Notes From Thailand (Mozaik 3)

Terbang di atas awan. Subhanallah insahnya ciptaanNya

Terbang di atas awan. Subhanallah insahnya ciptaanNya

Awan tetaplah awan meski kita berada di negari berbeda. Putihnya awan itu memberikan keindahan yang amat dahsyat di langit. Putih, bersih, cerah, yang didukung dengan indahnya biru langit. Di atas pesawat yang membawaku ke negeri upin ipin ini, aku semakin takjub dan takjub. Bagaimana bisa Allah menciptakan langit dan seisinya dengan sangat indah seperti ini?! Sungguh semuanya teratur sesuai kehendakNya. Sekali DIA mengatakan Kun fayakun, jadi maka jadilah setiap mahluk yang diinginkanNya…

Pagi hari tanggal 20 Mei 2013 pukul 06.25WIB Kami melayang di udara. Di antara awan putih yang berserakan sana sini. Yeahhh aku terbang lagi. Kali ini ke negeri upin ipin. Dari Bandara internasional Soekarno Hatta, kami menuju ke Bandara internasional Kuala Lumpur (KLI). Memakan waktu dua jam, terbang mengudara menuju bandara itu. Jadi kami tiba di sana pukul 09.25 waktu bagian Malaysia🙂 Hmmm Kalau nggak salah, satu waktu dengan WIB.

Pagi yang cerah. Kala itu di hamparan lapangan yang luas. Muncul lah dua anak manusia dari bilik pesawat. Suasana sangat bersahabat, seolah awan, cuaca, dan sekitar menanti kehadiran kami. Menanti dengan sukacita. Cuma yang nggak ada, pengalungan bunga di leher sebagai symbol welcoming kepada kami😀 Hehehe ada-ada saja hayalanku.

Pukul 09.25 sudah cukup terik di Malaysia. Hiruk pikuk sekitar ternyata tak jauh beda dengan Indonesia.
“Neng, kok suasananya masih berasa Indonesianya ya?” Tanyaku pada kakakku. “Hehe mungkin karena masih serumpun. Masih dempet dengan Indonesia, jadi nggak berasa seperti di luar negeri,” tambahku lagi. Pagi yang cukup terik itu memaksa kami untuk menggunakan kacamata hitam. Bergaya sedikit, nggak usah malu lah. Mumpung nggak ada yang mengenali kami. Gumamku dengan bara keberanian😀

Aku dan kakak satu pesawat dengan kak Weni dan Kak AYu. Kami pun tak menyangka, ternyata kami juga satu pesawat dengan aktor dari Indonesia. Tapi lupa namanya. Mau negur, tapi nggak tahu namanya. Jadi terpaksa nggak jadi negur😀

Rencana sebelumnya, di Malaysia kami ingin jalan-jalan keluar dulu karena kami masih punya waktu sekitar 4 jam. Namun, setelah dipikir panjang, kami tak jadi keluar karena takutnya ketinggalan pesawat. Juga karena alasan lainnya yang sudah kami pertimbangkan matang-matang. Alhasil kami hanya foto-foto di sekitar bandara.

4 jam pun berlalu. Kami pun berpisah dari Kak Weni dan Kak Ayu karena tujuan mereka ke Jepang sedang kami ke Bangkok. Perjumpaan yang indah dengan mereka. Baru ketemu, kami langsung dapat motivasi dan inspirasi. “Doa kan aku yah kak, moga nanti bisa menaklukan negeri sakura juga,” Kataku ke mereka😉

Dug dig dor Entah bagaimana petualangan kami…

Kutatap lekat-lekat setiap raut wajah penumpang di Air Asia. Asing. Berawal dari Palu aku tak mengenali wajah penumpangnya, kini di sini lebih asing lagi. Terlebih, ini bukan hanya orang Indonesia, tapi banyak bule, ada cina, ada orang Tionghoa. Namun tentunya dipenuhi perawakan wajah asia yang berkulit eksotik. Dinginnya AC pesawat, membuat aku semakin dingin dan sedikit ketakutan dalam diri; “Dimana aku kan tinggal nantinya? Apa aku kan menikmati perjalanan ini?” Tanyaku cemas.

Oh iya, sebelumnya aku akan menceritakan bahwa selama di Bangkok, kami kan tinggal di rumahnya Bapak Anwar, seorang muslim asli Thailand. Suatu kesalahan yang besar di hari sebelumnya, bahwa telah terjadi miskomunikasi diantara kami. Ia mengira bahwa kami kan tiba di Bangkok tanggal 19 Mei, padahal kami tibanya di tanggal 20 Mei. Salahku juga lupa mengingatkannya kembali di akhir emailku waktu itu. Namun salahnya juga, karena kurang memperhatikan tanggal ketibaan kami. Karena aku telah mengingatkannya sebanyak 4 kali di emailku sebelumnya. Yah serba salah. Akibat mis komunikasi ini, kami mesti ke rumahnya sendiri. Padahal ia udah di bandara Don Mueang Bangkok, mau menjemput kami di tanggal 19 Mei. Di saat itu, sudah pasti aku masih di Palu, baru mau berangkat ke Jakarta. Waduh, kok jadi begini, gumamku. Akhirnya, hari ini kami mesti datang sendiri menggunakan taksi menuju kediamannya Pak Anwar, karena beliau tidak bisa menjemput kami. Beliau ada kesibukan lain.

Air Asia mengudara di angkasa. Pukul 13.40 waktu Malaysia, kami terbang menuju Bandara Don Muang Bangkok. Pesawat menembus batas-batas cakrawala. Terbang dengan lincah ke kiri dan ke kanan dan selanjutnya mengudara dengan istiqomah.  Sejauh mata memandang, tak pernah kusangka bahwa dunia seindah ini. Euforia yang mendalam. Di satu sisi, aku merasakan guncangan yang berkelebat, bukan hanya timbul dari goyangan pesawat, namun yang timbul dari hati. Hatiku berdegub kencang, ada sedikit perasaan dug dig dor yang kurasakan di atas pesawat. Lagi-lagi timbul sebuah pertanyaan, “Bagaimana perjalanan kami nanti? Apa menyenangkan? Hmmm semuanya terasa kabur,” Pikirku.

Tak ada yang bisa kuajak ngobrol di dalam pesawat. Tidak juga orang asing yang ada di sampingku. Sedari tadi ia tertidur, dan diam. Aku pun hanya bisa mengobrol pada diri sendiri, pada alam, dan pada Allah tentunya. Terlebih kak Yuli, telah pulas tidur bersama kacamata hitamnya. Yeee, dari tadi pake kacamata padahal tidur.

Aku makin grusak grusuk. Memastikan bahwa aku mengambil keputusan yang tepat dari setiap jengkal perjalananku nantinya. Lat Phrao 107, 500 meter untuk menuju Restorantnya Pak Anwar. Itulah alamat yang kan kami tempati. Aku baru mengetahui maksud alamat itu, setelah aku translate menggunakan google transtool di internet, karena sebelumnya bertuliskan seperti tulisan cacing kepanasan. Ya berbahasa Thailand. Pak Anwar memberikan alamat itu sebelumnya, dan meminta kami untuk menuju alamat itu menggunakan taksi meter.

“Neng, nanti jangan cuma diem loh pas di sana. Mesti aktif bicara. Awas loh, Neng,” Ucapku sedikit mengancam. Hehe… Ini juga salah satu ketakutan yang ku rasakan. Bahwa kami harus TOTAL menggunakan bahasa Inggris, karena mereka bener-bener gak bakalan “ngeh” dengan bahasa Indonesia. Tapi di sisi lain, kau merasa tertantang dan lebih berani untuk bercakap dalam bahasa inggris. Ya walau cuma 5 hari di Bangkok, pastinya skill berbahasaku bisa meningkat. Inilah yang dinamai dengan sebuah keterpaksaan dalam sebuah kebaikan. Ya Allah… berkahi lah perjalanan kami ini. Aamiin…

One thought on “Notes From Thailand (Mozaik 3)

  1. Ping-balik: Notes From Thailand; Thumbs Event | Pujiati sari's Blog

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s