penonton, tapi Pemain!

Ya, benar apa yang dikatakan oleh Danang A. Prabowo, Sang motivator Indonesia. Saat ini saya berusaha menjadi seorang pemain. Mencoba untuk menjadi pemain handal. Saya tak mau hanya menjadi penonton, menyaksikan kehebatan/prestasi orang lain. Kini saatnya, sayalah yang menorehkan prestasi. Memperlihatkan bahwa saya bisa! Ya, pasti bisa! Bisa, bisa, dan bisa! (Yuk, bangun mindset bahwa pasti kita bisa!)

Alhamdulillah, banyak mimpi yang terwujud di tahun 2011 dan 2012 ini.  Salah satu yang terwujud yaitu proposal PKM-KC saya, Alhamdulillah lolos seleksi dan didanai oleh DP2M DIKTI. Judul PKM-KC saya yaitul “Game edukasi  ‘Adventure of Yojo’ Berbasis Role-Playing-Game (RPG) sebagai Solusi Kreatif dalan Melestarikan Kebudayaan Sulawesi Tengah“.

Baca lebih lanjut