Mendadak jadi guide

Bismillah…

Di hari libur seperti ini tetap manfaatkan waktu untuk corat-coret. Kali ini saya ingin ng-share beberapa pengalaman saya, dan semoga saja bermanfaat buat teman-teman semua

Well, jadi ceritanya, akhir-akhir ini saya senang berjumpa dengan teman-teman manca negara. Tujuannya sih buat lebih mahir dalam berbahasa inggris, dan tentunya bisa menambah teman…

Dua hal yang menjadi hikmah bagi saya adalah, pertama, saya jadi bisa membedakan gaya pengucapan setiap bule. Bisa membedakan mana eropa dan america style, dan memfamiliarkan pendengaran saya dengan pronouncation mereka yang ngjlimet Ada yang mudah dipahami seperti Sister Jerica asal NY Amerika, namun ada juga yang ngomongnya kayak ba kumur seperti Mr.Arjen asal Belanda…Kedua, saya jadi memahami penggunaan kosakata yang benar. Contoh sederhananya, dulu saya rada bingung bagaimana mengatakan “teman laki-laki”, ternyata hanya dengan mengatakan “friend” bukan “boyfriend” karena itu artinya lebih ke pacar. Jadi saya pernah salah menggunakan kata itu
Juga penggunakan kata “nephew atau niece”. Kalo niece untuk keponakan perempuan, dan nephew untuk keponakan laki-laki. Awalnya saya mngira, niece utk keponakan dari saudara perempuan…
Alhamdulillah ya dapat pelajaran langsung dari para bule.

Lanjut, jadi ceritanya, saya hanya ng-host para bule wanita sedangkan kalo bule laki-laki ta rekomendasikan ke teman yg laki-laki. atau yang bule lalki-laki, hanya saya izinkan untuk menyimpan luggage-nya *Maaf yaaa mas broo

Mengenai cerita pertama, ngehost bule. Sy tdak menyangka bs ngajak pulang Mba Jerica asal Amerika itu ke rumah saya. Awalnya so pasti ragu mau ngehost dia. Tapi sy sdh jelaskan ke dia mengenai kondisi keluarga dan teman-teman saya yang semuanya para jilbaber.

Bagusnya orang bule, mereka lebih terbuka dan tidak basa-basi. Misalnya saja, saat saya ajak makan jerica dan menanyakan apa dia lapar? dia tidak pernah basa-basi untuk bilang iya, dia lapar dan ingin makan. Ya di sini saya jadi banyak tau budaya mereka.

Satu orang yang paling senang saat ketemu bule yaitu ibu saya Jangan kira ibu saya bisa ngomong english, eh dia pake bahasa tubuh untuk komunikasi dengan mba sist Jerica, tapi herannya, antar ibu dan jerica terjalin hubungan yang sangat baik. Sampai2 si mba sist mengatakan “Your mother is funny” Hehe. Bisanya… Hebat ibu bisa menggaet hati jerica dengan masakannya. Alih2 ternyata tempe adalah makanan kesukaan mba Jerica Padahal bagi kami, tempe adalah makanan yang paling amat sederhana saat dihidangkan…

Senangnya bukan kepalang, saat Mba Jerica mendukung list of my dreams yang saya tempel di dinding. Ya salah satunya bisa S2 di America. Dia mengatakan bahwa kampus2 yang saya tulis itu sangat prestigious. Jika saya bisa ke sana, mungkin saya bisa berkunjung juga ke kampung halaman mba Jerica di Albany, NY. Eh saya jadi curcol ke dia soal mimpi2 saya itu:-D
End of the day, dia memberikan surat di secarik kertas yang isinya memotivasi saya untuk reaching my dream. Dia juga memberikan gelang yang ia beli di Nepal sebagai kenang2an…

Oh iya sebetulnya sebelum ng-host mba jerica, saya sudah kebanjiran dapat permintaan untuk ng-host. Tapi sayangnya, rata2 bule laki-laki. Jadinya mereka kebanyakan ta decline atau ta rekomendasikan ke yang lain.

Cerita kedua, saya dapat permintaan untuk ngehost Mr.Arjen asal Belanda. Jadi ceritanya, si Mas bro ini adalah salah satu wanderer yang super menurut saya. Bagaimana tidak, dia keliling dunia hanya menggunakan sepeda. Saya sempat kasihan sama dia. Hehe tapi ternyata itu sudah hobinya yang ia lakoni sejak tahun 2010. Gimana saya tidak iba padanya? Ia menempuh perjalanan ke rumah saya dari Sulawesi selatan hanya pake sepeda Hehe tau lah gimana tantangannya kalo rute itu. Berkelok-kelok, naik-turun gunung, dan banyak jurang.
Katanya seminggu dia melakukan perjalanan dari Sulsel menuju Palu, tapi emang sih dia banyak singgah2. Seperti ke danau poso, ampana, dll.
Ketika tiba di Palu, teman2 saya banyak yang tidak bisa untuk ngehost dia, so dia jadinya cari penginapan.

Jadi ceritanya, dia hanya nitip sepeda dan luggage-nya. takjub saya, barang bawaannya banyak banget. Dalam hati saya bergumam “Apa gak keberatan bawa barang sebanyak itu?” Mana rute ke rumah saya sepertinya 20 derajat pendakiannya.

End of the day, si penyepeda dunia itu udah 2 bulan gak kembali mengambil barang2nya Awalnya sih, pas berpisah dia ingin ke KL untuk memperpanjang visanya. tapi alih-alih ternyata dia sekarang sedang berbisnis di Jakarta
Saya belum tahu-menahu dan belum tanya menanya soal keberlanjutannya membolang pake sepeda. Lalu rencananya, dia mau lanjut ke gorontalo lalu ke Ambon, dan ke Maluku. Tapi who knows? Saya belum tahu menahu juga soal kenapa ia tertarik berbisnis di Indo, dan bisnis apa yang dia lakoni sekarang.

Well, dari perjumpaan saya dengan mba sist Jerica,dan mas bro Arjen, saya mendapatkan satu pelajaran lagi bahwa saya lebih familiar dengan american language style, dibanding gaya bahasanya orang eropa. Mungkin karena guru-guru di sekolah lebih mengajarkan gaya amerika, jadi lebih paham pronouncation amerika. Saya lebih connect kalo berbicara dengan mba sist Jerica, dibanding dengan si Arjen yang orang belanda itu. Kalo yang sama si belanda itu saya lebih banyak mengatakan “pardon” atau “could you repeat again?” atau “Sorry”…
Satu lagi… baru saya tahu ternyata keduanya penyuka berat tempe
Oh iya satu lagi,, yang namanya backpacker, meski dia bule jangan harap dia suka menghambur-hambur uang. Tepatnya kalo saya bilang, mereka terkesan “pelit” Hehe…Mereka hemat dan rada perhitungan.
Saya sih tidak pernah meminta uang mereka, sebab saya tidak mau terkesan jelek di mata mereka. Sebabnya juga, orang2 indo sperti polisi dan antek2nya terkesan suka porotin mereka Mereka sangat tidak suka dengan itu. Saya hanya ingin menjadi icon bahwa kehidupan seorang muslim tuh begini, suka membantu sesama tanpa pamrih, humble, dan “kami bukan TERORIS”
saya rasa sombiosis mutualismenya itu terletak pada, saya bisa belajar english langsung dari native, sedang para bule itu dapat host dan guide. *tapi saya masih amatiran jadi guide Hehe… masih belajar…
semuanya bersifat free apa yang didapatkan…

Another story, saya juga dapat permintaan untuk ng-host bule perempuan asal Jerman. Dia rencana datang tanggal 3 – 8 agustus 2014 ini. Tapi belum bisa saya accept permintaannya coz d tanggal itu saya belum bisa pastikan apa saya akan di Palu atau tidak. Rencana sih mau ke Pare, atau ke luwuk See later…

Well, sekian dulu ceritanya,
to be continued

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s