Resensi Buku “Kehausan di Ladang Air”

Oleh: Pujiati Sari
*Resensor adalah Anggota Forum Lingkar Pena Sulteng

KEHAUSANJudul Buku:
Kehausan di Ladang Air: Pencurian Air di Kota Bandung dan Hak Warga yang Terabaikan
Penulis: Zaky Yamani
Penerbit: Sva Tantra, Bandung
Tahun Terbit: Februari, 2012
Tebal: 162 Halaman + xxv

 

“Jangan menjual air, pamali!” Kata Rukayah, seorang warga yang bermukim di Gang Sukapakir, Kelurahan Jamika, Bandung. Dulu sering kali kata-kata itu terucap dari mulutnya. Namun berbeda dengan kondisi saat ini. Sekarang pamali itu sudah tidak ada dan keadaan berbalik 180 derajat. Rukayah sekarang harus membeli air ke tetangganya. Air yang dibelinya pun adalah air PDAM, sebab Air PDAM sulit mengalir ke rumahnya. Air PDAM, air sumur dan sumber mata air lainnya kini susah untuk didapatkan. Padahal air adalah hak asasi manusia. Setiap manusia memiliki hak atas air karena tanpa air manusia tidak akan bisa hidup. Akan tetapi gagasan yang elok tentang hak asasi atas air itu tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Sekarang sumber-sumber air dikuasai oleh pihak-pihak yang memiliki kekuasaan dan uang.

Paparan singkat yang dialami oleh Rukayah di atas merupakan salah satu potret warga miskin di Bandung yang beban ekonominya bertambah berat karena tidak memiliki akses terhadap air bersih. Lewat buku Kehausan di Ladang Air, Pencurian Air di Kota Bandung dan Hak Warga yang Terabaikan, Zaky Yamani membokar secara blak-blakan praktek pencurian air dan kekejaman privatisasi air bersih di kota itu.

Membaca karya Zaky Yamani ini tidak terasa bahwa kita sedang membaca sebuah laporan investigasi penuh statistik  perihal politik sumber air bersih di kota yang notabene kaya akan sumber air. Lugas tanpa basa-basi, kesan pertama yang akan diperoleh pembaca saat membaca buku setebal 162 halaman ini.  Dengan apik, ia menuturkannya dengan gaya penulisan feature, sehingga pembaca tak kan tertidur bosan ketika disuguhi angka-angka dan reportase dingin.

Buku karangan Seorang Jurnalis Koran Harian Umum Pikiran Rakyat Bandung ini terdiri atas enam bab. Di bab pertama, kedua dan ketiga, secara umum penulis menceritakan kisah-kisah mengenai warga kota Bandung yang mengalami kesulitan air, terutama sekali potret warga miskin yang beban ekonominya bertambah berat karena mereka tidak memiliki akses terhadap air bersih. Selanjutnya bercerita tentang konflik yang timbul sebagai akibat kelangkaan air bersih. Kemudian tentang kemunculan kelompok pedagang air, yang mau tidak mau warga harus membeli air dari pedagang itu karena sangat membutuhkan air bersih.

Di bab keempat, penulis mencoba menelisik sikap dan upaya pemerintah Kota Bandung untuk mengatasi persoalan akses air bersih warganya. Berbagai kebijakan pemerintah yang terkait dengan akses air bersih bagi warga dikaji di bab ini.

Di bab lima, pembaca akan dikejutkan dengan berbagai informasi menarik yang tidak pernah diduga sebelumnya. Penulis mengungkap persoalan-persoalan yang ada di PDAM Kota Bandung. Hal ini menurut penulis penting untuk dilakukan karena PDAM kota Bandung adalah satu-satunya institusi yang diberi tanggung jawab untuk mengurusi dan mengelola akses air bersih di Kota Bandung. Secara jelas penulis membongkar pelaku-pelaku perdagangan air, dilemanya dengan PDAM hingga menusuk ke pemerintah kota yang terkait dengan akses air. Termasuk di dalamnya politik internal yang terjadi di tubuh PDAM Kota Bandung yakni terdapat jaringan mafia yang melestarikan ketidakadilan ini dengan terstruktur. Bagian kisah ini sungguh menarik karena Zaky tidak kompromis dalam hal mewartakannya. Ia tidak menulis inisial atau menyamarkan nama-nama para pejabat yang terlibat, termasuk nama ormas yang secara langsung atau tidak langsung terkait pun dipasang terang-terangan. Bahkan posisi keterlibatan walikota Dada Rosada dan wakilnya Ayi Vivanda dalam melestarikan mafia air di Bandung dipetakan dengan jelas.

Di bab terakhir, di bagian epilog, penulis melakukan kilas balik secara ringkas agar seluruhan buku itu dapat dipahami. Ditulis lebih sederhana lagi sebanyak 6 halaman.

Akhirnya, buku ini direkomendasikan untuk dibaca oleh semua kalangan. Bukan hanya dibaca oleh pemerintah dan masyarakat yang bermukim di Bandung saja. Melainkan juga patut dibaca oleh seluruh warga Indonesia untuk mengetahui potret negeri yang katanya melimpah ruah Sumber Daya Alamnya.  Buku seperti ini penting bagi kita hari ini, bukan hanya karena ditulis dengan bagus, namun juga untuk lebih menyadari apa jadinya jika hak asasi atas akses terhadap air diprivatisasi dan dikuasai segelintir orang. Kita ketahui bersama, air adalah salah satu hak asasi manusia.  Hal tersebut sejalan dengan pemikiran seorang aktivis lingkungan hidup, Vandana Shiva yang menjelaskan bahwa hak atas air merupakan hak guna, air boleh dimanfaatkan, tetapi tidak bisa dimiliki. Manusia berhak untuk hidup dan berhak atas sumber daya untuk kelangsungan hidupnya, seperti air.

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s