Notes from Thailand (Mozaik 5)

P1340164

Tempat pemesannan taxi. Tepat di depan Don Muang airport

Open your heart, soften your mind, and hear the voice of nature – Anonymous

Keluar dari Bandara, kami langsung menuju ke tempat pemesanan taksi. Dengan bermodalkan sebuah kalimat berletter Thailand, kami akan menuju kediamannya Pak Anwar. Kurang lebih  1 jam, waktu yang dihabiskan menuju kediamannya. Satu hal baru yang kutemui di Bangkok adalah nyatanya sopir atau tukang ojek di sini, gak hanya bergender laki-laki, tapi banyak pula loh yang Ibu-ibu. Dan mereka sama profesionalnya dengan kaum bapak😀 Di sini pula, aku bisa membuktikan bahwa biaya hidup di Bangkok itu terjangkau. Benar adanya jika di internet aku mendapatkan info bahwa hidup di sini bisa 30% sampai 50% lebih murah dibandingkan Kota Jakarta. Jadinya aku sangat bersyukur bisa traveling di negeri yang terjangkau ini. Nggak seperti biaya hidup di Eropa/amerika/Australia, yang wowww gitu, super duper muahaaaal😀 but, insya Allah, suatu saat nanti Allah akan memberikan rejeki dan kesempatan untukku, menjejaki negeri-negeri itu. Aamiin yaa rabb.

P1340165

Pemandangan sekitar Bangkok

Di Dalam taxi

Di Dalam taxi

Berada di dalam taksi, aku mendapatkan sapaan ramah dari ibu sopir. Beliau menanyakan asal kami, dan tujuan kami ke Bangkok. Aku jawab aja sekenanya, dan aku harus memahami bahwa dialek English-nya orang Bangkok tuh jadi aneh, karena kecampur dengan dialek bahasa Thailand. Dan entah mengapa, aku baru menyadari bahwa suara orang Thailand itu kalo bicara “cempreng” sekali, baik perempuan maupun laki-lakinya. It’s sound funny😀 hihi. Perjumpaan dengan ibu sopir inilah, adalah tantangan pertama bagiku untuk bersabar dalam berbicara dan memahami maksud pembicaraan. Dan tentu saja, miss communication pun sering terjadi. Hehe… *Gosok aja. Ini sangat menyenangkan bagiku😀

P1340173

Burung-burung pun bernyanyii

P1340191

Transportasi bus

Taksi terus melaju. Aku mengamati pemandangan Bangkok dari kaca mobil. Kala itu sekitar pukul 4 sore Bangkok nampak cerah, teduh, dan nyaman. Nggak beda dengan Jakarta, pada saat jam segitu, satu-satunya negara yang tidak pernah terjajah itu dihiasi hiruk pikuk kemacetan. Lantas mobil kami pun mencari-cari jalan yang nggak terlalu macet. Di sela-sela waktu, lagi-lagi aku berkontemplasi, Alhamdulillah akhirnya jadi juga aku menginjakan kaki ke negeri ini. Masih tetap pada kondisi “ketidak sangkaan”😀 Benar-benar sangat bersyukur deh. Selain rasa senang, rasa dag dig dug DOORR pun semakin lama semakin besar, dan berbagai pertanyaan muncul,
“Gimana reaksi hostfam, saat kami tiba?”,
“Gimana tempat tinggal kami?”,
“Gimana komunikasi kami?”,
“Gimana agenda wisata kami?”

Wuiihhhhh entahlah, gimana nasib dua anak hilang ini😀 APa nantinya akan pulang dengan selamat ke Indonesia, atau nggak. Wallahu a’lam.

We safely arrieved at Anwar’s restaurant

Setelah mencari-cari alamat kediamannya Pak Anwar, akhirnya kami sampai juga tepat di depan rumahnya. Ternyata nggak susah menemukan alamatnya.

Dengan cepat, aku keluar dari benda beroda empat itu. Lantas, dari kejauhan, dua orang pemuda mendekati kami.

P1350341

INi backpackeran atau mudik? hehe banyak bener bawaannyaa🙂

P1340214

THAI BATH, pamer uang nih ceritanya😀

Lalu salah satu diantara mereka berkata “Ini yang dari Indonesia ya?” Ucapnya ramah menggunakan bahasa melayu.
Aku pun menjawab “Iya, yang mau tinggal di rumahnya Pak Anwar,”.
Iya, di sini,” jawabnya. Lantas dengan sergap, mereka mengangkat barang bawaan kami.

Ya, tiba lah kami di kompleks Lat Phrao 107. Kami memasuki kediamannya Pak Anwar. AKu pun baru mengetahui bahwa tempat yang kami tinggali ini adalah restorannya Pak Anwar. Ruko bertingkat tiga, yang di lantai bawah digunakan untuk restoran, sedang lantai dua dan tiga digunakan untuk kamar. Banyak kamarnya loh. Alhamdulillah, bagiku ini lebih dari sekedar cukup. APa sebab? Ruangan kami udah disiapin dengan dua kasur tipis di lantai 2. Ada kipas angin, ada wifi. Kalo mau makan gampang, tinggal pesan di lantai bawah (tapi mesti sadar, nggak gratis kalo makannya😀 ). Selain itu, mau pinjam setrika, atau apa aja boleh. Alhamdulillah. JIka kami perlu apa-apa kami tinggal mengetuk pintu kamar sebelah. Kamar itu ditempati oleh Sakinah, anak perempuannya Pak Anwar, yang saat ini berstatus sebagai pelajar SMA kelas 2.

Foto bareng Pak Anwar

Foto bareng Pak Anwar

P1350348

Bareng Jom

P1350344

Bareng Sakinah…


Well, sebelumnya aku akan menceritakan perkenalan kami dengan Pak Anwar. Aku mendapatkan informasi mengenai beliau dari Mbak Ani, seorang kawan di grup facebook couchsurfing Indonesia. Mbak Ani merekomendasikan kediamannya Pak Anwar untuk kami. Pak Anwar adalah warga asli penduduk Thailand. Menurutku beliau adalah muslim yang taat. Beliau sangat baik. Setahuku beliau memiliki 3 orang anak. 1 perempuan dan 2 orang laki-laki. Sakinah adalah anak pertama. Sakinah tinggal di restoran itu, sedangkan Pak Anwar, istrinya dan anak laki-lakinya tinggal di kediaman aslinya, yang aku sendiri tidak mengetahui dimana tempatnya.

Oh iya, dua orang pemuda yang mengangkat barang kami sebelumnya adalah pelayan restorannya Pak Anwar. Awalnya, aku mengira mereka orang Indonesia atau Malaysia soalnya perawakannya macam kayak temen di Indo😀 Yeee padahal mereka adalah warga asli Thailand tepatnya di Pattani. Alhamdulillah mereka muslim juga. Sayangnya, aku tidak sempat menanyakan nama dari keduanya. Selain dua pemuda tadi, pelayan lainnya ada dua anak muda; Jom dan Nam, juga ada seorang Ibu paru baya, namun sayang aku tak menanyakan siapa namanya.  Jom atau Franklin Trausen (nama efbi-nya) adalah pemuda asal Kamboja. Ia beragama hindu. Sudah 6 bulan ia bekerja di sini. Dia sangat baik, dan dengan senang hati membantu kami dalam menjelaskan rute-rute yang rencananya akan ku tempuh saat berjalan nanti. English-nya fasih namun bercampur logat kamboja sepertinya😀. Kalo Nam, adalah gadis asal Thailand, beragama budha. Kami jarang bercakap dengan Nam dan ibu tadi, soalnya mereka tak bisa bercakap English kayaknya. Susahnya nih, ketika kami mau memesan makanan, mereka hanya tahu bahasa Thailandnya aja, sedang aku dan kakak hanya mudheng English. Sayangnya restoran kecil-kecil ini tak menyediakan daftar menu makanan yang bergambar, supaya kami bias memesan makanan walau sekedar memandang gambarnya saja😀 Hmmm bersyukurnya, Jom membantu kami kalau kami hendak memesan makanan.

Sore itu, sayangnya Pak Anwar tidak berada di tempat. Beliau tengah sibuk dengan pekerjaannya. Aku pun baru mengetahui kalau pekerjaannya adalah seorang guide. Istrinya juga. Saat itu mereka tengah sibuk dengan costumernya. Kalau nggak salah asal Malaysia. Subhanallah… aku bergumam, kami diberikan semua fasilitas dari Pak Anwar secara gratis. Sedang mereka yang dari Malay sepertinya berbayar karena mereka dari perusahaan kayaknya.

Sore itu, setelah melihat-lihat sisi kamar, kami beranjak turun ke lantai 1 untuk makan. Jujur, kami sangat lapar keroncongan. Kami belum memakan nasi, sedang di bandara kami hanya memakan snack. *bukan snake :-p

Restoran mini itu di setiap sudutnya terdapat kipas angin besar. Baru aku rasakan, bahwa sepanjang hari Bangkok itu terkenal dengan panasnya. Kalah-kalah panasnya Kota Palu. Jika Palu biasanya besuhu kisaran 32-35 derajat C, tapi sepertinya Thailand mencapai 35-40 derajat. Ekstrim bangettt kan?? Ckck. Mungkin kalau pakai AC akan boros, jadi orang-orang sini lebih memilih pakai kipas angin.

P1340246

Kak Yuli bersama makanannya🙂

Ingat bahwa tinggal di sini sampai 4 hari ke depan semuanya GRATIS, kecuali makan, hehe yaa tetap bayar lah. Alhamdulillah harganya terjangkau, gak beda jauh dengan di Indonesia. Hari pertama di Bangkok, aku langsung mencoba kuliner asli daerah sini. Sudah tau tidak makanan khas Bangkok? Yuuppp yaitu Tom yum. Tom yum semacam sayur sup. Kadang beda-beda kontennya. Kami punya berisi sayur sawi, potongan cabe, ikan, udang, dan juga terdapat beberapa daun2 aneh yang kami sendiri lupa namanya😀 Gimana rasanya? Hmmm nano-nano deh😀 tapi dominan segar dan pedis karena pakai sereh. Awal-awalnya berasa sangat nikmat, tapi lama-lama rasa ENEG dan aneh:-/ ya bisa jadi karena kami tidak terbiasa dengan makanan ini, karena ada beberapa bumbu dan daun-daun anehnya. Namun syukurnya, semua makanan di sini halal, sedang kami tak berani membeli makanan di luar. Oh iya, selain makan Tom yum, kami juga memesan nasi goreng. Alhamdulillah kenyaanggg🙂 *Nikmat Tuhanmu yang mana kah yang kamu dustakan? Makanan berasa lezat sekali, manakala perut keroncongan. Alhamdulillah atas nikmat ini, dan nikmat lain yang Allah berikan hari ini.

Tom Yum

Tom Yum

P1340243

Nasgor

Selesai makan, kami berencana istirahat aja di kamar. Ndak kemana-mana. Hehe ini traveling atau nggak ya?? Iya, soalnya Pak Anwar menyarankan kami lewat LINE bahwa kami tidak usah kemana-mana kalo malam-malam gini. Beliau menyarankan, agar kami belajar bikin masakan Tom yum, namun kami menolak. Dengan alasan lain kali aja, jawab kami. *Yeee padahal malah gak sempat belajar bikin itu pas di Bangkok. Padahal belajar bikin itu dari masternya kan keren. Cita rasanya bener2 pure😀

Saatnya kembali ke kandang alias kamar. Bersih-bersih diri lalu tidur… Eh, padahal nggak juga tidur, tapi apdet status, dan nulis di blog. Senangnya bukan main, ku bisa blogging di negerinya orang.

@Thumbs event
19 s.d 25 AGustus 2013

5 thoughts on “Notes from Thailand (Mozaik 5)

  1. Ping-balik: Notes From Thailand; Thumbs Event | Pujiati sari's Blog

  2. Tom yam itu makanan peranakan chinese Mba. Terdiri dari bahan ikan sbg bahan utama dan cabe. Tom yam Indo jg ga kalah enak, sekali2 bisa Mba cicipi.
    Tom yam di Indo biasanya dari daerah jambi, bagan siapi atau Pontianak.
    Lbh pas di lidah hehehe..

  3. Oh ya, memang di telinga kita org thai jika berbicara itu terdengar cempreng, selain thai yg terdengar cempreng juga adalah gaya bicara orang vietnam.

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s