Ketika Anak Seorang Penjual Nasi Kuning “Pensiun” Menjadi Scholarship Hunter

Dear temans,
ini esai saya yang saya tulis untuk dibukukan di Antologi para penerima LPDP periode 1 tahun 2016. Nantinya akan disebar luaskan dalam bentuk ebook secara gratis. Saya kabarin deh kalo sudah selesai diususun ebooknya.
Oiya, aslinya esai ini saya mau nuliskan panjang lebar, eh ternyata dibatasi cuma 700 kata. Terpaksa banyak yang dipangkas😀
tapi tenang kawan, nanti bakalan ada kelanjutannya. Insya Allah…
Well, silahkan dibaca esai saya ini. Semoga bermanfaat…

Isi esai:

Alhamdulillah, One step closer to my dream! Finally, saya pensiun juga dari status pemburu beasiswa (scholarship Hunter). Sungguh saya tak menyangka, saya yang hanya lah anak seorang penjual nasi kuning akan melanjutkan studi S2 ke Monash University, Australia. Ini tentunya tidak terlepas dari doa Ibu dan ayah saya yang tak pernah alpa berdoa kepada sang maha pemilik rezeki, Allah SWT.

Bercerita sedikit tentang ayah dan Ibu saya. Bagi saya mereka adalah orangtua sekaligus guru kehidupan nomor satu di dunia. Mereka tak pernah sedikit pun mengecilkan harapan dan mimpi-mimpi saya, meskipun yang mereka bisa berikan hanya lah sekedar doa dan motivasi. Ayah pernah berpesan kepada saya dan kakak, “Ayah tidak seperti ayah kebanyakan yang punya harta waris yang bisa dibagi-bagi untuk anak-anaknya. Yang Ayah bisa lakukan untuk kalian hanya lah berdoa dan selalu menyemangati kalian agar semangat dalam menuntut ilmu. Ilmu itu lah harta waris terbaik kalian yang tidak bisa diperebutkan”. Kalimat ayah itu lah yang senantiasa terngiang setiap detik tatkala saya berjuang untuk sebuah ilmu. Selain itu, juga motivasi dari Anies Baswedan, “Lokasi lahir boleh dimana saja, tapi lokasi mimpi, harus di langit”. Ya, intinya kita harus punya mimpi yang besar meskipun dari segi ekonomi kita pas-pasan.

Alhamdulillah, melalui jalur Afirmasi Prestasi Nasional/Internasional, saya berhasil mendapatkan beasiswa LPDP. Di awal esai ini, saya mengungkit tentang “pensiun” dari status Scholarship Hunter. Ya benar kawan, ini adalah salah satu bentuk kesyukuran yang amat luar biasa hingga saya menyebutkan kata “pensiun”. Sebab, tahu kah kawan bahwa saya sudah berkali-kali gagal mendapatkan beasiswa S2 untuk ke Luar Negeri. Saya sudah 5 kali gagal di jenis beasiswa berbeda. Saya juga sudah pernah merasakan gagal 1 kali tahap administrasi dan 1 kali tahap wawancara di LPDP. Sedih? Iya. Kecewa? Sudah pasti. Tapi saya tak pernah lelah memupuk mimpi-mimpi saya untuk bisa sekolah di Luar Negeri yang sudah saya bangun sejak SMP. Bagi saya, kalau bermimpi untuk sesuatu yang besar, maka harus melakukan usaha-usaha yang besar juga. Gagal bukan lah hambatan, justru menjadi kekuatan untuk berjuang lebih keras. Ketika gagal menghampiri, saya pun berpikir positif, “Bukan mimpi saya yang terlalu tinggi, tapi mungkin usaha saya yang kurang maksimal”, ucap saya untuk memotivasi diri sendiri. Saya teringat kata-kata sahabat saya yang sudah lebih dulu gol LPDP, “Ini hanya masalah waktu saja Puji, cepat atau lambat kamu juga pasti bisa”.

Pada saat second attempt di LPDP, jujur, saya sudah tawakkal dengan keputusan yang Allah berikan nantinya. Saya teringat nasehat dari sahabat saya yang lain yang kurang lebih seperti ini, “Jangan minta untuk lolos LPDP, tapi minta lah kepada Allah SWT agar dirimu diberikan hasil yang terbaik.”. Saya pun memperbaiki niat dan segala kekurangan saat wawancara LPDP di percobaan pertama. Berikut ini beberapa tips wawancara dari saya yang saya terapkan di percobaan kedua LPDP.

Pertama, saat saya merasa was-was tatkala mau menghadapi wawancara, saya perbanyak membaca doa robithoh dan doa Nabi Yunus. Saya mengajurkan anda untuk menerapkannya juga. Jujur, saya merasakan adanya pertolongan Allah saat itu. Doa itu berhasil menenangkan saya dan membuat pewawancara lebih friendly terhadap saya.

Kedua, sampaikan jawaban-jawaban wawancara dengan penuh kejujuran, humble, optimis, yakin, dan percaya diri. Selalu jaga pandangan mata tertuju pada penanya, dan sesekali memandang pewawancara yang lain. Ingat, lirikan mata jangan terlalu banyak melirik ke kiri atas dan ke bawah, sebab itu menandakan keraguan, kebohongan dan ketidak percayaan diri.

Ketiga, saat wawancara, jangan lupa untuk memaparkan dan lebih menekankan kontribusi kita untuk Indonesia setelah studi. Jangan terlalu banyak “keakuan-nya”. Tak perlu terlalu “wah” sekali yang seolah tidak rasional untuk dilakukan dalam waktu cepat dan jangka pendek setelah studi. Rasa-rasanya jauh lebih baik ide sederhana, tapi dapat langsung terimplementasi di masyarakat.

Keempat, perkuat argumen di rencana studi. Jika pewawancara bertanya tentang “mengapa kamu kuliah di jurusan X di kampus Y?”. Bagi saya jawaban terbaik adalah sebutkan apa penting/relevannya antara mata kuliah (silabus) yang akan dipelajari dengan karir ke depan nanti. Juga bisa disebutkan fasilitas dan kualitas dosen di sana sangat bagus.

Kelima, jika selama wawancara, anda merasa kurang mengeksplor diri atau ada beberapa hal yang kurang tersampaikan. Anda bisa memberikan closing statement di akhir wawancara. Di sini secara tidak langsung akan terlihat kesungguhan anda untuk studi lanjut dan perjuangan anda dalam melamar beasiswa LPDP.

5 thoughts on “Ketika Anak Seorang Penjual Nasi Kuning “Pensiun” Menjadi Scholarship Hunter

  1. Masya Allah Teh, barakallah🙂

    Kapan berangkat? Semoga bisa post tulisan lebih banyak tentang kunci sukses dapet LPDP🙂

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s