Cerpen; Love Story

Jantungku berdegub kencang. Pertanda sesuatu! “Ah, apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?” Aku membathin.

Laki-laki itu bernama Hendra. Ia adalah kakak kelasku. Sejak itu, aku mulai simpati kepadanya. Di mataku, Ia adalah siswa laki-laki yang paling sempurna dibanding yang lainnya. Ia sosok laki-laki yang baik, bijaksana, pemimpin, dan berwawasan luas.

Aku sedikit kecewa setelah mengetahui bahwa Hendra telah mempunyai seorang kekasih yang bernama Rani. Rani sendiri adalah teman sekelasku.

“Hmm, mana mungkin cowok sekeren dia, nggak punya pacar!” Gumamku dalam hati. Aku pun menyadari hal itu, bahwa Hendra milik orang lain. Lantas aku hanya bisa menjadikannya sebagai cidha, alias ‘cinta dalam hati’.

Di sekolah, aku mempunyai teman laki-laki bernama Iwan. Karena keseringan berinteraksi, lantas aku menganggapnya sebagai sahabatku. Bagiku, Iwan adalah sosok pendengar yang baik. Sering kali aku curhat padanya. Termasuk rasa kagumku pada Hendra. Hanya Ia yang mengetahui rahasia itu.

Baru beberapa minggu saja menetap di daerah ini, ada banyak teman laki-laki yang menyatakan cinta ke aku. Namun, tak ada satu pun laki-laki yang mampu mengubah perasaanku pada Kak Hendra. Mungkin itulah kekuatan cinta pada pandangan pertama!

           

***

Sungguh di luar dugaan! Ternyata Sahabatku Iwan juga nembak aku. Aku tak menduga ternyata ia juga jatuh cinta padaku. Ini suatu kekonyolan bagiku, menerima cinta dari sahabatku sendiri. Padahal ia tahu kalau aku sangat menyukai Kak Hendra.

Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Menerima cintanya atau menolaknya. Sungguh, aku sangat bimbang! Lantas aku mengatakan pada Iwan, bahwa aku akan memberi jawaban seminggu kemudian. Iwan pun mengiyakan hal itu.

***

Belum seminggu, ada kabar bahwa Kak Hendra telah putus dengan Rani. Saat itu hatiku berada di antara senang dan sedih. Senang karena Kak Hendra telah jomblo. Sedih karena Rani adalah salah satu sahabat terdekatku. Aku kasihan melihatnya. Namun bagiku, kabar itu adalah angin segar setelah sekian lama aku nantikan.

Lantas aku menemui Iwan. Aku mengatakan ke dia bahwa aku menolak cintanya, dengan pertimbangan bahwa Kak Hendra telah jomblo. Aku ingin PDKT dengan Kak Hendra, yang selama ini aku sayangi. Saat itu, aku melihat Iwan sangat kecewa dengan jawaban yang aku berikan kepadanya. Aku melihat Ia menangis, dan berlalu begitu saja dari hadapanku.

***

Iwan sangat marah padaku. Buktinya ia tak mau sedikitpun berbicara padaku. Mengarah pandangan ke aku saja tak pernah, apa lagi bicara. Entah mengapa ia begitu keras kepala dan egois. Di situasi seperti itu, mengapa aku merasa kehilangannya? Mengapa seperti ada yang hilang dariku? Saat ini, rasa sayangku pada Kak Hendra malah lenyap begitu saja, namun malah tumbuh benih-benih cinta pada Iwan. Sebenarnya ini cinta atau rasa kasihan pada Iwan? Oh Tuhan, apakah aku benar-benar cinta kepadanya? Mengapa aku tak mengatakan ‘iya’ sebagai jawaban bahwa aku juga mencintainya?! Oh Tuhan, maafkan aku tak menghiraukan cinta dari sahabatku.

Meski antara aku dan Iwan tak pernah bersatu dalam ikatan cinta, namun nama Iwan telah terukir indah di hatiku, sebagai seorang sahabat yang telah mengajarkanku tuk bagaimana dalam menghargai cinta. Thanks for all, my best friend! Sungguh, cerita cinta ini tak kan penah aku lupakan dalam hidupku.

 

3 thoughts on “Cerpen; Love Story

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s