Yogyakarta, my Trial and eror Place

Yogyakarta menjadi pinjakanku sebelum studi ke luar negeri. Apa maksud Tuhan menyuruhku tinggal di sini? Nyaris setahun aku kan ditempa di sini. Ini benar2 trial n eror coz baru kali ini aku ngekos loh. Hihi

    Jauh dari keluarga, komunitas dan teman-temanku. Aku pernah terjatuh di sini. Aku pernah jadi “gelandangan” di sini. Aku pernah nyaris “tersesat” di sini. Gali lobang tutup lobang ku lakoni supaya bisa bertahan di kota pelajar ini. Rela makan tanpa rasa pedas pun aku berlatih di sini (*apa mahal noh cabe…hiks). Ini mungkin cara Tuhan buat aku belajar tidak makan pedas, bahkan nanti mungkin lebih siap untuk ketemu makanan hambar – tanpa rasa.

    Jauh dari orang tua, jauh dari komunitas pengajian, membuat diri ini mungkin tergoda untuk melakukan hal-hal buruk. Lagi-lagi self control itu penting buatku. Harus pintar2 jaga diri, apalagi perempuan. Harus pintar milih sahabat agar bisa saling support satu sama lain.

    Aku mengontrol diriku agar tetap go ahead doing the best in my life. Dengan cara:

    1) I am the next Zakir Naik dan Asma Nadia. Hehe… Aku bayangkan bisa jadi Zakir Naik versi perempuan. Kadang terbesit dalam hati, “katanya ingin jadi seperti zakir naik, kok males2an? ayo belajar!”, “Kamu jangan cengeng, katanya ingin keliling dunia dan bisa nulis buku kayak Mbak Asma Nadia?”, “Kamu jangan buat dosa, katanya pengen jadi kayak Zakir Naik?”, “Rajin belajar bahasa inggris noh, biar bisa berdakwah/memu’alafkan bule2 sono”. 

    Aku target, sebelum ke LN harus khatam video Youtubenya ZN. Materi2 dasar ttg islam yg harus dikuasai. Sebetulnya yg susah itu kosakata yg cocok buat nerangin tentang agama. Dan ini harus dikuasai, selain aku belajar kembali dasar2 mathematics. Hehe

    Dan bahwa aku harus meyakinkan diriku sendiri bahwa aku bisa menjadi lebih baik dari mereka.

    2) Tidak bisa dipungkiri bahwa komunitas itu penting. Di antara banyaknya komunitas, pasti hanya satu atau dua yang sreg di hati. Yang anggota2nya berasa keluarga. Giroh mereka tentu saja mempengaruhi semangatku. Vibrasi sinyal2 positifnya bisa sampe ke hati. Kadang dengan cepatnya bisa mengontrol apa2 yang ku lakukan. Alhamdulillah teman2 LPDP semuanya keren, kece badai. Itu teman2 seimpianku yang bahasa inggrisnya hebat2, dan keilmuan di bidang masing2 yg hebat2 pula.

    Komunitas di Jogja yg ku ikuti juga yaitu liqo yang beranggotakan 9 orang. Pertama kali ketemu mereka berasa kawan lama. Kayak wajah2 wong Palu. Hehe. Mereka begitu tawaddu’, apalagi murabbiku. 

    3)Selalu ingat ortu.

    Sebagai seorang yang masih “magang” jadi anak perantauan, hehe… Mengingat ortu menjadi bagian yang menguatkan tekad kita dalam berjuang. Tentu aku tak ingin mengecewakan sepasang bidadariku itu. Ingin rasanya senantiasa menjadi anak yang paling bisa membahagiakan mreka. Jika cita2 mereka GAGAL untuk menyekolahkan kakak2ku ke jenjang yg lebih tinggi, nah aku yang harus meneruskan estafet itu. Dengan berpendidikan tinggi, aku ingin derajat ortuku meningkat tak hanya di hadapan manusia namun juga di hadapan Allah. Dalam hal ini bukan berarti sombong, tapi banyak hikmah yang bisa didapat kalo aku bisa berpendidikan tinggi. Itu janji Tuhan!

    4)Selalu beristighfar.

    Dalam hidup, kadang rasa prasangka buruk selalu terbesit dalam pikiranku. Dan perasaan2 buruk lainnya. Olehnya itu penting buatku untuk selalu beristighfar, dan memaafkan segala kesalahan/khilaf yg pernah teman2 lakukan. Aku mengikhlaskannya. Juga mengikhlaskan segala takdir ilahi yang TELAH terjadi dalam hidupku. Mungkin beberapa penyesalan pasti ada. Tapi apa manfaatnya coba jika hanya terdiam dengan segala sesal? Tentu nyesek banget. Olehnya itu, aku selalu berdoa “Ya Allah, bantu aku menjadi pribadi yang lebih baik. Jadikan seluruh aktivitasku itu menjadi ibadah/amal soleh”

    Ok well, kata orang, jiwa yang sehat karena raga yang sehat. Tapi aku kurang sepakat dengan itu. Nyatanya banyak orang gila yang sehat raganya kan? Hehe… Jadi menurutku jiwa yang sehat itu lebih penting. Dan jiwa itu berkaitan dengan nilai spiritual, hablumminallah, yakni hubungan kita dengan Allah. So, perkuat doa dan ibadah. Allah itu seneng banget kalo kita merengek ke dia, apalagi kalo tengah malam. Sungguh Allah maha mendengar doa2 kita. YAKIN ITU!
    @Lab Bahasa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. 

    Rabu, 26 April 2017, 

    09.45 am

    Aku dan Lingkaranku

    Alhamdulillah wa syukurillah,
    menjadi salah satu kenikmatan buatku tatkala ku bisa kembali berlingkar di lingkaranku di Palu.

    Alhamdulillah, dua ilmu yang ku dapat hari ini sangat “ngena” banget dengan sikonku saat ini, yakni tentang:
    1) Kata siapa mmbaca AL-Qur’an bikin habis waktu?
    2) ISTIDRAJ (Jebakan berupa limpahan rejeki karena bermaksiat)

    Baca lebih lanjut

    Ukhuwah Ini Begitu Manis

    Subhanallah, walhamdulillah, Allahu akbar…

    Semakin lamanya hidup, ALLAH mengizikanku untuk lebih dekat dengan-Nya. Banyak cara indah yang Allah telah skenariokan dalam hidup ini. Aku tak menyangka bisa merasa berkelebatnya berada di Jalan-Nya. Saat nama-Nya disebut, semakin bergetarnya hati ini. Saat berada dengan teman-teman seperjuangan, terasa indahnya ukhuwah kami. Sungguh tak ada yang lebih nikmat, selain dekat dengan-Nya, dan ukhuwah begitu manis saat berwara-wiri dengan para akhwat seperjuangan.

    Tunggu saat yang tepat, aku akan menuliskannya kawan. Soalnya sekarang aku mau pergi liqo dulu. Berjumpa dengan para jundillah dan murabbi-ku yang cerdas, aktif, n’ ngangenin 😀

    See you, aLL 😉