Tersesat di Taman Kata, Milestone dalam Hidupku

P1340838

@Chao Phraya river, Thailand

Tak pernah sedikit pun saya membayangkan telah sejauh ini menggeluti dunia tulis menulis. Tepatnya 5 tahun silam, dunia ini mulai saya kenal. Tepat 5 tahun silam, saya mulai “tersesat”  dalam taman kata ini. Tak ragu saya mengatakannya kepada anda bahwa ini adalah sebuah kesesatan. Kesesatan dalam sebuah kebaikan yang bernama “MENULIS”. Apa sebab saya mengatakannya sebuah kesesatan? Karena ini semua bermula dari keisengan saya mencoba sesuatu yang baru.

Mungkin anda semua telah menyukai aktivitas menulis sejak kecil. Misalnya Saat anda suka mengoleksi binder bagi kaum perempuan. Lain halnya dengan saya, jujur saya katakan kepada anda bahwa saya tak memiliki sedikit pun bakat menulis. Saya juga tidak memiliki minat dalam menulis. Boro-boro menulis, aktivitas membaca pun jarang saya lakukan waktu kecil. Olehnya itu, sekali lagi saya katakan kepada anda bahwa semuanya bermula dari kesesatan yang tak sengaja saya lakukan. Kesesatan yang saya lakukan ketika di bangku SMA kelas XII.

Semuanya bermula dari kesesatan yang diajarkan oleh Guru Bahasa Indonesia saya yang mengajarkan sebuah mantra sakti dalam menulis. Mantranya berbunyi; “Tulislah apa yang kamu pikirkan. Jangan pikirkan apa yang kamu tulis!”. Mantra tersebut berarti bahwa menulislah apa adanya seperti air mengalir. Apa yang dirasakan saat itu, silahkan tuliskan. Tak perlu takut apakah kalimatnya sudah bagus atau tidak. Mulailah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja, yang penting menulis dulu.  Tulis draft pertama itu dengan hati. Baru menulis ulang dengan kepalamu. Sebab, kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir.

Berulang kali guru saya menggembor-gemborkan mantra itu. Rambutnya yang putih dan usianya yang tak muda lagi, tak menyurutkan semangatnya untuk menyesatkan saya dalam dunia yang selama ini asing bagi saya. Terus dan terus hingga meledak-ledak semangatnya berupaya menghipnotis saya dan teman-teman sekelas saat mata pelajaran bahasa Indonesia berlangsung. Saya pun terhipnotis untuk menerapkan mantra sakti tersebut. Namun, tak pernah berharap lebih, bahwa mantra ini akan bekerja dengan baik, karena toh saya tak memiliki bakat dan minat dalam bidang tulis menulis.

Seiring berjalannya waktu, menjelang kelulusan SMA, saya mulai merenung dan bertanya pada diri saya sendiri. Selama ini, prestasi membanggakan apa yang bisa saya berikan buat sekolah? Nyatanya nihil, tidak ada sama sekali. Di sisi lain, saya iri dengan guru dan kakak saya yang menyabet berbagai prestasi menulis baik tingkat lokal maupun nasional.

Jauh hari Sebelumnya, suatu ketika guru saya pernah mengatakan kepada saya, “Nak, tekunilah dunia tulis menulis dari sekarang. Dan engkau tak kan pernah bayangkan rejeki apa yang engkau dapatkan nanti. Engkaulah yang menuai hasilnya di beberapa tahun ke depan,” ucapnya kurang lebih seperti itu.

Selain itu, saya juga menemukan berbagai motivasi lainnya dari buku yang menguatkan saya untuk menggeluti dunia menulis. Pertama, bahwa bakat menulis hanyalah 1%, dan selebihnya dibutuhkan kerja keras dan perjuangan. Itu berarti bahwa untuk dapat menulis bukanlah bakat yang terpenting, tapi kemauan yang besar untuk belajar dan membiasakan diri untuk praktek menulis.

Kedua, Verba Volant Scripta Manent. Kutipan asal Yunani yang artinya “Lisan bisa Hilang tapi Tulisan tetap Abadi!”. (Yunani baru saya dapat beberapa hari yang lalu, tapi indonesianya sejak lama udah tahu). Benar saja, saya sangat meyakini hal itu. Ketika seseorang telah meninggal dunia, yang bersisa adalah karya nyatanya. Sesuatu yang dapat dikenang adalah pemikiran-pemikirannya yang dituangkan dalam tulisan.

Ketiga, menulis itu merupakan ciri terpenting sebuah pembelajaran.  Bobbi de Porter, penulis buku best seller “Quantum Learning” dan “Quantum Bisnis” menempatkan kemampuan menulis sebagai indikator keberhasilan orang. Menurutnya, seseorang dikatakan gagal jika tidak mampu mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran ke dalam bentuk tulisan. Menulis merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki siapa saja.

Keempat, motivasi menulis dari Imam Al-Ghazali yakni “Kalau kamu bukan anak Raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. Saya pun mengakuinya, bahwa saya bukanlah anak raja dan bukan juga anak ulama, maka jalan terbaik yang bisa saya lakukan untuk menjadi orang sukses adalah dengan berprofesi sebagai penulis. Uniknya profesi ini tidak harus menanggalkan profesi yang lain. Misalkan Rhenald Kasali yang berprofesi sebagai dosen tapi beliau juga penulis buku yang best seller. A Mustofa Bisri, seorang Kiyai pemilik pesantren, tapi juga jagi menulis puisi, cerpen, esai dan sejumlah buku.  Bahkan sesibuk presiden pun juga menulis buku. Mereka ini menjadi penulis sekaligus rangkap dengan profesi yang lain. Dari motivasi tersebut,  saya berpikir bahwa apapun profesi saya nantinya, profesi penulis adalah “Milestone”  saya untuk menjadi orang sukses.

Itulah empat kutipan super yang telah merubah paradigma saya sebelumnya. Tentunya tak hanya kutipan tersebut namun berbagai kutipan lain yang saya dapatkan dari hasil membaca buku dan mengikuti pelatihan menulis. Kutipan tersebut menjadi suplemen saya hingga memberikan energi yang maha dahsyat untuk menggeluti dunia tulis menulis. Dulu, niat yang awalnya iseng-iseng kini beralih menjadi sungguh-sungguh, diikuti dengan kegigihan, keuletan, kesabaran, dan keikhlasan, hingga pada akhirnya Alhamdulillah berbuah manis. Singkat cerita setelah berjuang penuh peluh, akhirnya saya mendapatkan “buah manis” yang pertama yaitu bisa memenangkan lomba menulis tingkat pelajar se-Kota Palu, yang hadiahnya adalah sebuah laptop.  Prestasi inilah yang bisa saya persembahkan buat sekolah menjelang kelulusan SMA.  Hingga detik ini di tingkat perguruan tinggi, Alhamdulillah berbagai prestasi menulis telah saya raih baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Sesungguhnya, pembeberan prestasi ini bukannya untuk sombong, namun agar  anda semua termotivasi untuk bisa menorehkan prestasi di bidang tulis menulis juga. Saya bisa, dan yakinlah bahwa anda pun bisa.

Jika dulu saya sering bertanya-tanya “Apa sih manfaatnya menulis?”. Jika dulu saya sering merasa bosan duduk berlama-lama berhadapkan tulisan, dan jika dulu saya sering mengeluh dengan aktivitas asing itu, lain halnya dengan sekarang. Sekarang aktivitas ini sudah menjadi hobi saya. Sekarang aktivitas ini menjadi media penghibur saya.  Banyak teman-teman yang berkata, dan mungkin dipikiran anda juga terbesit, “Mengapa saya tidak kuliah di jurusan sastra atau jurnalistik saja?” Saya sudah mengatakan sebelumnya, bahwa profesi penulis tidak harus menanggalkan profesi yang lain. Jika saya bercita-cita sebagai guru/dosen pendidikan matematika, maka saya bisa merangkapnya dengan profesi penulis. Hal itu juga berlaku pada profesi lain yang anda cita-citakan. Selain itu, bagi saya, menulis merupakan aktivitas untuk melatih otak kanan sedangkan belajar matematika merupakan aktivitas untuk melatih otak kiri. Olehnya itu, keduanya harus terus dilatih agar otak dapat berpikir dengan baik, dan untuk menghindari penyakit lupa ingatan (Alzheimer).

Tunggu apa lagi? Ayo sekarang ambil kertas dan pulpen. Menulislah! Mulailah menulis aktivitas keseharianmu di buku diary atau di buku album. Jangan pikir bahwa ini hanya kerjaannya kaum perempuan. Kaum laki-laki juga harus memulai menulis cerita kesehariannya. Mulailah menulis apa saja yang kamu rasakan, pikirkan, keluhkan, dan risaukan. Kegelisahan-kegelisahan yang bergetar dalam dada seseorang adalah bahan terbaik untuk tulisannya. Kepiawaiannya meramu perasaan dan emosinya dalam untaian-untaian kata yang indah, cair, elok, dan bertenaga dibutuhkan keterampilan khusus. Di sini lah dibutuhkan adanya latihan demi latihan.

Besi yang tumpul pun kalau terus diasah lambat laun akan tajam. Batu yang keras, lambat laun akan berlubang mana kala dijatuhi tetes hujan secara terus menerus. Sama halnya dengan keterampilan menulis seseorang. Butuh latihan berhari-hari hingga bertahun-tahun. Intinya punya niat, tekad, kreatif, tekun, sabar, pantang menyerah, dan ikhlas menempuh proses belajarnya, adalah kunci sukses menjadi seorang penulis hebat.

Tunggu apa lagi? Mari sama-sama “tersesat” di taman kata, dan anda kan temukan “kejutan” di tempat ini. Yakinlah. ^_^

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s