Sinergiskan IQ, EQ, dan SQ dalam Dunia Pendidikan Menuju Bangsa yang Cerdas dan Berkarakter

wallpaperASTAGA2

Sebagian orang menganggap bahwa kecerdasan intelektual (Intelligence Quotien) merupakan hal yang terpenting dan utama yang harus dimiliki oleh setiap insan. Namun realitanya di Indonesia begitu banyak orang yang cerdas intelektualnya tapi tidak cerdas emosi (Emotional Quotien) dan cerdas spiritual (Spiritual Quotien). Sangat disayangkan, sejak dulu negeri ini begitu memprioritaskan IQ. Negeri ini begitu mengelu-elu orang yang cerdas pola pikirnya saja. Alhasil, apa dampaknya? Lahirlah para pejabat koruptor, dan banyaknya pelaku kekerasan dalam  konflik warga/pelajar.

Pejabat koruptor dan pelaku kekerasan dalam konflik yang mewarnai negeri ini adalah produk pendidikan negeri kita. Bobroknya berawal dari kebiasaan pelajar/mahasiswa yang menyontek. Mereka merasa bangga mendapatkan nilai yang tinggi, namun nilai itu didapatkan dari hasil menyontek. Menyontek merupakan bentuk korupsi dalam skala kecil. Jika pelajar/mahasiswa sudah terbiasa menyontek dan tidak pernah melibatkan Tuhannya, maka sudah dapat dipastikan bahwa tindakan-tindakan semacam korupsi tak dipungkiri akan mewarnai lini kehidupannya.

Di Prancis, jika ada seorang pelajar/mahasiswa yang ketahuan menyontek di kelas, maka ia akan langsung di keluarkan dari sekolahnya, dan dipastikan tidak akan ada sekolah di prancis yang akan menerimanya (Sangaji, 2013). Dari pernyataan tersebut bisa kita bayangkan betapa ketatnya pemerintah prancis dalam hal pendidikan. Hal demikian alangkah baiknya juga diterapkan di Indonesia. Para pengemban pendidikan (guru/dosen) seharusnya menunjukan integritasnya sebagai guru yang professional yang tak sekedar professional mengajarkan nilai kognitif (IQ), namun juga EQ, dan SQ. Dengan mengajarkan kepada pelajar/mahasiswa untuk tidak menyontek merupakan suatu bentuk untuk meningkatkan kecerdasan baik itu EQ maupun SQ. Di sini anak diajar untuk berprilaku jujur.

Selain mengajarkan untuk tidak menyontek, para pengemban pendidikan dapat mengajarkan pendidikan karakter lainnya, seperti prilaku membuang sampah pada tempatnya, menghormati gurunya dengan memberi salam saat berjumpa, tidak bolos, dan disiplin. Tak lupa pula seorang guru/dosen tak segan-segan memberi penghargaan berupa nilai, pujian, hadiah,  atau pun ucapan terima kasih kepada anak didiknya. Semua itu adalah bentuk penerapan IQ, AQ, dan SQ dalam dunia pendidikan, dan semuanya harus sinkron dengan kurikulum 2013 yang tengah berjalan saat ini. Setiap harinya guru/dosen juga harus siap menjadi alarm bagi pelajar/mahasiswa untuk senantiasa melakukan kebaikan demi kebaikan. Guru/dosen seperti bu muslimah dalam film Laskar Pelangi, atau sosok yang digambarkan dalam lagu “umar bakri” yang diciptakan oleh Iwan Fals, yang mengajar dengan ikhlas penuh integritas sudah barang tentu akan menjadi sosok idola bagi para anak didiknya. Olehnya itu, sosok teladan juga penting. Sebelum mencerdaskan anaknya orang, sudah barang tentu seorang guru/dosen harus cerdas pula baik secara IQ, EQ, maupun SQ.

Hal yang penting dan harus digaris bawahi adalah tak hanya IQ yang penting, namun ketiganya baik itu IQ, EQ, dan SQ harus seimbang di dalam diri seseorang. Sudah saatnya bangsa ini tidak menutup sebelah mata pentingnya kecerdasan EQ dan SQ. Semuanya harus saling bersinergis antara satu dengan yang lainnya. Apabila sebagian besar pelajar/mahasiswa di Indonesia telah memiliki IQ, EQ dan SQ yang tinggi, saya tidak ragu bahwa Indonesia akan menjadi negara yang memiliki generasi emas yang siap membuat perubahan besar buat Indonesia ke depannya. Sudah saatnya bangsa Indonesia bangkit, “melompat” dan “berlari” kencang menuju bangsa yang cerdas dan berkarakter untuk Indonesia yang sejahtera.

Daftar Pustaka:
Sangaji. 2013. Pendidikan Di Indonesia. Makalah yang dipresentasikan dalam seminar pendidikan. Palu. Makalah tidak diterbitkan.

3 thoughts on “Sinergiskan IQ, EQ, dan SQ dalam Dunia Pendidikan Menuju Bangsa yang Cerdas dan Berkarakter

  1. satu lagi puji tak tambahin FQ (Financial Quotien). Klo tolak ukur kesusksesan di organisasi kami :
    1. Menjadi Alim (Paham agama/Berilmu)
    2. Berakhlak Baik
    3. Mandiri
    Buat nambah referensi🙂

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s