HIMA PKn Morality FKIP Untad Selenggarakan Seminar Kebangsaan

SEMINAR KEBANGSAAN

Para Pemateri seminar wawasan kebangsaan (FOTO: Pujiati Sari/MT)

Himpunan Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan Morality (HIMA PKn Morality) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako (Untad) menyelenggarakan seminar wawasan kebangsaan, Rabu (27/11) di Gedung Auditorium Untad. Seminar yang dilaksanakan merupakan seminar regional yang merupakan hasil kerjasama dengan Himpunan Nasional Mahasiswa PKn Wilayah V (Sulawesi, Maluku, dan Papua).

Mengusung tema “Membangun Harmoni Sosial dalam Keberagaman Masyarakat Indonesia”, Seminar ini dihadiri oleh sejumlah siswa, mahasiswa, dan guru yang ada di Kota Palu. Selain itu hadir pula mahasiswa dari berbagai universitas yang berasal dari wilayah V.

Secara resmi kegiatan seminar dibuka oleh Ketua Jurusan Pendidikan IPS FKIP, Drs. Abduh H.Harun, M.Si. Beliau mengatakan sangat mengapresiasi dilaksanakannya seminar tersebut. Menurutnya, ilmu atau informasi mengenai wawasan kebangsaan sangat dibutuhkan oleh masyarakat saat ini untuk mengatasi berbagai konflik horizontal yang terjadi di tengah masyarakat.

Dalam seminar kebangsaan menghadirkan 4 pemateri dari berbagai kalangan. Pertama, Drs. Verdianto Iskandar Biticaca, M.Hum (Karo Ops. Polda Sulteng). Kedua, Dr. Muzakir Tawil, M.Si (DPRD Kota Palu). Ketiga, Ahdari Dj. Supu (Staf Badan Kesbangpol Kota Palu). Keempat, Dr. H. Asep Mahpudz, M.Si (Dosen Untad). Hadir pula Hasdin Hanis, S.Pd, M.Pd sebagai moderator kegiatan ini.

Pemateri pertama, Drs. Verdianto Iskandar Biticaca, M.Hum, menyajikan materi tentang pengertian konflik dan penanganannya yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Menurut Verdianto, selama tahun 2013 ini di Sulteng telah terjadi sebanyak 50 jenis konflik, baik konflik antar warga maupun antar pemuda. Kuantitas konflik ini, menurutnya termasuk cukup banyak dibanding dengan tahun sebelumnya.

Verdianto juga mengatakan bahwa pihak kepolisian berupaya semaksimal mungkin untuk turut andil dalam menangani berbagai konflik yang tengah marak khususnya yang terjadi di Sulteng.

“Salah satu upaya yang kami lakukan yaitu melaksanakan patroli gabungan yaitu TNI, Polri, dan Pol PP di tempat lokasi rawan konflik, dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat,” jelas Verdianto.

Pemateri kedua, Dr. Muzakir Tawil, M.Si memaparkan materi yang berjudul “Peranan Masyarakat dalam Mendukung Kebijakan dalam Membangun Harmoni dalam Pencegahan Konflik”. Pada pemaparan tersebut, pemateri mengkhususkan penjelasan tentang peran dan fungsi partai politik sebagai lembaga politik. “Untuk membangun harmoni, Partai politik juga memiliki kewajiban untuk menangani dan menyelesaikan konflik yang ada pada masyarakat,” kata Dr. Muzakir. Menurutnya juga harmonisasi pada masyarakat akan timbul jika telah tercipta keselarasan dan keadilan serta terpenuhinya kebutuhan masyarakat pada semua aspek. “Harmonisasi yang selalu terjaga membawa kemajuan dan kesejahteraan pada masyarakat,” tambahnya.

Ahdari Dj.Supu perwakilan dari walikota Palu, hadir sebagai pemateri ketiga dalam seminar. Beliau membawakan materi tentang pentingnya toleransi dalam kehidupan sosial. Menurutnya, sikap saling menghargai dan menghormati merupakan sikap yang harus tetap ada pada diri seseorang. Meski zaman semakin modern, menurutnya bukan berarti nilai-nilai terpuji itu luntur.

Pemateri terakhir, Dr. H. Asep Mahpudz, M.Si, membahas materi yang berjudul “Membangun Harmoni Sosial dalam Keberagaman Masyarakat Indonesia”. Pada kesempatan itu, Dr. Asep memaparkan materi tentang konsep pendidikan harmoni sebagai upaya dalam penanganan konflik yang terjadi di sulteng. Beliau menjelaskan bahwa pendidikan harmoni merupakan sintesis pedagogik dari pendidikan damai dan pendidikan multikultural. Tujuan pendidikan ini adalah untuk mengembangkan karakter kontekstual dari potensi fitrah manusia sebagai mahluk individu, mahluk sosial, dan sekaligus sebagai mahluk Tuhan YME.

“Ada 3 kompetensi nilai harmoni yang harus dicapai pada setiap individu. Pertama, harmoni diri berupa tanggung jawab, keyakinan pada ajaran agama, dan kepercayaan. Kedua, harmoni sesama berupa penghargaan, kejujuran dan kepedulian. Ketiga, harmoni alam berupa sikap ramah lingkungan,” papar Dr. Asep. “Ketiga nilai ini harus berurutan seperti itu, tidak boleh diacak atau dirubah urutannya,” tambahnya.

Menurut Dr. Asep, konsep pendidikan harmoni telah berhasil diterapkan di sekolah-sekolah dasar yang ada di daerah konflik, seperti di Poso dan Tentena. “Pemerintah Kabupaten Poso meraih juara 2 pada kegiatan Indonesian MDG’s Award (IMA) dalam kategori pendidikan harmoni yang dilaksanakan di Bali,” tutur pemateri. Konsep ini juga diterapkan di berbagai daerah konflik lainnya yang ada di luar sulteng, bahkan di luar negeri. Dengan semakin banyaknya diterapkannya konsep ini, harapannya bangsa Indonesia bisa terlepas dari konflik, dan tetap menjaga 4 pilar kebangsaan. Pnq

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s