Sekilas Perjalanan Mengikuti MITI AWARD

MITIEmang ga ada yang namanya kebetulan jika sesuatu sudah ditakdirkan oleh-Nya. Di malam yang hening, saya mendapatkan dua buah pesan singkat yang isinya tentang event MITI Award. Sms itu saya dapatkan dari dua orang akhwat, yakni teman seperjuangan saya di UPIM.

Kala itu, saya langsung tertarik untuk mengikuti event itu. Syukur alhamdulillah saya ucapkan kepada Allah sehingga info itu bisa sampai ke tangan saya. Saya juga sangat berterima kasih pada kawan saya itu. Hmmm, nekad juga saya mengikuti event itu. Padahal deadline-nya esok hari T.T. Bisa kebayang ga gimana sibuknya saya mempersiapkan segala sesuatunya? Mulai dari pengisian formulir, CV, dan bukti berupa file hasil scan dari sertifikat/piagam. Semuanya hanya dipersiapkan dalam sehari alias sistem kebut semalam (SKS).

Berita gembira buat saya, alhamdulillah event seperti ini sudah pernah saya ikuti seperti pemilihan mahasiswa berprestasi (MAWAPRES) 2011 dan waktu seleksi beasiswa IELSP (Padahal keduanya gagal. Mawapres hanya sampai juara 2 di tingkat fakultas dan IELSP gagal total🙂 ). Ya…setidaknya keikutsertaanku pada dua event sebelumnya, bisa menjadi pengalaman saat mengikuti MITI Award 2012. CV dalam bahasa inggris dan file-file scan dari bukti sertifikat 80% udah di-scan. Jadinya saya tinggal men-scan sisanya🙂

Well, sebelumnya saya akan menjelaskan sedikit apa itu MITI AWARD. MITI itu singkatan dari Masyarakat Ilmuan dan Teknolog Indonesia. So, MITI AWARD berarti penghargaan buat masyarakat ilmuan dan teknolog Indonesia. MITI AWARD yang saya ikuti ini adalah penghargaan khusus mahasiswa.

Yang membuat saya cukup kaget sekaligus merenung sejenak pada event ini adalah bahwa event ini dikhususkan buat mahasiswa yang telah tertarbiyah atau setidaknya ngaji secara konsisten di suatu majelis. Keikut sertaan saya pada event ini, sungguh menjadikan saya merasa “seolah tak pantas” mengikutinya. Saya merasa minder untuk ikut itu. MENGAPA? karena dalam formulir pengisiannya, peserta diminta untuk menuliskan berapa hafalan surah yang telah dihafalkan? Gimana dengan bahasa asingnya? Apa punya binaan (mentee)?

Nah ini nih, pertanyaan yng terakhir ini yang bikin saya ber-istigfar banyak kali. Sebenarnya, saya punya kelompok anak mentoring (mentee), tapi udah dua bulan ga pernah dipegang. Soalnya saya sibuk keluar kota dan berbagai alasan klasik lainnya. Mengikuti MITI AWARD (MA) ini lah, saatnya saya mengaktifkan kelompok mentoring itu. Dan sangat menyesalnya saya, mengapa saya tak memulainya dari dulu? Subhanallah mereka semua kritis-kritis dan enak diajak berdiskusi🙂 Alhamdulillah pada pandangan pertama, saya berhasil menggoda mereka, hehe…

Okeh kembali pada seleksi MA.  Seleksi MA tahap 1 dimulai pada area regional. Jadi, saya sebagai utusan dari Universitas Tadulako masuk dalam regional Sulawesi. Saya ga tahu berapa orang sulawesi yang mendaftar pada tahap pertama ini. Info tentang MA saya dapatkan pada tanggal 30 Oktober 2012, and you know that deadline pengumpulan berkas tanggal 31 Oktober 2012. Finally, dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim berkas MA saya kirim ke panitianya.

You know, sebenarnya saya ga tahu secara jelas gimana alur atau proses seleksinya event MA ini  (Saya hanya ikut-ikutan. hehe…Palingan tak beda jauh dengan seleksi Mawapres *Pikir saya saat itu. hehe). Tapi biar bagaimana pun, saya tetap mengharapkan bisa lolos ke tahap selanjutnya.

Selang beberapa hari saya mulai melupakan keikut sertaan saya pada event MA. Eh, informasi tentang MA masuk ke dalam daftar sms saya, dan mengabarkan kalau saya lolos seleksi berkas (Alhamdulillah…). Saat info itu dikabarkan, kalau tidak salah saya sedang berada di Jakarta, lagi ikut Kongres Kebudayaan Pemuda Indonesia. Kalau tidak salah tepat pada tanggal 7 November 2012. Panitia MA juga mengabarkan kalau saya mesti membuat ESAI bertema “Peran andadalam mewujudkan  Indonesia yang Mandiri dan sejahtera”. Deadline pengumpulannya tanggal 15 November 2012.

Eng ing engg…Saking sibuknya di berbagai kegiatan, saya hampir lupa mengirimkan esai itu. Kala itu saya sedang berada di Padang, dalam mengikuti event Youth Reseacher Competition (YORECO) 2012. Akhirnya, kurampungkan pembuatan esai di detik-detik terakhir deadline. Di penginapan, saya mencoba membuat esai dengan cara SKS (sistem kebut semalam). (Astagfirullahhh kenapa saya terbiasa dengan sistem itu? Wallahu’alam. Yang penting hasilnya tak buruk. hehe)😀

Well, hari berganti hari…dan ternyata panitia MA mengabarkan kalau saya masuk ke tahap interview. Alhamdulillah…mereka mengabarkan kalau wawancaranya dilakukan esok hari via telpon (what? Apa? besok? tidak kah terlalu cepat?!) dalam hati saya berkata “Wah gampang ini. Insya Allah aman!” Aman gimana? setelah kutanyakan ke panitia, dan benar saja, ketakutan itu jadi kenyataan. Wawancaranya pake bahasa Inggris. *Tuinggg english saya masih kacau T_T…Hemmm yo wes lah, saya tetap mencoba aja. Saya pun dijadwalkan ada diwawancara sekitar pukul 2-4 sore.

Seharian saya mempelajari formulir MA yang pada waktu lalu dikumpul. Juga sesekali saya mempelajari esai yang saya buat. But you know, pertanyaan yang dilontarkan tak ada satu pun yang berhubungan dengan isi formulir, tapi secara keseluruhan pada esai yang saya buat.

Yang wawancara saya adalah panitia MA di tingkat pusat. Dan saya baru tahu yang wawancara saya itu ikhwan. Ya Allah, malu lah saya coz english saya kacau + terbata-bata ga karuan. Saat wawancara saya berada di Rumah Cahaya. Sengaja saya pindah ke situ, karena takutnya di rumahku sinyal telkomsel sangat jelek. Kira-kira pukul 15.20 WITA saya diwawancara. You know, itulah pertama kali saya diwawancara via telpon + pake bahasa inggris pula lagi. Sahabatku Siti, yang kala itu menemaniku di rumcay hanya tertawa tak karuan melihat ekspresi saya yang aneh.

Saat wawancara berlangsung, pertanyaan yang beliau lontarkan yaitu 1) mengapa memilih judul esai itu? 2) Apa langkah anda dalam mewujudkan Indonesia yang mandiri dan sejahtera? 3) Apa tindakan anda untuk masyarakat / komunitas di lingkungan anda? 4) Kontribusi apa yang anda lakukan pada remaja saat ini?

*Gubrakkk pertanyaannya saling mengkait antara satu sama lainnya. Pake bahasa indonesia aja belum tentu bagus hasilnya. Weleh apa lagi ini dijawab pake english😦😦 *Saya ga tau apa pewancara memahami atau tidak, apa yang saya katakan atas jawaban-jawaban yang saya berikan. But I should be confident😀

Akhir dari pertanyaan-pertanyaan tadi, selanjutnya pewancara menanyakan beberapa hal dalam bahasa Indonesia. Diantaranya yakni berapa juz yang sudah dihafal? (*Astagfirullah…untuk pertanyaan yang satu ini sangatlah berat). dan ini menyadarkan diri saya, bahwa saya mesti menambah hafalan. Hafalan saya belum cukup 1 juz… But, ini sungguh menjadi motivasi YANG BESAR buat saya untuk bisa setidaknya neghafal paling sedikit semua surah yang ada di juz 30. Target saya sebelum saya sarjana S1. Ya Allah,..help me please…

Setelah itu, giliran saya yang bertanya balik ke pewawancara. Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk bertanya. dan saat itu, saya menanyakan tentang alur atau proses seleksi MA ini sebenarnya gimana sih? (*Waduh,, takutnya saya dianggap ga serius atau hanya coba-coba aja mengikuti MA ini)…

Dan dia pun menjelaskan bahwa saat ini, saya tengah mengikuti tahap seleksi ke-2 yakni tahap wawancara. You know kawan🙂 ternyata dari regional sulawesi ada 4 orang yang bersaing menuju tahap ke-3 yaitu tahap nasional. Tahap 1 dan 2, seleksinya hanya dilakukan via online dan telpon, sedangkan untuk tahap 3 dilaksanakan secara offlline, alias bertemu langsung dengan juri dan peserta perwakilan dari masing-masing regional. Kalau tahun lalu seleksi tahap 3 dilaksanakan di UPI. Tahun ini dimana ya? wish me luck, Aamiin…

Ke empat mahasiswa yang sampe pada tahap wawancara yaitu, saya; Pujiati Sari asal UNTAD-Palu, 1 orang dari UNHAS-Makassar, dan 2 orang dari UNG-Gorontalo. Ya Rabbi…Saya sangat terkejut, ternyata hanya 4 orang saja yang tersisa. Dan saya tak menyangka kalau kali ini saya membawa nama kampus saja🙂 Lagi dan lagi Universitas Tadulako. SUngguh, saya bangga menjadi mahasiswa Untad (Bapak, Ibu dosen…doa kan moga Puji bisa lolos ke tahap nasional).

Usai wawancara ada rasa kelegaan dan keharuan yang membahana pada sekujur tubuh saya. Langsung saja saya memeluk erat kawan saya: Siti wasiah.

Well, apapun hasilnya, itu adalah yang terbaik buat saya. Entah saya lolos atau tidak pada tahap selanjutnya, saya akan tetap berkarya dan meng-upgrade ilmu ke-islaman saya.

Ya Allah mudahkan lah langkah hamba ini Ya Allah…

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s