“Atraktan Alami” Karya Mahasiswa Untad Menggaung di PIMNAS ke-26

GAMBAR 2

Anti, anggota kelompok PKM saat menjelaskan cara kerja alat yang digunakan

Permasalahan adanya gangguan Lalat Buah Bactrocera sp. terhadap  Pertanaman Cabai di Kecamatan Sigi Biromaru Palu, membuat mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) menggagas terciptanya Atraktan Alami. Mahasiswa Untad tersebut yaitu Humairah, Selvi Banne Tasik, Masriatun, dan Kamaria. Gagasan yang telah dimasukan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tersebut, mendapat sambutan hangat dari dewan juri saat presentasi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-26 di Ruang Pantai Kuta, Universitas Mataram, Rabu (11/9). Hal yang demikian juga terjadi pada saat pergelaran poster dan produk di kegiatan pameran PIMNAS, yaitu ada banyak pengunjung yang tertarik dengan PKM yang mereka buat. Pameran PIMNAS tersebut berlangsung meriah di Gedung Auditorium UNRAM, kamis (12/9).

Saat yang menegangkan bagi peserta PIMNAS adalah ketika mereka berada di ruang presentasi karya. Adapun jumlah kelas presentasi PKM tiap bidang yaitu 5 kelas PKM-P (penelitian), 4 kelas PKM-K (Kewirausahaan), 4 kelas PKM-M (Pengabdian kepada Masyrakat), 2 kelas PKM-T (Teknologi), dan 4 kelas PKM-KC (karsa cipta). Masing-masing kelas, rata-rata berisi 20 tim PKM yang berasal dari berbagai kampus se-Indonesia.

Dalam presentasi karya PKM, penyaji diberikan waktu 10 menit untuk memaparkan PKM yang dijalankan. Kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab selama 10 menit antara juri dan peserta.

Saat presentasi, kontingen asal Untad menempati kelompok PKM bagian 3, di ruang Pantai Kuta. Juri yang turut menilai pada kelas tersebut yaitu Dr. Willis Sri Sayekti (dosen UNPAD), Ir. I Ketut Widnyana, M.Si. (dosen UNMAS), dan Prof. D. Farida Patittinggi, SH, M.Hum (dosen UNHAS).

Ketika presentasi karya, salah satu presenter asal Untad, Kamaria, menjelaskan tetang PKM-M yang mereka laksanakan. Menurutnya, Atraktan alami merupakan bahan pemikat lalat buah. Atrakran alami yang mereka buat berasal dari ekstrak tumbuhan Sidondo dan tumbuhan selasih. Hadirnya atraktan alami ini dapat meminimalisir perkembangbiakan lalat buah, sehingga dapat meningkatkan produksi tanaman cabai.

Menurutnya lagi, PKM yang mereka buat tersebut, sasarannya lebih menekankan pada pengabdian kepada masyarakat. Olehnya itu judul gagasan yang mereka usulkan pada waktu pemasukan usulan proposal PKM yaitu “Pelatihan Pembuatan Atraktan Alami dari Tumbuhan Aromatika untuk Pengendalian Lalat buah Bactrocera sp. pada Pertanaman Cabai di Kecamatan Sigi Biromaru”. Sasaran pelatihan tersebut adalah para petani cabai yang berada di Kecamatan Sigi Biromaru. Selama 3 bulan berturut-turut para petani dilatih dalam pembuatan atraktan alami, dan bagaimana menggunakan teknologinya, agar nantinya mereka dapat membuat atraktan secara mandiri. Selain membuat atraktan, mereka juga dilatih dalam membuat perangkap lalat buah tipe steiner yang dimodifikasi dari botol bekas minuman air mineral.

Ketika memasuki sesi tanya jawab, dewan juri menyatakan bahwa sangat terkesan dengan  gagasan PKM-M yang diajukan oleh kontingen asal Untad. Juri senang ketika mahasiswa pertanian perduli dengan para petani. Apalagi juri baru mengetahui bahwa di kelas PKM-M bagian 3 hanya tim asal Untad saja yang berasal dari fakultas pertanian. Selain itu menurut juri, atraktan alami yang dibuat juga sangat bagus karena bahannya berasal dari tumbuhan yang banyak ditemukan di Sulawesi Tengah. Dengan demikian, para petani dapat menemukan dan mengolahnya dengan cepat. Pnq

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s