Pekan Ilmiah Nasional (PIMNAS) XIII In Bali

Vocation In Ternate

Forum Silaturrahim LDK Nasional XV

Hadiah-hadiah kami

Baca lebih lanjut

My Nephew

Baca lebih lanjut

Amazing Kalau Anak Kampung Ketemu Bule

Baca lebih lanjut

Mengajar Dengan Ikhlas; Kunci Sukses Menjadi Guru Teladan

Aku bangga menjadi guru bagi orang lain. Sebuah profesi yang mengharuskanku tuk mengajar dan mendidik seseorang. Di profesi ini lah begitu banyak ilmu yang mengajarkanku tentang banyak hal, diantaranya mengenai ilmu ikhlas. Menurut banyak orang, ilmu ikhlas merupakan salah satu ilmu yang sulit diterapkan. Mungkin dalam mempelajarinya gampang, akan tetapi ketika kita mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari sungguh sangat lah susah.

 

Awal mula aku mempelajari ilmu ikhlas yaitu ketika aku memulai karir sebagai tentor privat Bahasa Inggris. Hmmm, aku menganggap bahwa mengajar itu adalah pekerjaan yang mudah. Tapi ternyata tidaklah demikian. Terkadang rasa jengkel muncul ketika ada siswa yang tidak memperhatikanku saat menjelaskan materi pelajaran, muncul rasa bosan ketika ada siswa yang lama sekali memahami materi yang kujelaskan, dan berbagai jenis masalah lainnya yang kudapatkan. Baca lebih lanjut

Mantra Sakti dalam Menulis

me and my nice Laptop. Alhamdulillah, it was unforgetable experience!

ā€Jangan pikirkan apa yang akan dituliskan, melainkan tulislah apa yang dipikirkan!ā€Ā  Masih teringat jelas dalam pikiranku kalimat perintah ini. Kalimat yang diserukan kepada kami, siswa berseragam putih abu-abu. Tepat pada 3 tahun yang silam, kata-kata itu didengungkan di dalam kelas saat aku dan teman-teman lainnya tengah asyik belajar bahasa Indonesia. Kala itu, kalimat tersebut bagaikan mantra sakti, yang notabene aku hanyalah seorang gadis yang awam dalam menulis. Maksud dari mantra tersebut yakni, ketika menulis jangan sampai kita menunda tuk menulis dikarenakan tidak tahu mau mulai dari mana. Intinya, tulis apa saja yang sedang kita pikirkan.

Seiring berjalannya waktu, saat tahun terakhirku duduk di bangku SMA, aku mulai memikirkan, kontribusi apa yang bisa kulakukan untuk mengharumkan nama sekolahku? Aku memikirkan hal demikian, karena belum pernah aku membanggakan warga sekolah dengan prestasi yang gemilang. Termotivasi dari jejak langkah guru dan kakakku yang menoreh banyak prestasi dalam bidang tulis menulis, akhirnya kugeluti pula dunia ini.

Selang beberapa bulan kemudian, aku memberanikan diri untuk mengikuti ajang kompetisi penulisan artikel, yang hanya bermodalkan nekad dan mantra sakti dari guruku. Lomba ini diselenggarakan oleh salah satu media koran yang ada di kotaku. Alhamdulillah berkat bimbingan guru dan kakakku, akhirnya aku bisa mengirimkan 3 buah artikel untuk diikutsertakan di lomba tersebut.

Berkat ikhtiar, kerja cerdas, dan digenapkan dengan doa, Alhamdulillah akhirnya aku bisa memenangkan lomba penulisan yang kuikuti. Bahkan rencana Allah jauh lebih indah daripada yang kubayangkan sebelumnya. Hal ini karena 2 buah artikelku dinyatakan sebagai artikel terbaik I dan II. Satu hal yang paling aku senangi dalam lomba ini adalah aku bisa mendapatkan laptop dari kejuaran itu. Ā Subhanallah, It was unforgetable experience!

Semoga laptop yang kudapatkan akan setia menemaniku dalam menelurkan banyak karya, untuk mewujudkan mimpiku menjadi seorang penulis handal. Tentunya menjadi penulis yang karyanya mampu menginspirasi dan bermanfaat bagi orang lain.

 

Tidak Ada Kata Terlambat Bagi Seorang Pemimpi

Selama ini kebiasaanku menulis apa saja yang kupikirkan, kurasakan dan kualami, menjadikan hidup ini seakan lebih bermakna. Namun sayangnya, tulisan yang kubuat hanya dikonsumsi secara pribadi. Jarang sekali aku memberanikan diri tuk mempublikasikannya, apalagi tuk dinilai orang lain. Waktu masa sekolah dulu atau awal semester kuliah, aku memang pernah mempublikasikan beberapa tulisanku via majalah dinding, tapi tak sebanyak dengan tulisan yang kutempel pada dinding kamarku. Alhasil, dinding kamarku dipenuhi dengan banyak cerpen dan puisi-puisi hasil karyaku sendiri. Di satu sisi, memang aku senang bisa menelurkan banyak karya, namun di sisi lain, sepertinya ada sesuatu yang kurang dari karya-karyaku itu.

Aku mulai paham kekurangan dari beberapa karyaku. Kekurangan yang kumaksud yaitu, Ā tak pernah aku mempubliksikan tulisanku lagi. Baca lebih lanjut