LPDP Love Story; My Second Attempt to Defeat LPDP Scholarship

Disclaimer:
1) Tulisan ini amat bersifat personal berdasarkan pengalaman pribadi penulis, tidak mewakili instansi manapun, dan satu lagi, bukan merupakan tips and tricks baku yang apabila dibaca dan diikuti maka dipastikan lolos beasiswa LPDP.
2) Tulisan ini bukan bertujuan Show-off, tapi niatnya agar pembaca dapat terinspirasi dan tercerahkan🙂

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Wr.Wb, dan salam sejahtera untuk kita semua. Apa kabar teman-teman se-Indonesia? Gimana semangatnya yang ada di grup sahabat beasiswa Palu? Pertama-tama terima kasih kepada teman-teman yang sudah memberikan saya kesempatan untuk berbagi mengenai suka duka dalam mengejar beasiswa khususnya beasiswa LPDP.

Oke sebaiknya teman-teman duduk dalam posisi yang menyenangkan, dan alangkah baiknya sambil ditemani teh/kopi/snack dalam membaca cerita dari saya. Hehe…Usahakan jangan dilangkahi satu kalimat pun, karena infonya saling kait-mengait. Hehe…

1) BACKGROUND DIRI

Perkenalkan nama saya Pujiati Sari. Biasa dipanggil Puji. Saya hanyalah seorang anak yang suka bermimpi, dan berupaya untuk merealisasikan mimpi-mimpi saya seusai tidur😀

Saya adalah anak ke-6 dari 7 bersaudara (*Banyak ya😀 ). Dengan formasi; 6 perempuan dan 1 laki-laki (bungsu). Suku saya sunda, namun dapat dikatakan saya adalah orang Palu, sebab sejak saya berumur 5 tahun, saya bersama keluarga bertransmigrasi dari Tg.Priuk Jakarta ke Palu. Kerasnya kota Jakarta membuat kami harus berhijrah ke Palu, yang pada masa itu Palu begitu gersang dan sangat kurang transportasi umum T_T Hijrah ini, bagi saya adalah suatu nikmat yang luar biasa, sebab Alhamdulillah saya bisa mengenyam pendidikan hingga S1. Saya amat bersyukur, karena sepupu-sepupu saya yang ada di jawa, rata-rata putus sekolah dan hanya tamatan SD/SMP.

Saya menamatkan SD saya di SDN 3 Tondo, melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 19 Palu. Kemudian sekolah setahun di SMA Negeri 1 Mamosalato (Bungku Utara), dan dilanjutkan 2 tahun berikutnya di SMA Negeri 5 Palu. Nah, di kelas 3 SMA ini saya bertemu dengan salah satu Guru Kehidupan saya😀. Sosok Guru inspiratif nan prestatif, bernama Pak Asri Djalil. Beliau yang mengajarkan saya bagaimana menjadi penulis. Juga Kakak saya, Yuliana Sari, dia yang suka membuat saya iri dengan prestasi-prestasinya. Hingga akhirnya, membuat saya “panas” dan berjuang juga. Saat itu saya berpikir, bagaimana bisa lulus dari SMAN 5 Palu dengan meninggalkan kesan yang amat baik dan mengharumkan nama sekolah. Dan Alhamdulillah, saat itu saya berhasil menjadi pemenang pertama lomba menulis esai tentang guru di hari pendidikan Nasional. Lomba itu diselenggarakan oleh Koran Harian Radar Sulteng yang berhadiah Laptop. Dan yang luar biasanya, tulisan yang teman-teman baca ini hasil ketikan dari laptop jadul saya loh, Hehe. Laptop ini lah yang menemani saya dalam menelurkan tulisan-tulisan dan menyelesaikan tugas-tugas kampus.

Tahu kah teman? Pengalaman mengikuti lomba menulis itu secara tidak langsung telah menumbuhkan semangat dan jiwa petarung pada diri saya. Ini juga hasil penjejalan kak Yuli😀 Tapi ini juga buah dari kesadaran saya pribadi, bahwa orang tua saya yang berpenghasilan pas-pasan yang mana tak pernah satu pun memberikan barang mewah buat saya dan kakak. Hiks… dan sebenarnya malu juga minta sama orang tua, untuk makan saja susah, apalagi untuk beli barang-barang mewah. Alhasil, niat awal saya mengikuti lomba-lomba adalah untuk bisa mendapatkan hadiah/uangnya. Iseng saja, seorang dosen saya pernah nyeletuk Kompetisi/lomba bagi Puji dan Yuli itu adalah sumber penghasilan. Kalo udah lulus kuliah, sumber penghasilannya bakalan berkurang | hehe ngakak.

Oiya satu hal, pengalaman mengikuti lomba juga membuat saya kadang-kadang iri melihat orang lain berprestasi, dan berpikir bahwa “saya harus lebih hebat dari dia”. Jadi, jangan heran kalau teman-teman lihat saya ikut ini dan itu, atau saya ada dimana-mana, sebab spontan saja mata saya menjadi ijo (*lampu kali😀 ) kalau melihat info lomba/kompetisi. Hehe…

Namun, seiring berjalannya waktu, niat saya yang terkesan materialistis itu perlahan tapi pasti mulai saya perbaiki. Saya berusaha niat lillahita’ala, niatnya untuk belajar dan untuk kebermanfaatan in long life. Dan saya juga ingin buktikan ke orang lain bahwa muslim/muslimah itu juga bisa berprestasi.
Oiya saya menamatkan pendidikan S1 saya di Universitas Tadulako Palu, program studi Pendidikan Matematika (*Jangan tanyakan ke saya angkatan tahun berapa dan lulus tahun berapa ya, sebab kita masih seumuran). Hehe.

Alhamdulillah selama 4 tahun kuliah di UNTAD, saya mendapatkan beasiswa EKA TJIPTA FOUNDATION dari PT.Sinarmas. Meskipun saya tinggal sama ortu, tapi bisa dibilang saya mandiri kalo dalam hal finansial. Rasa2nya malu deh, udah gede masih minta ke ortu. Alhasil, meskipun saya dapat beasiswa, untuk memenuhi kebutuhan yang lainnya, saya banyak ikut lomba2, ngajar privat dan juga kerja part time di Media Tadulako.

Sejak SD-SMA, saya merasa minim softskill khususnya soft skill berbau kepemimpinan. Selain itu, dulunya sebelum kuliah, saya berasa pendiam dan gak punya temen gitu. Bawaannya bad mood mulu. Hehe…Olehnya itu, saat kuliah lah adalah masa yang tepat untuk mencari jati diri dan meningkatkan potensi diri dalam hal apa pun. Saya berpikir; “selagi muda, manfaatkan semua kesempatan yang ada. Tingkatkan potensi diri sesuai passion”. Bagi saya juga, Kampus adalah multifungsi place, dimana setiap mahasiswa bisa menjadi apa saja yg dia mau. Mau jadi politikus dan layaknya pemimpin di pemerintahan, bisa bergabung di BEM kampus. Mau jadi penulis/peneliti/reporter, bisa bergabung di lembaga penalaran/penelitian/pers. Mau mendalami agama atau berkumpul dgn org2 agamis, bs join Lembaga Dakwah Kampus (LDK/taman pengajian). Dan berbagai lembaga kemahasiswaan lainnya.
Jadi amat sangat sayang jika waktu kuliah cuma sibuk di perkuliahan saja. (Kupu2, kuliah-pulang). Amat disarankan buat teman2 yg msh berstatus mahasiswa untuk gabung di minimal 1 organisasi di kampusnya, dan bisa berpartisipasi di event nasional/internasional. Nah, selain ilmu yang kita dapat, yang tak kalah penting adalah link/jaringan, sebab dari situ kita tetap bisa keep in touch.

Karena saat SMA dulu saya jarang berorganisasi, olehnya itu pas kuliah, saya mengikuti banyak organisasi. Alhasil, saya tergabung dalam organisasi LDK UPIM selama 3 tahun, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Matematika (HIMAPTIKA), Forum Lingkar Pena (FLP) Sulteng, Unit Kegiatan Penalaran Mahasiswa (UKPM), Taman Pengajian Darul Ulum FKIP Untad, dan beberapa komunitas daerah. Saya amat bersyukur dilingkari oleh teman-teman yang relijius, positive thinking, cerdas, dan prestatif. Emang betul, teman itu bisa menentukan nasib kita akan dibawa kemana, apa ke hal-hal buruk atau ke hal-hal baik. Olehnya itu, adik-adik yang masih kuliah saat ini, perlu berhati-hati dalam berkecimplung di organisasi. Jangan sampai salah pilih. Promosi: baiknya pilih UPIM dan FLP. Hehe…

Dulu semester pertama kuliah, saya akui saya berstatus mahasiswa KUPU-KUPU dengan IP 3,55. Tapi menurut saya semua itu tidak ada artinya , jika tidak diimbangi dengan peningkatan softskill yang lain, yang mostly bisa kita dapatkan di organisasi dan event2…(*ini menurut saya ya, tidak berlaku untuk semua orang. Hehe). Tapi nasehat dari Menteri Pendidikan, Bapak Anies Baswedan amat berarti bagi saya, “IPK yang tinggi hanya mengantarkan anda pada proses wawancara kerja tapi nilai kepemimpinan yang tinggi menghantarkan anda dalam mencapai masa depan yang gemilang”.

Semangat bermimpi saya semakin membuncah sejak diperlihatkan oleh teman, sebuah video pembuat jejak tentang mimpi. Ya mungkin kalian mengenalnya, yakni video yang dibuat oleh Danang A.Prabowo, alumni IPB bogor. Saat pertama kali lihat, saya merinding dan bertekad bisa seperti beliau, dan bs membuat video seperti beliau. Sempat berguru sama beliau, baik chat online maupun baca2 tulisan di blognya.
Jika saya down, saya tidak pernah bosan menonton video itu berpuluh2 kali. Entah kenapa bs memberi spirit tuh video. Hehe…

Alhamdulillah selama kuliah ada beberapa kejuaraan kepenulisan dan karya ilmiah yang saya raih. Rejekinya; saya bisa keliling Indonesia, yang mostly gratis. Jangan pikir bahwa untuk dana transportasi, saya minta ke ortu. Sebagian besar ditanggung kampus, dan juga usaha sendiri gimana supaya bisa dapat bantuan dana trnasportasi.
Dan beberapa pula juga agenda yang saya ikuti sebagai delegasi dari organisasi kampus yg saya ikuti.

Ada beberapa kejuaraan lomba yg saya raih pas kuliah, tapi 2 prestasi utama saya saat kuliah yaitu alhamdulillah bisa menjadi salah satu speaker di kegiatan konferens (ISIC-Indonesian Scholar International Convention) di King’s College London, UK selama 3 hari. Kegiatan itu diselenggarakan oleh PPI UK. Saat itu saya dan Andi Rizky Hardiansyah delegasi dari Untad. Seluruh biaya ditanggung pihak UNTAD (*Sungguh, sy sangat berhutang budi pada kampus T_T ). Then, prestasi kedua yaitu alhamdulillah saya bisa meraih juara favorit pada event bergengsi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PKM-PIMNAS) di Universitas Mahasaraswati, Bali pada Juli 2010. Fortunately, saat itu saya berpartner bersama Ka Yuli, dan Supriadi. Kemudian di tahun 2012 saya juga berhasil tembus PIMNAS yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, tapi unfortunately kami pulang tidak membawa piala. Hehe… Tapi sebetulnya, project game yojo itu lah yang berhasil menghantarkan kami bisa ikut ISIC London dan menang di ICN 2014. Berawal dari Game Yojo itu juga sebetulnya, Andi Rizky dkk dipercayai oleh Kemendagri Palu untuk buat start up Banua Mentor.

Satu pelajaran yang bisa dipetik:
Perlu adanya keseimbangan antara akademik dan non akademik. Bagi seorang pemburu beasiswa usahakan pertahankan IPK minimal 3.00. | *Oiya, FYI, IPK saya 3,3…hehe… Dari segi akademik, saya akui bahwa akademik saya tidak begitu memuaskan, akan tetapi sesungguhnya saya belajar banyak dan mendapatkan lebih dari sekedar saya menimba ilmu di jurusan pendidikan matematika. Saya belajar bagaimana bangkit dari kegagalan, belajar bagaimana memotivasi diri, tahan banting, nilai-nilai kepemimpinan, amanah, dan lain sebagainya. Itu lah nilai-nilai kehidupan yang amat penting bagi saya.

2) JATUH BANGUN SEBAGAI SCHOLARSHIP HUNTER SEJATI

Jauh sebelum daftar LPDP, sebetulnya saya sudah berkali-kali gagal mendaftar beasiswa. Pertama saya gagal mendapatkan beasiswa IELSP (beasiswa pertukaran mahasiswa untuk belajar bahasa inggris ke Amerika). Hal terberat saya saat itu adalah menaklukan TOEFL. Bagi anak Palu, untuk mendapatkan Toefl minimal 450 saja teramat sulit, sebab fasilitas kota atau kampus kurang dukung. Misal dosen jarang gunakan literatur berbahasa inggris saat perkuliahan. Saya pun merasa kesulitan belajar TOEFL. Jika dihitung2, mungkin saya sudah mengikuti 3 kali tes TOEFL agar bisa daftar IELSP. Selain beasiswa IELSP, saya juga GAGAL memperoleh beasiswa AAS, beasiswa Polandia, dan beasiswa IELTS preparation Dompet Dhuafa.

Mengenai beasiswa LPDP. Awal saya mengenalnya di tahun 2013, ketika ada seorang teman di PIMNAS lalu, gol LPDP dan dia melanjutkan pendidikan di Belgia. Wah keren tuh. Pas cek panduan, yang ada baru beasiswa LPDP jenis Reguler (Beasiswa Pendidikan Master dan Doktoral). Dan saya merasa ciut ketika melihat skor TOEFL ITP yang dibutuhkan minimal 550.

Selang beberapa bulan, muncul lah jenis beasiswa lain dari LPDP, yakni LPDP afirmasi. Unluckily, saya bukan berasal dari daerah 3T. Lewat dah…. T_T
Dan saya pun melupakan beasiswa LPDP, dan mencoba fokus menyelesaikan skripsi saya. Lantas setelah Yudisium, bulan oktober 2014 saya ke Pare. *setelah nabung 2 tahunan. Haha…Emang sih, pare itu salah satu destinasi impian saya sejak 2010. Alhamdulillah terwujud di tahun 2014. Saya stay di Pare selama 3 bulan. Bulan pertama fokus di speaking, writing and pronunciation di Mr.Bob, Webster dan Global English Pare. Bulan kedua fokus belajar TOEFL ITP di Global English. Bulan ketiga saya mendalami IELTS di English studio.

Lanjut, setelah lulus kuliah S1, sengaja saya gak nyari kerja di instansi yang fulltime. Saya hanya ngajar privat. Sengaja saya lakukan hal itu, supaya saya bisa fokus dengan target selanjutnya; ngejar beasiswa. Boleh dikata, setelah lulus, saya berstatus sebagai scholarship hunter. Untuk menjadi SH sejati, saya banyak belajar dari para kontributor tulisan di Motivasibeasiswa.org.

Ada ratusan cerita di situ tentang suka duka dan perjuangan dalam mengejar beasiswa. Saya juga adalah blog readernya Mas Budi Waluyo, dan Pak I Made Andi Arsana (*Kalo baca blognya Pak I Made, kalian akan diajari bagaimana menjadi Scholarship hunter yang gak cengeng, yang gak banyak alasan, dan lebih loyal terhadap impian dalam mengejar beasiswa).

3) DI BALIK HAPPY ENDING STORY MENAKLUKAN LPDP

Well, lanjut…selang beberapa bulan. Kabar baik tentang LPDP kembali saya dengar. Saya mendapatkan info bahwa LPDP telah membuka LPDP jalur afirmasi, secara spesifik terbagi menjadi 5 jenis;
1)alumni sekolahnya dari 3T (SD-SMA…minimal di 2 tingkatan skolah)
2) bekerja di daerah 3T (pengabdian di daerah 3T) min.3 thn.
3) alumni bidik misi. Syarat wajib: IPK >3,5
4) miskin berprestasi. Syarat wajib: IPK >3,5 dan gaji ortu < juta, dan jika dibagi dengan jumlah anggota keluarga, masing2 anggota memenuhi kebutuhannya maksimal 750ribu / bulan.
5) Prestasi Nasional/Internasional.

Amat gembiranya tatkala saya mendapati info afirmasi yang jenis kelima itu. Sekembalinya saya dari Pare, saya langsung mengikuti tes TOEFL ITP di ELC Palu. Alhamdulillah skor saya saat itu 507. Gak begitu tinggi, tapi cukup lah untuk mendaftar beasiswa AFIRMASI. Kenapa saya keukeh harus daftar dan diterima di jenis beasiswa ini? Karena kelebihannya adalah syarat minimal TOEFL ITPnya hanya 400, dan penerima beasiswa ini akan mendapatkan pelatihan dan tes IELTS secara gratis maksimal selama 1 tahun.

Juni 2015. Saya mengikuti seleksi LPDP afirmasi LN dengan tujuan kampus University of Minnesota USA, jurusan Mathematics Education. But, unfortunately, saat itu saya belum berjodoh dengan LPDP. | Mungkin Allah sedang mempunyai rencana lain buat saya. Edisi 5 ransel saat itu terdiri dari; Kak Dika, Nurtria, Witno, Fiki, dan saya. Cuma saya dan Ka Dika yang tidak gol. Hiks banget T_T
Sedih pasti iya, kecewa? Saya mau kecewa sama siapa? Hehe Seharian saya sedih, tapi gak begitu sedih amat kayak teman-teman saya yang lain yang berada di luar Palu. Bagi saya, seorang SHS gak boleh sedih berlama-lama. Cukup sehari aja boleh. Hehe. Di hari-hari berikutnya pun saya menganalisa dan merenung apa kekurangan/kelemahan saya selama wawancara.

Hasilnya:
1) Jawaban saya kurang akademik, dan short sentences
2) Saya belum siap wawancara. Saya kurang latihan untuk jawaban-jawaban wawancara saya. Jadinya terkesan menghafal jawaban dan tidak natural
3) Niat saya untuk study ke LN, belum lillahita’ala. Belum betul-betul niat berkontribusi untuk Indonesia

Nah di kegagalan saya itu, Allah SWT dengan amat baik kepada saya dengan menghadiahkan saya; lolos di program JENESYS. Alhamdulillah Desember 2015, saya bersama 9 teman dari Indonesia berhasil mengalahkan 2000 pendaftar lainnya se-Indonesia. Dan saat saat di Jepang, kami berjumpa dengan 100 pemuda/i lainnya se-ASEAN dan Timor Leste. Saya menghabiskan waktu selama 10 hari di Tokyo, dan Hiroshima. Bagi saya, Jepang adalah negara yang amat kaya dengan budaya juga, but satu hal yang saya tidak suka adalah makanannya yang serba manis dan mentah. Kontras banget dengan saya yang suka dengan sambel yang amat pedas. Hehe…

Januari 2016. Hanya ada 2 target bagi saya, pertama lolos LPDP. Kedua, kerja fulltime di instansi. Berasa hopeless sebetulnya bisa lolos LPDP, berasa trauma gagal lagi. Olehnya itu, saya Cuma berdoa kepada sang maha pemilik rejeki, “Ya Allah, jika beasiswa LPDP itu baik untukku, agamaku, bangsa dan negaraku, maka mudahkan lah prosesnya. Berikan lah hasil terbaik. Hamba percaya bahwa setiap keputusanmu adalah takdir terbaik buatku”.

Sama dengan nasehat seorang Teman, Soma Salim, “Jangan minta kepada Allah untuk diloloskan, tapi mintalah untuk diberikan hasil terbaik. Rejeki pasti gak kemana. Perbaiki saja niat”… Juga nasehat dari Fiki Ferianto, “Ini hanya persoalan waktu saja Puji. Cepat atau lambat, kamu pasti juga bisa lolos LPDP”.

Sampai akhirnya, saya pun berpikir bahwa “jika saya gagal LPDP lagi, pada percobaan kedua, sungguh amat sangat tidak berarti prestasi-prestasi yang saya miliki selama ini”. Saya pun tak henti-hentinya intropeksi diri, merenung, dan komunikasi dengan awardee LPDP yang saya kenal. Saya minta tips-tipsnya untuk wawancara.

Oiya lanjut, pada Januari 2016 saya melengkapi berkas LPDP saya. Ada beberapa isi esai yang saya percantik lagi. Pada percobaan kedua, saya mengajukan kampus Monash University Australia. Jurusan yang saya ajukan adalah Expert Teaching Practice. Kenapa saya ajukan kampus Australia? Agar saya mudah untuk memiliki LOA, sebab kampus Amerika baru bisa dapat LOA kalo udah punya skor IELTS dan GRE. Bagi saya, LOA adalah salah satu senjata yang kalo bisa dibawa pas wawancara LPDP.

Berkas-berkas untuk program Afirmasi Prestasi, kurang lebih sama dengan yang jenis regular. Cuma 1 dokumen tambahannya adalah: Punya sertifikat kejuaran nasional/internasional. Kalo pada priode 1 saya lalu, belum diharuskan sertifikat yang ada juaranya. Dulu masih bisa sertifikat alumni pertukaran pemuda, volunteer nasional/internasional, dll…tapi sekarang lebih ketat. Denger-denger sih, sudah ada kolom untuk juara, misal juara 1 – 3, atau juara harapan. *Saya belum tahu untuk seleksi priode 2 2016 dan seterusnya, apa wajib harus juara,.. atau hanya sekedar finalis, masih bisa apa tidak.

Kalau dihitung, piagam keikutsertaan seminar/training yang saya ikuti sekitar berjumlah 50 lembar. Hehe… Belum lagi sertifikat kejuaraan. Tapi tidak semua piagam itu saya pakai untuk daftar LPDP. Saya hanya memilah yang paling bagus atau berhubungan dengan Sains.

Tanggal 10 Februari 2016 pengumuman yang lolos berkas LPDP. Alhamdulillah saya dinyatakan lolos berkas. Setelah dinyatakan lolos berkas, saya lebih berfokus untuk latihan wawancara. Jujur, saya tidak belajar untuk esai on the spot, dan LGD. Sebab kenapa? Karena saya tahu bahwa skor untuk wawancara itu 70%, jauh lebih banyak, ketimbang LGD dan esai on the spot, yang masing-masing hanya 15%. Yang saya lakukan untuk LGD dan Esai OTS adalah; saya hanya rajin membaca berita nasional aja.

Tips untuk seleksi administrasi:
1) Usahakan ada temen yang bisa jadi proofreader untuk esai dan berkas-berkas yang di-upload di website, sebab tidak sedikit teman saya yang gagal hanya karena salah memasukan dokumen yang di-upload. Juga esai, banyak yang gagal di tahap ini karena struktur isi esainya tidak terorganisasi dengan baik (muter-muter aja). Ada juga yang gak gol karena lupa menuliskan kapan bulan dan tahun perkuliahannya di esai. Intinya, cobalah memasukan poin-poin yang diminta LPDP di esai kita. Kemudian minta orang lain untuk membaca dan memberi masukan.
2) Untuk pendaftar ke LN, sebaiknya esai berbahasa inggris.
3) Baca sebaik-baiknya isi panduan. Jangan sampai salah tanggap. Seperti diharuskan tes kesehatan di instansi RS pemerintah. Jangan ke klinik/puskesmas, apalagi ke dukun. Haha…

Percobaan LPDP kedua saya ini, saya beri nama edisi 6 ransel. Yang personilnya terdiri dari; saya, Kak Lastri, Indri, Sita, Kice, dan Ilham. Kami SHS asal Palu. Hehe…

Oke jadi gini, setelah dinyatakan lolos administrasi, pada kandidat LPDP mengikuti serangkaian seleksi substansi. Yang terdiri dari wawancara, LGD, dan Esai OTS. Alhamdulillah, saya menjalani tes itu masing-masing di 3 hari berbeda. Jadinya saya tiap malam bisa belajar dulu untuk tes esok paginya. Satu hal yang membuat saya kaget pada 3-H adalah, saya mengetahui bahwa semua pendaftar yang mengajukan LN, harus berbahasa inggris. Saya mah optimis saja, coz pikirnya lagi pula englishnya orang Indonesia nggak semuanya bagus. Pasti saya ada temen juga. Haha…Saya pun maju perang dengan persiapan kurang lebih 80%. Jauh lebih baik dibanding wawancara LPDP tahun lalu, yang mungkin saja presentase siapnya cuma 60%.

a. Essay on the Spot
Saya mendapati Esai ots sebagai tes seleksi di hari pertama saya. Esai ots ini bisa dikatakan sebagai esai dadakan. Kandidat diberikan waktu selama 30 menit untuk menuliskan idenya. Saya aslinya tegang banget, takut kalo dapat topic yang susah. Hehe…tapi tau lah gaya saya, yang suka calm down seolah tak ada masalah apa pun. Hehe. Untuk belajar esai ots, yang saya persiapkan cuma pola/pattern IELTS task 2. Saya bersyukur , Alhamdulillah, dan mengucapkan bertubi-tubi terima kasih kepada Mr.Eddy dan Kak Tia, tutor di English Studio Pare yang telah mengajarkan saya IELTS, yang meskipun saya belajar di sana cuma sebulan. (*Mohon doanya kawan, Ka Tia saat ini lagi berjuang di LPDP priode 2 2016. Ini percobaan kedua juga. Semoga beliau juga gol LPDP). Aamiin.

Saat itu saya mendapatkan dua tema:

1) tentang bagaimana pemerintah dan universitas mengambil kesempatan emas dalam mengolah bahan bekas, dibandingkan kesempatan itu diserahkan ke industri,
2) Bagaimana pemerintah dan masyarakat mengurangi penggunaan plastik saat berbelanja di pasar tradisional dan modern, agar lingkungan tetap sehat dan bumi tetap terjaga.

Jelas saya akan memilih option kedua. Aslinya, saya tidak baca satu berita pun tentang itu sebagai persiapan esai ots. Beruntung saya, saya sempat denger lewat aja, berlalu lalang dan tak sengaja denger berita itu di TV pas masih di rumah. Itu beberapa hari sebelum ke tempat tes, Makassar.

Asli, saya ngarang bebas. Hehe. Entah benar atau tidak isinya. Hehe…Bagaimana dengan grammar? Hehe sepertinya grammar saya ancur >_< Cuma saya mengambil kesimpulan bahwa; kita tidak perlu pikirkan dulu soal grammar, yang penting solutif aja dulu. Gitu… Lagi pula paling bukan Cuma saya aja yang ancur grammarnya. Hehe *Kalimat pataba saya, supaya optimis. Tapi Alhamdulillah saya bisa membuat menjadi 5 paragraf, kurang lebih kayak IELTS task 2. Paragraf pertama, introduction yang isinya penulis cenderung setuju atau tidak. Paragraf kedua dan ketiga, merupakan 2 ide berbeda, beserta contoh. Yang isinya kenapa setuju dalam pengurangan penggunaan plastik. Paragraf keempat, saran/masukan buat pemerintah dan masyarakat, sedangkan paragraf kelima berisi kesimpulan, paraphrase dari general trend, dan saran/harapan.

b. LGD
LGD di seleksi substansi lpdp itu Leaderless Group Discussion. Yang artinya diskusi grup tanpa yang ada mendominasi.

Nah pas LGD, saya ketemu dengan 6 orang yang hebat-hebat. Ada yang peraih nobel fisika pas SMAnya 😱, yg S1nya di USA. Ada yg udah kemana2 jg, dan punya pengamalan kerja yg luar biasa.

Saat masuk ruangan, kami mendapati dua orang psikilog yang duduk begitu anteng. Berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Mereka pembawaannya sangat tenang. Saat itu seorang psikolog laki2 mempersilahkan kami untuk duduk yang mana kami saling duduk berhadapan. Di depan kami terdapat sebuah meja. | Aura-auranya saya berasa melakukan diskusi internasional di luar negeri. Atmosfernya beda, bertambah dingin pula dengan semilir hembusan AC. Hehe…

Malam sebelumnya saya tidak banyak belajar tema2 LGD. Cuma dengar saja tema-tema yang bakalan muncul. Itu bisa kita dapatkan dari kandidat2 lpdp yg sudah mengikuti LGD di hari sebelumnya. Terkadang ada banyak tema, psikolog akan mengacaknya. Kalo kita agak kepo dengan tema2nya, maka beruntung lah kalo tema itu muncul lagi. *Tips 1 untuk LGD: perlu SKSD ke tmn2 baru. Hehe … Cari tahu kira2 mana aja tema yang bakalan muncul.*

Saat itu kami mendapat tema tentang dinasti politik. Awalnya kita akan diarahkan untuk membaca sebuah berita berbahasa Indonesia selama 5 menit. Kemudian di bawah naskah itu, ada 1 pertanyaan/pernyataan yang harus didiskusikan. Pertanyaannya berbahasa inggris. Dan kami harus berdiskusi full english.

*Dinasti politik*, bagi saya merupakan satu tema yang sebetulnya tidak saya kuasai. Saya cuma tau intinya begini dan begitu. Pada saat LGD, saya hanya mengambil comfortzone aja. Sy menjadi pembicara kelima. *Tips kedua buat teman2; Kalo teman2 sangat menguasai tema, sebaiknya jadilah pembicara pertama atau kedua* Sebab kenapa? Berdasarkan tips dari salah seorang awardee, bahwa bisa jadi penanya penanya dan kedua diberi poin/nilai tinggi karena mereka menginisiasi untuk memulai dan mengarahkan cara berpikir anggota LGD. Tapi ingat, jangan asbun. Hehe sebaiknya opininya berisi/berkualitas…

Akan tetapi, jika teman-teman kurang menguasai tema LGD, sebaiknya kalian memberikan pendapat setuju atau kurang setuju dengan pendapat sebelumnya. Lalu memberikan examples kenapa setuju dan kurang setuju.

Saat itu kami berasa agak kesulitan dalam menyampaikan ide apalagi dalam situasi formal. Alhamdulillah, saya merasa diskusi ataupun debat yang saya dkk lakukan saat English Club SBP 😁, saya akui bahwa cukup membantu dalam proses LGD dan wawancara. Setidaknya bibir saya tidak kaku dalam berbahasa inggris… Masalah grammar? Hehe ~sikat aja~! Yang penting ngomong, solutif dan mencoba PD.

Alhamdulillah proses LGD lancar. Setelah selesai LGD, kami memperkenalkan satu persatu rencana studi kami nantinya. Cukup menyenangkan.

Saya katakan lagi bahwa, karena LGD persentase penilaiannya *hanya* *15%*, saya tidak begitu pusing skor saya di situ. Yang penting saya ngomong dan tidak mendominasi. Hehe..

c. Wawancara

Wawancara adalah hal yang mendebarkan. Apalagi bobotnya sebanyak 70%. Jadi, boleh dikata poin wawancara merupakan penyumbang terbesar dalam kesuksesan kita dalam meraih beasiswa LPDP. Sebagian besar kandidat jatuh poinnya pada seleksi ini. Pada percobaan pertama saya mendaftar LPDP, saya akui bahwa saya jatuh di bagian wawancara. Dan saya pun berhasil mengetahui kekurangan dan kelemahan saya dimana.

Alhamdulillah di saat saya gagal LPDP pada percobaan pertama, teman-teman saya selalu mensupor saya untuk tetap semangat berjuang LPDP. Ada teman-teman edisi 5 ransel. Terutama Om Dika 😁, yang banyak memberikan masukan dan semangat kepada saya. Bagi anak-anak SBP, beliau itu academic advicer kami. Tentunya berbagai usaha yang saya lakukan untuk mengimprove kualitas wawancara saya. Saya berdiskusi di grup LPDP Indonesia Timur bersama Pak Tino. Saya juga menelpon satu persatu teman-teman yang gagal dan berhasil LPDP. Dengan begitu saya bisa mengambil menang merah kenapa seseorang bisa gagal dan berhasil. Saya dkk Palu juga sempat berdiskusi dengan Mam Luna, Founder LN of Indonesia, yang sering mewawancarai calon karyawan/calon mahasiswa yang mau studi ke LN. Tentunya, saya juga mendapatkan tips wawancara dari beliau. Saya latihan wawancara dengan menjawab prediksi pertanyaan yang bakalan muncul. *Satu kesalahan saya pada wawancara percobaan I dulu: Saya terlalu JAUH mempelajari pertanyaan wawancara yang dalam artian bahwa saya terlalu fokus pada pertanyaan yang sulit-sulit, sedangkan pertanyaan yang sederhana/mendasar dan mudah tidak saya kuasai dengan baik. Itu kesalahan saya.*

Seminggu sebelum wawancara di makassar, 25-27 Februari 2016, alhamdulillah saya tergabung dalam grup LINE LPDP seleksi makassar. Saya banyak mendapatkan info berita-berita hot nasional. Jadinya saya tidak bersusah payah lagi googling di internet.

*Bagi saya pribadi, untuk lolos tahap wawancara, kuncinya Cuma 5; 1)Be HUMBLE, 2)Beri jawaban yang akademik, 3) Punya pengalaman organisasi/kerja, 4) Berkontribusi pada daerah sekitar, 5)Perkuat di RENCANA/alasan STUDI.*

Alhamdulillah juga, 2-H sebelum wawancara, kami mendapati tips JITU dalam wawancara. Sempat itu saya mendapati poin-poin penilaian LPDP. *Well, ini suatu keberuntungan juga bagi teman-teman SBP, sebab saya berani beberkan hal ini kepada teman-teman*.

Pertama, *“Alasan lanjut studi”* memiliki bobot yang paling tinggi. 30 atau 35 kalau tidak salah. Terus nantinya bakalan di kali dengan poin *1 – 5*. Nah yang jadi pertanyaan, *bagaimana agar kandidat diberikan poin tinggi, 4 atau 5 gitu?* Teman-teman harus memberikan jawaban yang akademik. INGAT ITU! Jika misal pewawancara bertanya, *mengapa anda ingin melanjutkan studi di kampus A? Mengapa anda memilih jurusan B di kampus C?* Jawaban terbaik menurut saya adalah; teman-teman harus mengaitkan *manfaat/pentingnya mata kuliah atau silabus yang akan dipelajari. Apa pentingnya pelajaran-pelajaran itu untuk karir ke depan, dan apa kaitannya dengan ilmu S1 dulu. Teman-teman juga bisa menambahkan bahwa kualitas/fasilitas kampus seperti dosen-dosennya, akses perpus dan jurnalnya sangat berkualitas.* Misal dosennya semua udah profesor yang rata2 peraih nobel atau aktif menulis jurnal/buku. Misalnya juga, akses jurnal/perpusnya 24 jam dan banyak koleksiannya.
Jika teman-teman memberikan jawaban dengan sekedar mengatakan, “saya memilih kampus A sebab dosen saya merekomendasikan kepada saya untuk memilih kampus itu”, atau alasan yang sekedar personal, misal “ saya memilih kampus itu, karena saya pecinta hollywood, atau korea movie”. Ops! Ada kemungkinan teman-teman *Cuma mendapatkan poin 1 atau 2*. Seriously!

Jika teman-teman memberikan jawaban hanya sekedar berkata, “Saya memilih kampus Harvard karena kampus tersebut berada pada ranking pertama pada urutan kampus terbaik se-dunia”. Kemungkinan teman-teman *cuma mendapatkan poin 3*. Nah, menurut saya pribadi, ketika teman-teman ditanyai pertanyaan seperti itu, pertama-tama kalian harus menyebutkan *manfaatnya silabus/kualitas kampus tersebut. Kemudian alasan mengenai ranking university, bisa dijadikan alasan kedua/ketiga setelah alasan yang urgen yang saya telah sebutkan sebelumnya.*

But honestly, saat saya ditanya seperti itu, jawaban yang saya berikan. In english ya. Cukup Pendek. Sebab saya gak tau mau ngomong apalagi. Hehe..Kurang lebih kalo di-indonesiakan, begini yang saya bilang, *“Saya memilih jurusan Expert Teaching Practice at Monash University karena mata kuliah or silabus yang akan saya pelajari menggabungkan 3 hal penting, yakni teori, praktek dan penelitian. Bagi saya ilmu ini sangat penting, sebab rencana karir saya ke depan, saya ingin menjadi seorang dosen. Jurusan ini juga berhubungan dengan ilmu S1 saya dulu, Mathematics education.”*

***
*Overall, tips ala ~(calon) prof.~ PUJI 😁 untuk wawancara buat teman2. Ini bisa berlaku juga buat beasiswa lainnya.*

*Pertama*, saat saya merasa was-was tatkala mau menghadapi wawancara, saya perbanyak membaca doa robithoh dan doa Nabi Yunus. Saya mengajurkan anda untuk menerapkannya juga. Jujur, saya merasakan adanya pertolongan Allah saat itu. Doa itu berhasil menenangkan saya dan membuat pewawancara lebih friendly terhadap saya.

*Kedua*, sampaikan jawaban-jawaban wawancara dengan penuh kejujuran,humble, optimis, yakin, dan percaya diri. Selalu jaga pandangan mata tertuju pada penanya, dan sesekali memandang pewawancara yang lain. Ingat, lirikan mata jangan terlalu banyak melirik ke kiri atas dan ke bawah, sebab itu menandakan keraguan, kebohongan dan ketidak percayaan diri.

*Ketiga*, saat wawancara, jangan lupa untuk memaparkan dan lebih menekankan kontribusi kita untuk Indonesia setelah studi. Jangan terlalu banyak “keakuan-nya”. Tak perlu terlalu “wah” sekali yang seolah tidak rasional untuk dilakukan dalam waktu cepat dan jangka pendek setelah studi. Rasa-rasanya jauh lebih baik ide sederhana, tapi dapat langsung terimplementasi di masyarakat.

*Keempat*, perkuat argumen di rencana studi. Jika pewawancara bertanya tentang “mengapa kamu kuliah di jurusan X di kampus Y?”. Bagi saya jawaban terbaik adalah sebutkan apa penting/relevannya antara mata kuliah (silabus) yang akan dipelajari dengan karir ke depan nanti. Juga bisa disebutkan fasilitas dan kualitas dosen di sana sangat bagus.

*Kelima*, jika selama wawancara, anda merasa kurang mengeksplor diri atau ada beberapa hal yang kurang tersampaikan. Anda bisa memberikan closing statement di akhir wawancara. Di sini secara tidak langsung akan terlihat kesungguhan anda untuk studi lanjut dan perjuangan anda dalam melamar beasiswa LPDP.

RENCANA DIRI KE DEPAN

Bismillah, sejak kecil saya ingin sekali bisa menciptakan robot. Hehe tapi tidak kesampean. 😅 Tapi setidaknya rencana untuk menjadi seorang peneliti itu tidak surut. Olehnya itu, saya ingin menjadi seorang Proffesor di bidang Pendidikan Matematika. Karir ke depannya, saya ingin menjadi dosen sekaligus peneliti. Dari dulu saya ingin banget bisa melakukan penilitian kolaboratif dengan ilmuan yang ada di luar negeri sana. Ingin sekali punya pengalaman meneliti internasional. Dan kemudian membawa ilmunya ke Indonesia. 🙏🏼

Oiya, di awal pendaftaran LPDP, meski saya mengajukan kampus Monash University, tapi saya berencana ingin pindah ke kampus Amerika. Beberapa kampus impian saya yaitu, Columbia University, Boston University, Purdue University, University of Minnesota, dan Florida University. Itu lah beberapa kampus TOP di Amerika di bidang Pendidikan, khususnya Pendidikan Matematika. Saat ini, status saya belum diterima di kampus manapun. Saya cuma punya LOA Conditional dari Monash University Australia. Nah untuk diterima di kampus USA, saya harus mensubmit dulu skor IELTS dan GRE terlebih dahulu. Itu artinya, intake studi saya diperkirakan sekitar bulan Maret/Juni 2017. ~Ayo siapa yang mau ikut?! *Masuk koper tapi. Hehe…~
Mohon doanya teman2, smoga setiap step untuk menyempurnakan puzzle impian sy, smoga dimudahkan. Aamiin.

HARAPAN DAN MASUKAN BUAT PEMUDA/I INDONESIA

Saya teringat sebuah kalimat motivasi, yang seperti ini isinya *“Keras lah pada dunia, dengan begitu dunia akan lunak padamu”.* Nah saya menyimpulkan bahwa, segala hasil tergantung dari seberapa usaha yang telah kita lakukan. Jika teman-teman merasa terlambat dalam mengejar sesuatu, tetap lah semangat! Sebab tidak ada kata terlambat selagi kita masih hidup. Semoga teman-teman di gup ini bisa menjadi scholarship hunter sejati yang pada akhirnya bisa “pensiun” karena berhasil meraih negeri impiannya masing-masing.

Buat teman-teman yang masih berstatus mahasiswa, teruslah membangun profil diri:mrgreen:. Sebab masa kuliah itu terlalu berharga jika kita hanya berada di dalam ruang kelas terus. Buka lah jendela, dan lihat lah dunia, maka kau dapati bahwa dunia dan seisinya begitu teramat indah. Kalau mengutip kalimat mutiara asal Padang; “Alam takambang jadi guru”. Alam kan menjadi guru yang baik yang mengajarkanmu tentang nilai-nilai kehidupan. Sekian.

Terima kasih buat sahabat2 yang ada di Palu khususnya SBP; Om dika, reni, intan, Satriani, Aras, Yazid, ka Randy, Ka lastri, Ma’ruf. Tmn2 edisi 5 dan 6 ransel. Tmn2 pare juga. Juga siapa saja yg pernah bertemu dengan saya.

Mohon maaf atas kekurangan. Wassalam.

@Yogyakarta selalu istimewa, 13 Mei 2016. 16.47WIB

18 thoughts on “LPDP Love Story; My Second Attempt to Defeat LPDP Scholarship

  1. halo mb puji…sebelumnya kenalin sy ika dr jogja, dulu kita satu ruangan buat presentasi PKM-KC PIMNAS UMY 2012,, masih inget banget ttg game yojo yang mb presentasikan.. kalo ada waktu bolehlah kita kopdaran (lagi di jogja kan?)🙂

  2. Sosok sederhana seperti kak puji membuat saya ingin belajar banyak hal lagi,,,,, masih tesimpan kuat dimemoriku tentang kak puji waktu pamit dari rumahnya kak visya,,,, hhhh naik Grab Taxi nggk jd akhirnya naik bemo (syukur kak visya nya kecil jd muat bertiga hhhh,,,,) ke blok M. Saat itu saya minta kirimin foto2nya kak puji selama dijepang tapi saya lupa minta tanda tangannya kak puji soalnya saya belum kenal profil lengkapnya (hhhh nanti lain kali dahhh,,,,,,,,) Bersyukur Allah memprtemukan saya dengan kak puji, visya & kembarnya visya pasti ada rencana-Nya. Semoga bisa bertemu lagi kak dan kumpul bareng rmhnya visya di jakarta atau jalan2 di kendari (lebih dekat,,, tetanggaan dengan palu)

  3. Interesting story. You have a nice blog, can you please sparate the story into two or more pages?
    It will be more readable.

  4. Terima kasih mbak buat cerita inspiratif. Saya berencana baru mau ikut tahap 3 ini, dan saya dari indonesia timur jugaa (halmahera barat – maluku utara), dan saya ingin bergabung dgn grup lpdp indonesia timur. Apakah saya bisa bergabung dgn grup tersebut, dan bisa dapat informasi dan hal positif yg di diskusikan di dalam. Terima kasih

  5. aaaaa mbakkk. barakallah ya :’) inshaAllah sekarang mau masuk semester 7 dan sedang meramu banyak doa untuk mimpi sekolah lagi di LN :” *mbaca ini mbrebes mili mbaakk.. Allah selalu punya cara buat kembali mompa semangat hamba-hambaNya yang lagi ilang ketiup angin huhuhu T.T

  6. Tulisannya bagus banget mbak puji, sungguh menginspirasi terutama soal Niat untuk Lillahita’alla nya. Semoga suatu saat bisa ketemu share pengalaman kerennya. Semoga mbak puji diberikan kemudahan dan hasil yang terbaik, semangat🙂

  7. Tulisannya keren sungguh menginspirasi mbak Puji, Cerita tentang Niat untuk Lillahita’alla nya Keren, Semoga suatu saat bisa ketemu share pengalamannya. Semoga mbak Puji selalu diberikan kemudahan dan hasil terbaik, semangat🙂

  8. Assalaamu’alaikum, keren Mba Puji … Salut saya sama perjuangan Mba Puji. Semoga terus menebar inspirasi bagi sebanyak-banyaknya pemuda dan pemudi di Indonesia … Allohu Akbar🙂

Mari berceloteh :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s