My Essay; Langkah Nyata untuk Indonesia

MITIMasih teringat jelas ketika saya diwawancara untuk MITI Award. Tanggal 6 Desember 2012 pukl 15.20 Wita. Kala itu panitia nasional yang langsung mewawancarai saya via telepon.

Oh iya, sebelumnya saya mau memperkenalkan sedikit si pewancaranya. Kak Ronal Rifandi namanya, Biasa dipanggil Kak Ronal. Selidik punya selidik, dari info yang saya dapatkan di blognya, ternyata beliau alumni Universitas Negeri Padang (UNP), jurusan Pendidikan Matematika 2007. Saat ini, beliau tercatat sebagai mahasiswa S2 di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Subhanallah, ternyata beliau adalah salah satu penerima beasiswa IMPOME, salah satu beasiswa yang selama ini saya incar-incar juga. Beasiswa IMPOME merupakan beasiswa S2 yang mengkhususkan mahasiswanya tuk mendalami ilmu matematika realistik. Beruntungnya, jika mahasiswanya bisa mendapatkan nilai IELST 6.5 atau TOEFL setara 575, maka mahasiswa tersebut bisa memperoleh pendidikan di Uthrech University, Belanda. Dan hebatnya, Kak Ronal bisa mencapai skor tersebut. Luar biasanya,… Januari 2013 mendatang, beliau akan tebang ke negeri tulip untuk melanjutkan kuliah semester 2 dan 3. Jadi semester 1 di Indonesia, dua semester berikutnya di Belanda, dan semester akhir kembali ke INdonesia untuk penelitian/penyususan tesis.

I hope I can be like him. Semoga saya bisa mengikuti jejak beliau. Bisa lanjut S2 dengan beasiswa prestisius seperti itu. Hmmm, oh iya ada sih kakak tingkat saya yang lolos beasiswa IMPOME. Kak Ketut Kertayasa namanya. Namun, sayang IELTS beliau tidak mencukupi minimal 6.5. Jadinya beliau hanya bisa kuliah di Indonesia, yakni di Universitas Negeri Sriwijaya (UNSRI). Untuk IMPOME, mahasiswanya di tempatkan di 2 tempat. Ada yang di UNESA dan ada yang di UNSRI. Dan kak Ketut kedapatan jatah di UNSRI. Ya mungkin saja, S3 kali ya Kak Ketut bisa meraih impiannya untuk bisa kuliah ke luar negeri.

Oke…kembali pada seleksi wawancara MA. Kagetnya saya pada waktu itu, ternyata sang wawancara hanya menanyakan isi esai saya. Padahal semaleman saya menghabiskan waktu hanya mempelajari isi formulir saja😦 Hemmm pasti sudah kalian bayangkan sob, betapa kacaunya saya menjawab pertanyaan sang pewawancara. Tapi saya mesti tetap optimis. Kalo sudah rejeki, insya Allah tahap selanjutnya akan saya raih…

Doa kan ya sob, moga saya bisa lolos sampe ke tahap nasional. Aamiin…

Sekedar berbagi, ini nih esay yang saya tulis untuk mengikuti MITI AWARD. Esai ini ditulis hanya beberapa jam saja ketika saya di Padang. SOalnya saat itu, saya lagi mengikuti kompetisi Young Reseacher Competition (YORECO) di Universitas Negeri Padang (UNP). Moga tulisan ini bermanfaat buat teman-teman semua :-) 

***

~~Langkah Nyata untuk Indonesia~~

“Apa yang dapat anda lakukan dan atau apa  yang dapat anda berikan sehingga kehidupan anda, keluarga, lingkungan, bangsa dan negara, dan bumi yang ditempati bisa menjadi lebih baik setiap harinya?”

Itulah kutipan yang diungkapkan oleh Azwar Hasan, penggagas kegiatan Youth Leadership Camp (YLC). YLC merupakan kegiatan nasional yang saya ikuti pada tanggal 4 s.d. 8 Juli 2012 lalu di Aceh.

Saya tersentak dengan kalimat itu. Otak saya mulai menerawang melewati lorong-lorong masa lalu. Saya mulai termenung dan bergumam dalam hati. “Selama 22 tahun ini, usia saya telah digunakan untuk apa? Apa kontribusi saya untuk negeri ini?!”

Saya lama terdiam memikirkan apa yang telah  saya lakukan hingga sampai detik ini. Terlebih saat saya mengikuti pemaparan materi dari Muhammad Iman Usman, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) 2009. Hebatnya, Ia adalah seorang mahasiswa berprestasi (mawapres) nasional 2012. Apa yang menjadikannya ia hebat? Selidik punya selidik ternyata sejak kecil ia mulai menggeluti kegiatan sosial. Jika pada umumnya anak berusia 10 tahunan berkeinginan menghabiskan waktunya untuk selalu bermain, lain halnya dengan sosok seorang Muhammad Iman Usman saat kecil. Pada seumuran tersebut, ia mulai berfikir “Bagaimana saya bisa membantu teman yang ada di sekitar saya bisa belajar, atau mengenyam pendidikan?” Dari pemikiran yang luar biasa tersebut telah membuat ia bergelut di dunia sosial mulai sejak SD hingga di jenjang perkuliahan. Hingga penghargaan juara mawapres 2012 dengan bangga diraihnya.

Pemaparan materi yang disampaikan oleh Iman, sangat luar biasa. Hal ini tambah membuat saya “galau”. Galau ingin melakukan suatu perubahan yang lebih baik. Saat itu, pikiran saya semakin menjadi-jadi. Saya selalu bergumam dalam hati, “Ya Allah, selama 22 tahun ini, apa yang telah saya lakukan? Kegiatan sosial apa yang telah saya lakukan sejak kecil?!” Bagi saya, ini adalah cambuk keras buat saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Meski rasanya amat ketinggalan jika saya mengejar kehebatan Iman dan sosok lainnya yang sangat luar biasa.

Namun, dari dalam hati berbisik bahwa “Tak ada kata terlambat untuk menjadi sosok pribadi yang hebat! Dimana ada kemauan di situ ada jalan”. Saya pun mulai berfikir, usai kegiatan YLC ini berakhir, saya harus lebih berkontribusi untuk Indonesia. Saya pun mulai menyusun kembali mimpi-mimpi saya yang awalnya “berantakan”.

Berbicara mengenai peran atau kontribusi saya dalam membangun Indonesia yang mandiri dan sejahtera, sebenarnya peran saya belum begitu “mengglobal” jika dibanding orang-orang hebat yang saya kemukakan sebelumnya di atas. Namun, saya optimis bahwa tindakan sekecil apa pun akan menjadi besar maknanya jika kita bisa melakukan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas melakukannya. Saya senantiasa menerapkan teori 3 M, yang dikemukakan oleh Abdullah Gymnastiar atau yang sering disapa Aa Gym, yakni mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang.

Pertama, mulai dari diri sendiri, yakni setiap harinya saya mencoba belajar dan meng-upgrade diri saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kedua, memulai sesuatu dari hal terkecil hingga yang paling besar. Nyatanya, tindakan yang kecil dapat memudahkan tindakan-tindakan yang besar. Seperti tidak membuang sampah sembarangan, dan mencatat/meng-alarmkan aktivitas keseharian saya agar dapat terlaksana dengan maksimal. Ketiga, mulai dari sekarang. Ya, tak ada kata untuk menunda. Ketika saya mendapat kisah inspiratif dari orang-orang yang hebat seperti yang saya kemukakan di atas, saya pun langsung bergerak. Langkah saya semakin mantab ketika Muhammad Fathun, ketua panitia kegiatan YLC, berprinsip bahwa “Leadhership is not leader, but Leadership is Action!”. Prinsip yang berarti kepemimpinan bukan hanya sekedar pemimpin, tapi aksi. Action, action, and action! Aksi nyata atau langkah kongrit agar bermanfaat untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Peran seseorang dalam membangun Indonesia yang mandiri dan sejahtera, sebenarnya dipengaruhi oleh kemampuannya pada bidang-bidang tertentu. Ada yang bergelut di ranah pendidikan, kesehatan, sosial, olahraga, kepemudaan, politik, dan lain-lain. Selain itu, juga dipengaruhi oleh cita-cita ke depannya. Untuk saya pribadi, saya mengkategorikan peran saya pada ranah pendidikan. Ke depannya saya ingin menjadi seorang pendidik (dosen), yang juga aktif pada bidang penelitian dan teknologi. Karena kita ketahui bersama bahwa kualitas pendidikan, penelitian, dan teknologi bangsa Indonesia ini masih tertinggal jika dibanding dengan negara-negara lain. Jika dibanding dengan negara tetangga pun, seperti Malaysia dan Singapura, Negara kita sangat jauh tertinggalnya. Padahal Indonesia, Malaysia dan Singapura tergolong dalam Negara serumpun. Namun, nyatanya sangatlah berbeda.

Dari pada kita terus menerus “mengutuk kegelapan”.  Di saat kita “mengutuk kegelapan”, kita juga harus sambil “menyalakan lilin”. Di saat ada kritikan, kita juga harus mencari solusi atau jalan keluarnya.

Mengenai peran saya sendiri, saya membaginya menjadi 2 bagian yakni pertama, “Hal apa yang saya telah lakukan yang bermanfaat untuk saya, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara?”. Kedua, “Langkah kongkrit apa yang akan saya lakukan yang bermanfaat untuk saya, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara?”

Peran saya yang telah terwujud/terlaksana

Alhamdulillah banyak prestasi menulis yang telah saya torehkan. Berbagai penelitian telah saya lakukan. Hingga mengantarkan saya bisa keliling Indonesia, dan berjumpa dengan orang-orang hebat. Perjumpaan inilah yang sebenarnya membentuk karakter saya menjadi pemuda yang memiliki semangat berkompetisi, selalu optimis, percaya diri, semakin beradab, dan nasionalisme. Selain itu, dalam bidang sosial kemasyarakatan, saya dkk telah melakukan berbagai aktivitas sosial untuk membantu masyarakat sekitar. Seperti, menjadi relawan pada waktu gempa di Kulawi, menjadi pengajar di TPA di daerah terpencil, dan berbagai aktivitas sosial lainnya.

Berbicara soal kemandirian, menurut saya, bangsa ini perlu percaya diri pada kemampuannya sendiri. Meski manusia tergolong dalam kategori mahluk sosial, hal itu bukan berarti selalu tergantung pada orang lain, melainkan berupaya terlebih dahulu pada kemampuan sendiri. Terutama pada kaum pemudanya. Yakin bahwa bangsa Indonesia pasti bisa bersaing dengan negara lain.

Sebagai wujud kemandirian saya, kini saya tak bergantung lagi minta uang pada orangtua. Meski sebenarnya tak 100%. Saat ini saya bekerja sampingan menjadi wartawan kampus, juga menjadi pengajar private. Penghasilan yang saya dapatkan, Alhamdulillah cukup untuk membiayai biaya kuliah.

Langkah nyata yang telah saya lakukan ini, adalah “tindakan kecil” yang insya Allah bermakna untuk kehidupan saya dan orang-orang sekitar saya, yang semoga saja “berpengaruh” untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri dan sejahtera.

Langkah kongkrit yang akan saya lakukan (Mimpi-mimpi saya untuk Indonesia)

Saya akan mengabdikan diri pada ranah pendidikan. Saya ingin menjadi dosen Pendidikan Matematika yang dirindu mahasiswanya. Juga menjadi seorang “guru kehidupan/guru inspiratif/Murabbi terhebat buat orang-orang di sekitar saya. Saya ingin menjadi contoh/teladan bagi yang lainnya, karena sesungguhnya bangsa ini membutuhkan sosok-sosok keteladanan seperti Nabi Muhammad SAW, dan para sahabat dan pengikutnya.

Selain itu, saya ingin menjadi penulis, dan peneliti, seperti Ibnu Sina. Seorang ilmuan islam yang karya-karyanya membumi. Aamiin ya Allah moga impian dan cita-cita saya terwujud. Finally, I believe that will be coming true because Allah SWT.

Tanggal 6 Desember 2012 pukl 15.20 Wita. Kala itu panitia nasional yang langsung mewawancarai saya via telepon.

Oh iya, sebelumnya saya mau memperkenalkan sedikit si pewancaranya. Kak Ronal Rifandi namanya, Biasa dipanggil Kak Ronal. Selidik punya selidik, dari info yang saya dapatkan di blognya, ternyata beliau alumni Universitas Negeri Padang (UNP),

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s