Setitik Asa

@ IBIS Hotel, Ben Coolen Street, Singapore

Angin berhembus dengan sangat hebatnya. Suhu hari ini -5 derajat celcius. Dinginnya begitu menusuk hingga ke sum-sum tulang belakang. Sepertinya jaket tebal yang kugunakan tak cukup membendung dinginnya. Kabut tebal tak pernah enyah menyelimuti daerahku. Langkah kaki dimana aku berpijak seakan begitu berat. Ini dikarenakan benda putih yang kadang mengikuti sepatuku.  Hamparan salju ini terlihat bagaikan permadani putih yang sangat indah.

Aku mendaki ke puncak gunung. Menikmati indahnya suasana kota yang begitu asing bagiku. Banyak pohon pinus yang tumbuh menjulang tinggi. Selain itu ada pohon pencakar lainnya yang begitu kokoh nan indah.

Langkahku semakin berpijak dengan pasti.  Semakin tinggi diri ini dari daratan. Aku begitu bahagia mencapai puncak tertinggi itu.

“Horeeeee. Akhirnya aku bisa mencapai puncak gunung ini!” Ucapku penuh kegirangan.

Aku berteriak, “Heiiiiiii!” berteriak sekuat-kuatnya. Berteriak kepada alam. Alam pun  seakan menjawab teriakkan ku itu. Ternyata teriakanku sendiri yang saling bersahut-sahutan.

Aku menari-nari. Berlarian ke sana ke mari. Jingkrak-jingkrak aneh. Terlihat begitu bahagia. Tak beda jauh seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan oleh ibunya. Sungguh kebahagiaanku ini tak bisa aku bendung.

Aku tak sadar diri, ternyata di belakangku ada jurang yang begitu curam.  Aku pun tergelincir. Aku terjatuh, dan akhirnya tersangkut pada sebuah ranting.

“Siti, dinda, Nisa…Tolong aku!!!” Kataku dengan histeris. Aku mengulurkan tangan ke arah mereka.

“Sarahhhhhh!” Serempak teman-teman memanggil namaku. Mereka mendekat.

“Heiiii, tolong aku. Aku takut. Cepat teman-teman!” Ucapku dengan wajah pucat pasi.

“Ulurkan satu tanganmu, Sarah. Cepat raih tanganku!” pinta Siti kepadaku.

Dengan perlahan aku meraih tangan Siti, sedangkan dua temanku yang lain menahan Siti agar tak ikut terjatuh juga. Sejengkal lagi aku dapat meraih tangannya. Perlahan aku mencoba mendekatkan jari-jariku ke arah siti. Namun belum sampai juga tanganku diraihnya.

“Sarah, bertahanlah di situ!” teriak Siti.

Tak habis akal, Siti mencoba mendekatkan tangannya ke arahku, dan akhirnya berhasil tanganku diraihnya.

“Ulurkan lagi satu tanganmu. Ayo cepat, Sarah!” Pinta Siti.

Belum sampai aku memberikan tanganku yang satunya, Tubuh Siti malah bergeser ke arahku.

“Ah, tidak!!! Nisa, Dinda,… tolong tarik kami!” teriak Siti.

Suhu yang begitu dingin seakan berubah menjadi panas. Aku berkeringat di situasi seperti ini.

Kami pun saling tarik menarik. Berupaya agar semuanya selamat. Namun apa yang terjadi, ternyata tak sesuai harapan.

“Ah, tidakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!!!” Ucapku penuh ketakutan.

Bukkkkk! Ahhh, kami berempat terjatuh.

Aku terjatuh di tempat yang begitu keras. Badanku tersungkur lemah. Terasa begitu sakit.

“Alhamdulillah! Ini cuma mimpi,” Ucapku sebagai rasa syukur. Aku mengelus dada. Aku mengusap keringat yang sedari tadi bercucuran. Ternyata aku jatuh dari kasur.

“Aduh, badanku sakit sekali” Aku meringis kesakitan. Lantas, aku pun merelaksasikan otot-ototku yang kaku. Kemudian kembali merebahkan badan ke kasur.

Accident kecil tadi ternyata membangunkan kakakku, Dewi.

“Sarah, kamu kenapa sih?! Dari tadi ngigo terus,” Ketus kakakku. “Makanya, kalau punya impian jangan terlalu tinggi! Jadinya terbawa sampai ke mimpi,” lanjutnya.

Aku pun sedikit bercerita kepada kakakku tentang mimpiku. Bagiku, itu adalah bunga tidur yang paling indah sekaligus menegangkan.

“Mana mungkin kamu bisa ke luar negeri. Uang dari mana, Sarah? Uang buat makan aja susah, apalagi buat jalan-jalan atau lanjut study ke sana? Mana mungkin. Udah kubur aja dalam-dalam mimpimu itu,” tutupnya.

Aku hanya terdiam dan terpaku mendengar pernyataan seperti itu.

Bunga tidur itu selalu terbayang dalam pikiranku. Aku mencoba menerka-nerka maksud dari mimpiku itu. Apa mimpi itu mengartikan bahwa aku tak kan pernah mungkin bisa ke luar negeri? Apa benar yang dikatakan oleh Kak Dewi bahwa aku tak kan bisa lanjut kuliah di luar negeri? Mungkinkah Allah memberi isyarat lewat mimpiku itu? Aku berhayal, dan senantiasa berdoa semoga ada sedikit asa untukku.

***

“Teman-teman, tadi malam aku bermimpi tentang kita. Tentang mimpi-mimpi kita tuk bisa menginjakan kaki ke luar negeri,” Jelasku penuh keseriusan. “Aku bermimpi, kita berada di suatu tempat yang begitu asing. Sepertinya di Amerika,” tambahku.

“Masa sih?” Tanya Dinda. Sedikit tak percaya.

“Ih, kerennya!” Nisa menimpali.

“Terus-terus, gimana kelanjutannya?” sergap Siti di hadapanku.

Aku pun menceritakan semuanya ke mereka. Panjang lebar ku ceritakan kepada mereka. Mereka terkejut tatkala aku mengatakan kalau aku sempat terjatuh dari kasur akibat mimpiku itu.

“Sudahlah Sarah, jangan bersedih! Itu kan hanya bunga tidur belaka. Udah lupakan saja. Dengan usaha yang pantang menyerah, insya Allah kita bisa menginjakan kaki di luar negeri dan lanjut S2 di sana.” Kata Siti, menasehatiku.

Amin. Aku dan teman-teman yang lain pun mengaminkannya.

Kami pun kembali ke fakultas masing-masing untuk melanjutkan proses perkuliahan.

***

“Sarahhhhh, ada info menarik!” teriak Dinda menghampiriku.

“Info apa, Din?” Tanyaku.

“Nih, ada beasiswa tuk belajar bahasa inggris ke Amerika. Kita ikut, yuk!” Ajak Dinda.

“Wahhhh, iya, iya, aku mau ikut. Ini nih beasiswa yang selama ini aku nanti-nanti!” Kataku. “Tak boleh terlewatkan! Aku tak mau seperti tahun lalu. Hanya karena aku tidak punya uang untuk tes TOEFL, lantas aku mundur tuk nyoba beasiswa ini. Pokoknya entah bagaimana caranya, aku mesti ngedapetin uang untuk tes TOEFL” Aku meyakinkan Dinda.

“Iya, iya. Bener banget tuh! Kita berjuang sama-sama ya di beasiswa ini. Semoga kita berhasil.

“O iya, Siti dan Nisa  nyoba beasiswa ini juga?” Tanyaku.

“Hmmm, mereka kayaknya belum berminat deh dengan beasiswa ini. Mungkin lain kali mereka nyobanya,” jawab Dinda.

“Oh gitu. Ya udah deh. Moga kita berdua beruntung ya,” Ucapku penuh bahagia.

***

Hatiku begitu senang hari ini. Kesenangan ini berawal dari info beasiswa yang diberitahukan oleh Dinda. Semenjak itu, benua Amerika seakan menari-nari indah di benakku.

Aku tiba di kamarku. Ku coba tuk menuliskan semua target atau mimpi-mimpiku di selembar kertas, lalu kutempel kertas itu di dinding kamarku. Setidaknya ini menjadi cambukanku untuk berusaha dengan keras di beasiswa itu. Aku tak mau gagal!

“Amerika, wait me! I will be coming,” ucapku membathin. Aku sangat yakin kalau aku akan jadi salah satu penerima beasiswa Amerika itu. Mudah-mudahan, bunga tidurku yang tempo lalu ku impikan akan menjadi kenyataan. Aku akan menginjakkan kaki ke negera bersalju. Berlarian dan berkejaran dengan teman-teman. Satu sama lain saling melempar salju. “Ah, indahnya,” aku membathin.

Malam ini begitu indah, dan sangat bersahabat. Bintang berkelip-kelip indah, seolah mendukung segala mimpi-mimpiku. Aku pun terlelap tidur dengan bahagia.

***

“Sarah, cepat kemari!” Pinta Kakakku, Dewi.

“Ada apa sih?” tanyaku sedikit heran.

“Nih, ada kuis di internet. Keren banget kompetisinya!” Ucap Dewi meyakinkan.

“Apanya yang keren? Dari dulu kakak selalu ngatain gitu. Nih ada kuis keren, nih ada kuis keren! Selalu ngatain keren di setiap kuis yang ada. Padahal tidak semuanya keren. Hmmm, jadi malas deh ikutinnya!” Aku menimpali.

“Gini, ada kuis di internet yang hadiahnya jalan-jalan gratis ke Singapura. Kamu mau ikutan, tidak? Kalau tidak mau, ya sudah, Kakak aja yang ikut!” Jelasnya.

Jantungku berdegup kencang. “Apa? Hadiahnya jalan-jalan ke Singapura? Wow keren! Ya pastinya aku mau ikut!!!”  

“Huhhh, Kakak kira kamu tidak mau ikut,” ledek Dewi. “Makanya, kalau kakak lagi ngomong dengerin dulu dong sampai tuntas. Jangan main potong gitu,” tambahnya.

Aku pun bercerita panjang lebar bersama Kak Dewi. Ia menjelaskan tentang mekanisme kuis tersebut. Aku berharap, aku bisa memenangkan kompetisi itu. Bila perlu, kak Dewi juga ikutan menang, supaya kami bisa jalan-jalan bareng di Singapura. Kini, tak hanya Amerika yang menari-nari indah di benakku, juga Singapura ikut membuntuti. Aku pun tersenyum bahagia.

***

3 bulan kemudian…

Kata Dinda, kandidat beasiswa Amerika telah diumumkan di website. Secepat kilat, aku pun langsung mengecek pengumuman itu. Wah, ada 821 kandidat. “Apakah saya salah satunya?” Tanyaku pada diriku sendiri. Segera aku munculkan jendela find untuk mencari namaku. Aku mengetik ‘Sarah Izzati’ di jendela itu, dan ternyata tak ada. Aku mengetik Universitas Paripurna, Alhamdulillah aku menemukan kampusku itu. Lantas aku mencari namaku di deretan kampusku itu. Ternyata nihil, tak ada namaku.

Aku keringat dingin. Aku deg-degan. Sesekali aku menelan luda. “Bismillah…” Aku berdoa. Aku tak menyerah begitu saja. Aku coba tuk lebih teliti lagi mencari namaku. Mungkin aja terselip atau tim Juri salah ngetik satu huruf dari namaku. Aku pun mencoba tuk tetap optimis! Dengan cermat, aku membaca setiap nama yang ada. Mulai dari abjad A hingga abjad Z. Butuh beberapa menit untuk membaca ratusan nama itu. Alhamdulillah ada kandidat yang bernama Sarah, namun sayangnya bukan Sarah Izzati tapi Sarah Irmawati. Itu berarti bukan aku.

            Aku lemas. Aliran darahku seakan berhenti. Sungguh aku tak percaya! Aku tak lolos seleksi pertama di beasiswa itu. Aku sedih namaku tak ada di deretan pengumuman itu.  Ternyata hal ini juga dirasakan oleh sahabatku, Dinda.

            Handphone-ku berdering.

“Assalamu’alaikum. Sarah, hiks…hiks…Kita berdua belum beruntung di beasiswa itu. Mungkin tahun depan ya?! Atau mungkin rejeki kita ada di tempat lain,” Sahut suara dari seberang sana.

Aku menyoba mengatur kembali nafasku. Meredakan kekecewaan yang begitu berkelebat menyelimuti hatiku.

“Hallo Sarah, kamu denger aku kan? Kamu baik-baik saja kan?” Tanya Dinda.

“Wa’alaikumsalam. I…Iya, Dinda, aku denger kok. Aku baik-baik aja” kataku.

“Oke. Tetap semangat ya kawan! Assalamu’alaikum” tutupnya.

“Wa’alaikumsalam” jawabku.

Aku menghembuskan nafas. Mencoba mengenyahkan segala kegalauan ini. Aku gagal lagi! Aku gagal! Ah, aku begitu kecewa.

 Mengapa Allah tak mengizinkan ku tuk mencicipi indahnya negeri di seberang sana? Bukankah ada pepatah, tuntutlah ilmu hingga ke negeri cina? Lantas mengapa aku tak diberi kesempatan itu? Aku mengeluh.

            Kegagalan ini, mengingatkanku pada mimpiku yang terjadi pada 3 bulan silam. Apa benar itu adalah isyarat dari Allah bahwa aku tak akan pernah bisa menginjakkan kaki ke luar negeri? Apa mustahil aku bisa ke luar negeri? Ya Rabb, mengapa takdir yang engkau berikan begitu kejam bagiku?!

            Aku begitu merasakan kekecewaan dan rasa putus asa yang amat mendalam. Aku begitu sedih, dan gundah gulana.

            Handphone-ku berdering. Aku tak menghiraukannya.

            Selang beberapa menit, handphone-ku berdering kembali.

            Tanpa gairah, aku beranjak mengambil handphone-ku.

            “Hallo, selamat Sore. Benar ini, saudari Sarah Izzati? Tanya seorang wanita dari seberang sana.

            “Iya, benar saya sendiri,” jawabku tanpa basa-basi.

            “Selamat ya, Sarah. Kamu salah satu pemenang kuis beauty days out, yang akan pergi ke Singapura,” Ucap wanita itu.

            “Apa, mbak? Aku memenangkan hadiah ke Singapura? Tidak salah dengar, mbak???” Tanyaku tak percaya.

            “Iya benar. Siapkan catatan, dan catat semua apa yang mesti kamu persiapkan dalam seminggu ini,” perintahnya.

            Dengan gemetar aku mengerjakan apa yang diperintahnya. Sungguh, aku begitu kaget mendengarnya. Aku pun sujud syukur atas apa yang Allah berikan kepadaku.

***

           

Ternyata Allah telah merencanakan sesuatu yang amat indah buatku, dan ternyata Kak Dewi juga memenangkan kompetisi itu juga. Sungguh luar biasa nikmat yang engkau berikan kepadaku, ya Rabb. Maafkan hamba-Mu ini, yang sering mengeluh dan berburuk sangka kepada-Mu. Meski aku belum bisa jalan-jalan ke Amerika, setidaknya ada Singapura yang menjadi obat penghapus duka laraku. Setitik asa itu masih ada, yaitu jalan-jalan gratis ke Singapura. Meskipun sebelumnya, aku menganggap sangat tak mungkin bisa merasakan atmosfer luar negeri.

Hingga detik ini, Amerika masih menari-nari indah di benakku. Insya Allah suatu saat nanti, aku bisa berpijak di Negeri Paman Sam. Aku hanya mampu menulis dan merencanakan skenario itu, dan Allah yang akan menjadi Sutradaranya, sang penentu baik atau tidaknya skenario itu buatku.

3 thoughts on “Setitik Asa

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s