Kesan Pertama Begitu Menggoda, Selanjutnya Goda Lagi :)

Sampai sekarang, saya masih terbayang dengan penampilan kami saat presentasi laporan kemajuan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Begitu berkesan rasanya, dan saya merasa begitu puas dengan apa yang telah dilakukan oleh teman-teman seperjuangan saya, yaitu Andi kuadrat; Andi fitriawati dan Andi Rizky Hardiansyah.

Presentasi laporan kemajuan PKM dilaksanakan selama dua hari. Mulai hari Senin, 14 Mei hingga 15 Mei 2012. Kegiatan berlangsung di Ruang Senat Rektorat UNTAD. Kami dapat jatah tampil di hari kedua, sekitar pukul 4 sore.

Perasaan dag, dig, dug tentu saja menghampiri. Sebelum presentasi, nafsu makan pun sama sekali tidak ada. Was-was gitu deh. Antara siap dan tidak siap. Namun, itu semua kami coba hilangkan. Dalam hati, saya mencoba membesarkan diri, “Saya pasti bisa! saya pasti bisa! Jika di Bali saya bisa, maka di forum lokal seperti ini, saya juga BISA! BISA! dan BISA!” . Saya mencoba membangun motivasi diri dengan mengucapkan kalimat itu berkali-kali di dalam hati saya.

Baca lebih lanjut

GAME EDUKASI “ADVENTURE OF YOJO” BERBASIS ROLE-PLAYING-GAME (RPG) SEBAGAI SOLUSI PELESTARIAN BUDAYA SULAWESI TENGAH

Indonesia sangat kaya dengan aneka macam kebudayaan daerah, dari Sabang sampai Merauke. Mulai dari bahasa, pakaian adat, budaya dan tradisi, budaya tari-tarian, aneka seni rupa, dan lain sebagainya. Semua itu terkombinasi menjadi bagian yang sangat unik dari kebudayaan nasional itu sendiri. Meski terkenal sebagai negara yang kaya akan kebudayaan, namun banyak masyarakat Indonesia yang tidak merasa bangga dengan kekayaan itu. Mereka lebih bangga dengan budaya asing yang masuk ke Indonesia, seperti budaya Korea dan budaya Jepang yang seolah menjadi kiblat atau trend masa kini. Jika kebanggan pada budaya luar terjadi secara berlebihan dibanding dengan budaya bangsa kita sendiri, itu dapat diartikan bahwa saat ini nasionalisme bangsa  begitu rendah. Jika hal demikian ditambah juga dengan lemahnya perlindungan kebudayaan negeri, maka tak dapat dipungkiri lagi, akan sangat mudahnya bangsa lain untuk mengklaim budaya yang kita miliki sebagai budaya mereka.

Tanda-tanda tergerusnya budaya lokal, telah nampak pula pada masyarakat Sulawesi Tengah. Misalnya, jika ditanya mengenai kebudayaan yang ada di Sulawesi Tengah, banyak kaula muda yang tidak mengetahui wawasan kebudayaan tersebut, akan tetapi jika ditanya tentang budaya luar (misalnya budaya Korea dan Jepang), mereka dengan detailnya menjelaskan hal tersebut.

Baca lebih lanjut